Sabtu, 16 Juli 2016

Dear Bunda (Pahlawan Terkasih Sepanjang Usia)

Edit Posted by with No comments

 
      Picture by Google - diedit by saya



Dear...,
Pahlawan Terkasih, Bunda


Bunda...,

semakin cekung matamu memeras waktu di seperempat malam. Tangis pilu, harap, doa, dan segala apa yang terbaik untukku selalu engkau panjatkan. Sajadah, tempatmu bercakap dengan Tuhan, kini basah bak rerumputan pagi.

Bunda...,

saat malam dengan kejam mengusir hangat dari tubuhku, engkau melipat hasta, memelukku agar terlelap. Pun saat tangisku tak henti, engkau, dengan sabarmenenangkanku dalam dekapmu.

Oh, Bunda...,

kini aku dewasa. Rasanya kejam sekali saat kugoreskan luka pada batinmu yang lembut itu. Rasanya tega sekali saat aku mengalirkan sungai kecil dari sudut matamu yang teduh. Maafkan anakmu, Bunda....

Bunda...,

pernah ada masa, di mana engkau membisikkan tentang luka kelam masa lalumu. Luka yang paling perih. Engkau merintih dalam sunyi. Meraba waktu yang kian lama kian terasa sempit menghimpit. Biarkan aku mendekapmu, mendamaikan gemuruh dadamu yang hampir remuk karena kecewa. Biarkan yang lalu terbang bersama angin, membawanya ke angkasa, lalu lenyap tersapu mega.

Bunda...,

aku pernah tersesat. Namun, doamu selalu menuntunku pulang. Aku pernah meradang karena cinta. Namun, pelukmu mengobati segala lebam di dada. Dan..., aku ingin selalu begitu. Tak ingin bundaku terganti oleh apapun jua.

Bunda...,

terima kasih atas hangat kasihmu. Terima kasih atas doa-doa panjangmu. Terima kasih atas semesta yang telah engkau beri kepadaku.

Bunda...,

engkau akan selalu di sini, di hati ini. Hingga mentari tak bersinar lagi. Hingga rembulan kembali ke peraduan. Juga hingga lautan mengering.

Bunda...,

pahlawan yang sebenar pahlawan di hidupku. Aku mencintaimu sebanyak detak jantung, sebanyak denyut nadi, sebanyak udara yang kuhirup sepanjang waktu. Tuhan tahu. Semesta tahu. Bahwa aku tak 'kan bisa hidup tanpamu.
Cintaku untukmu Bunda, Bunda, Bunda, dan Ayah...

HK, 101114
alQueen - untuk Bunda
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 16 Juli 2016

Aih, kata orang kebanyakan hari Ibu, tuh ada di tanggal tertentu. Bagi saya, nggak ada tanggal khusus untuk selalu menyatakan kasih dan cinta pada Ibu kita. Masak iya cuma setahun sekali sayangnya. Heheheeh, Nggak terasa waktu bergulir amat deras. Sekarang saya juga udah jadi BUnda dari satu anak perempuan, Ameera, namanya. Perjuangan saat hendak melahirkan itu luar biasa. Bahkan sejak dari hamil kita, para perempuan sudah harus berjuang. Berjuang melawan nyidam, berjuang melawan mual dan morning sickness, berjuang menjauh dari semua hal yang dapat membahayakan si jabang dalam rahim. Memilih apapun jadi serba selektif. Makanan, minuman, obat, dll. Pas trimester akhir rasa cemas melanda. Takut tidak bisa melahirkan normal, takut terjadi sesuatu yang buruk, dsb. Pada saat malam hari kita susah nyari posisi nyaman untuk tidur, belum lagi waktu tidur kita berkurang karena hasrat ingin BAK selalu muncul beberapa jam atau bahkan menit sekali. Yaa Allah..., semoga Engkau luaskan ampunan untuk para Ibu. Aamiin. Jadi pengen mewek (tissue mana tissue). 

Sekian (ngingsrek di pojokan)

Link:  https://www.wattpad.com/myworks/26974735/write/82907820

0 komentar:

Posting Komentar