Enam
Kubuka
lembar baru di fase kehidupanku sebagai siswi kelas dua SMP. Aku
masih tetap satu kelas dengan Egi. Dan kali ini aku duduk sebangku
dengan orang lain, bukan lagi dengan Sasa. Vina adalah teman
sebangkuku sekarang. Sasa, setelah hari kelulusan itu aku belum
mendapat kabar lagi tentangnya. Ada yang bilang dia pindah ke sekolah
kecil dan ada juga yang bilang Sasa berhenti sekolah. Entahlah, masih
simpang siur. Aku pun masih belum menemuinya. Aku masih sedikit kesal
padanya. Tapi, aku tidak bisa membohongi diri kalau aku sebenarnya
rindu.
Hari
berganti hari, minggu berganti minggu. Sekarang, di sekolahku sedang
ribut so'al pemilihan ketua OSIS dan keanggotaannya yang baru.
Maklum, para anggota yang lama, yang sekarang sudah naik ke kelas
tiga sudah tidak bisa terlalu aktif karena harus fokus pada ujian
akhir. Dan, tampuk kepemimpinan harus digantikan oleh
junior-juniornya. Egi adalah salah seorang siswa yang dicalonkan
sebagai ketua OSIS dan juga ada beberapa nama yang tercantum.
Sebagian besar adalah siswa-siswi yang dulu menjabat sebagai
perwakilan kelas. Tapi, berhubung Egi yang sudah dicalonkan aku tidak
masuk hitungan. Kalau pun dicalonkan, aku akan menolak. Aku tidak
pandai berorasi dan berorganisasi. Nanti, yang ada malah aku
mengecewakan sekolah saja.
Hari
ini adalah hari perhitungan dari pemilihan ketua OSIS. Aku ikut
menghadiri rapatnya. Aku ikut menyaksikan wajah cemas Egi dan
calon-calon yang lain. Satu persatu kertas dibuka dan sisebutkan
nama-nama di dalamnya. Egi sekarang berada di urutan kedua setelah
Seto. Tapi, semakin lama Egi semakin naik posisi. Sekarang Egi di
urutan pertama, kertas tinggal tiga gulungan lagi.
"Egi!"
"Seto!"
"Seto!"
Walaupun
yang terakhir Seto mempunyai dua suara. Tapi, Egi tetaplah
pemenangnya. Karena jumlah Egi lebih besar dibanding Seto. Seto harus
puas dengan posisi sebagai wakil 1 dan Rian sebagai wakil 2.
Salah
satu hak sebagai ketua OSIS di sekolah kami adalah dia bebas
menentukan tangan kanan dan kirinya, yaitu sekretaris dan bendahara.
Masing-masing dari jabatan tersebut dipegang oleh dua orang.
"Baiklah."
Egi membuka pidato pertamanya sebagai ketua OSIS. "Terimakasih
kepada semua siswa-siswi yang sudah mempercayakan saya untuk
menggantikan ketua OSIS yang lama, Kak Wira. Saya tidak bisa berjanji
akan lebih baik dari Kak Wira. Karena kalian tahu sendiri Kak Wira
adalah sosok yang mengagumkan. Baik secara akademis, olahraga,
kebijakan dan juga secara penampilan. Hehehe."
Dan,
tiba-tiba aku terkaget setelah pidato Egi selesai dan mengumumkan
siapa-siapa saja yang akan menjadi tangan kanan-kirinya.
"Baik,
saya sudah menimbang-nimbang sebelumnya siapa saja yang akan menjadi
sekretaris dan bendahara OSIS jika saya terpilih. Dan hari ini saya
terpilih. Saya akan langsung mengumumkan nama-nama itu."Bendahara
satu akan dipegang oleh Syamsul dari kelas 2E. Karena saya tahu
Syamsul amanah, Insya Allah dan yang akan jadi wakil Syamsul adalah
Retno dari kelas 2B. Karena reputasi Retno di kelasnya sebagai
bendahara, masuk hitungan." Egi tampak berdehem sebentar, lalu
melanjutkan pidatonya. "Untuk sekretaris, yang akan memegang
kendali dalam pencatatan hasil rapat dan sebagainya adalah Anya dan
Ajeng."
Haaa,
aku?
"Anya
dari kelas 2c dan Ajeng sekelas dengan saya di 2a. Anya akan menjadi
wakil Ajeng."
Aku?
Aku tidak menyangka Egi akan memilihku sebagai sekretarisnya, yang
pertama pula. Entah apa yang jadi bahan pertimbangannya. Dia memang
aneh. Tulisanku tidak bagus dan aku bukan sekretaris yang baik di
kelas.
♔♔♔
Semenjak
aku terpilih menjadi sekretaris OSIS, kesibukanku bertambah. Apalagi
di ekstrakulikuler, aku juga menjabat sebagai ketua umum. Aku
benar-benar sibuk. Ditambah aku masih harus tetap menjadi sekretaris
kelas juga. Aku selalu mencatat pelajaran paling terakhir, karena aku
harus mendahulukan menulis di papan tulis kelas. Terkadang, aku baru
mencatatnya di rumah. Egi kadang datang membantuku mencatat pelajaran
yang tertinggal sembari membahas rapat-rapat selanjutnya. Aku dan Egi
jadi semakin akrab. Walaupun kebiasaan kita beradu mulut tidak juga
hilang. Aku pernah bertengkar hebat dengan Egi karena aku tidak tepat
waktu mengumpulkan laporan rapat OSIS.
"Emang
kemaren kamu kemana? Kemaren, kan, hari Minggu. Apa kamu udah capek
jadi sekretarisku?” Egi membentakku sambil membanting pensil ke
lantai. "Ini sudah dua minggu, kamu belum juga membuatnya?"
lanjutnya.
"Maaf."
Aku hanya bisa bilang demikian.
"Maaf?
Maaf katamu? Aku hampir saja ditampar sama pembina, tau?!"
Aku
menatap Egi. Terkejut dengan apa yang baru saja dia katakan.
Ditampar?
"Dan
itu semua karena aku belain kamu." Egi meluruh, dia terduduk
sambil menutup wajahnya. Sepertinya dia salah bicara.
"Membela?
Aku?"
"Ahh!
Sudahlah...."
Dia
kemudian pergi meninggalkan aku. Teman-teman memandang kami dengan
pandangan yang aneh dan terkejut. Mereka tidak menyangka Egi akan
marah seperti itu. Begitu pun denganku. Aku terkejut dan bingung. Ini
semua memang salahku. Aku kehilangan data-data hasil rapat dua minggu
lalu. Filenya hilang dari komputer. Kata penjaga warnet, sehari
setelah aku mengetik komputer yang aku pakai terkena virus dan dia
terpaksa memformat kembali komputernya. Dan salah aku juga karena aku
tidak menyimpannya dalam flash disk. Semuanya memang salahku.
Setelah
kemarahan Egi itu, dia tidak kunjung menegurku. Walaupun aku sudah
menyerahkan hasil laporannya, dia tetap saja diam. Dia juga tidak
menyuruhku ikut rapat. Aku datang sendiri.
Suatu
hari rapat bukan dipimpin Egi. Tapi, dipimpin Kak Wira. Mantan ketua
OSIS dulu. Karena rapat kali ini menyangkut olimpiade sekolah tingkat
kabupaten. Dan Kak Wira menganggap, Egi belum pengalaman. Jadi, Kak
Wira turut membantu. Gaya bicara Kak Wira yang khas memang menarik
perhatianku. Karena aku begitu antusias, akhirnya aku mengabaikan
Egi. Egi terdiam di pojokan. Dia tampak gusar dan bosan. Akhirnya,
Egi merapikan perlengkapannya dan keluar kelas tanpa sepatah kata
pun. Dia mungkin kecewa, karena yang seharusnya memberikan pengarahan
adalah dirinya sebagai ketua OSIS baru. Tapi, ternyata porsinya telah
diambil alih oleh Kak Wira. Aku bingung, antara ingin mengejar Egi
atau melanjutkan rapat. Lalu, Kak Wira mendekatiku dan berkata.
"Lanjutkan
saja. Biarkan dia marah. Tidak seharusnya seorang pemimpin bersikap
seperti itu."
Kak
Wira benar. Tapi, entah kenapa hatiku tidak terima Egi dipandang
demikian.
♔♔♔
Rapat
selesai. Aku merapikan perlengkapanku. Aku adalah yang paling
terakhir keluar kelas karena aku harus menyelesaikan laporanku
terlebih dulu. Anya sekarang sudah tidak aktif lagi, baik di OSIS
maupun di ekskul. Aku sendirian menulis dan menyelesaikan setiap
laporan rapat. Jam tanganku menunjukkan jam setengah enam sore. Aku
buru-buru merapikan perlengkapan. Aku takut angkot yang akan
mengantarku pulang sudah tidak ada lagi. Aku juga melihat
sekelilingku, sepi, tidak ada seorang pun. Aku sendirian. Sewaktu Egi
keluar kelas, tadinya aku mau menyusul saja. Tapi, bagaimana dengan
laporannya? Ah, Sudahlah! Aku kembali merapikan perlengkapanku dan
setelah beres, aku segera keluar kelas.
Benar
saja. Setelah keluar kelas, sekolah senyap. Tak kudapati satu orang
pun. Tapi, entah kenapa aku malah berkeliaran sendiri di sekolah yang
telah lengang ini. Ya! Egi! Aku mencari Egi. Aku merasa Egi
menungguku di suatu tempat. Tapi, di mana? Aku memulai dari kantin,
kantin sepi dan sudah tutup pastinya. Lalu, aku bergerak ke
perpustakaan, sepi juga. Lalu, aku ke kelas 2a, kosong. Egi sudah
pulang.
Hari
semakin gelap. Lima belas menit aku berkeliaran mencari Egi. Sambil
berjalan keluar sekolah, aku sibuk mengutuki diri.
"Kenapa
pake acara nyari orang gak penting itu sih! Lihat! Udah gelap! Ada
angkot nggak?".
Aku
berjalan sambil tengok kanan-kiri.
"Ya
Allah sepi banget, gelap." Berdiri bulu kudukku.
Aku
setengah berlari menuju gerbang. Hampir saja aku menangis. Tapi, aku
pikir menangis hanya membuang waktu. Aku mempercepat langkahku. Kali
ini aku berlari.
Sampai
juga akhirnya depan gerbang. Kutarik nafas dalam-dalam dan
menghembuskan kembali perlahan. Kulihat lagi sekelilingku. Aku
terfokus pada satu pemandangan yang sangat tidak asing di seberang
jalan raya sana.
"EGI!!"
Tanpa
sadar aku berteriak kencang memanggil nama Egi. Dan tanpa sadar juga
air mataku menetes. Yang dipanggil hanya menengok sekali, kemudian
melanjutkan membaca buku. Tapi, kemudian dia bangkit dan menyebrang.
Aku berencana akan memarahinya kalau Egi sudah disampingku. Aku akan
bilang, "kamu tuh apa-apaan sih? Ninggalin rapat seenak jidat,
nggak pamit, ninggalin aku sendirian, bikin aku khawatir, bikin aku
nangis!" Tapi, semua kalimat itu berhenti dan tercekat di
tenggorokan ketika Egi sudah benar-benar di sampingku. Air mukanya
datar dan biasa saja. Tidak ada ekspresi. Menyebalkan. Tapi,
diam-diam aku tersenyum, bahagia.
Egi
ternyata nungguin aku. Terimakasih.
♔♔♔
I'll see you, soon.... Thank you, all....





































