Hai, CETAR mania...! Sehubungan saya mau mudik yang entah sampai berapa lama. Maka dari itu saya poskan beberapa part sekaligus di Malam Sabtu ini. Maafkan daku, nggak bisa nemenin para jombi, eh jomblowan/wati di malming besok. Hope, I'll see U all, soon, yaw! Thank youuuu...
Empat
Genap
seminggu sudah setelah acara "penembakan" itu. Aku sudah
memutuskan jawaban apa yang akan aku berikan pada Nino. Minggu siang
ini, aku aku sudah membuat janji dengan Nino untuk bertemu.
Di
sebuah sudut kafe.
Nino
datang dengan seberkas senyum menawan di wajahnya. Kemeja kotak yang
terlihat kebesaran tidak membuat pesonanya hilang. Dipadu dengan kaos
putih didalamnya, membuatnya semakin menawan. Aaah!
Aku melamun lagi.
"Hai...,"
sapaku berusaha menghilangkan kikuk.
"Hai.
Apa kabar?"
"Emmm,
baik."
Kemudian
obrolan berlangsung. Kami tidak langsung membahas masalah minggu
lalu. Obrolan kita sepertinya jauh lebih menarik daripada topik
minggu lalu. Kita membicarakan tentang Jepang, hal yang sangat aku
sukai. Ternyata, Nino juga kagum dengan negara Jepang. Seperti aku,
dia tampak antusias ketika kami membicarakan kehidupan dalam lingkup
kekaisaran Jepang yang kontroversial. Kami enggan menghentikan
obrolan ini. Tapi, hari sudah senja dan aku belum memberikan jawaban
itu. Nino, menghabiskan sisa coffee late-nya dan dia terlihat
bersiap-siap untuk pulang.
"Aku
pamit, ya. Sudah sore."
"Ehhh,
tunggu. Aku...."
"Kenapa?"
"Jawabannya?"
"Ahhh,
nggak penting. Aku udah tahu."
"Udah
tau, apa emang?"
"Aku
lolos. Aku diterima. Iya, kan?"
"Ha?!"
Aku melongo. Darimana dia tahu jawabanku?
"Aku
tau dari senyummu."
Nino
sama saja seperti Kak Doni, pintar menebak pikiran orang. Tapi, itu
memang benar. Aku jadi merasa malu sendiri. Dan sekali lagi pipiku
memerah.
"Makasih."
"Sama-sama,"
jawabku sok manis.
♔♔♔
Aku
resmi menjadi pacar Nino. Aku merasa sedikit aneh. Kadang aku masih
ragu. Tapi, aku selalu meyakinkan diriku kalau ini adalah langkah
yang benar. Kak Doni pun tampak senang dengan jawabanku. Dia berharap
Nino bisa menggantikanya untuk menjagaku. Tapi, sepertinya aku masih
setengah hati dengan Nino. Mungkin butuh waktu. Aku akan berusaha.
Sejak
aku menjadi pacar Nino, Kak Doni memang agak mengurangi porsinya
denganku. Begitu pula dengan Kak Beno. Dia malah sudah menghilang
dan jarang berkomunikasi. Pojok kantin jadi tidak berpenghuni lagi.
Banyak yang tidak menyangka kalau aku ternyata pacaran dengan orang
lain, bukan dengan Kak Doni atau Kk Beno yang memang telah dekat
denganku. Sasapun terheran. Apalagi Sasa mengira aku bakal sama Egi.
Tapi, malah aku pacaran dengan orang asing yang tidak Sasa kenal.
♔♔♔
Hampir
tiga bulan aku menyandang predikat pacar Nino. Tapi, selama itu juga
aku tidak pernah merasakan sebagaimana yang pasangan lain rasakan.
Nge-date, makan siang bareng, dinner atau sekedar
mengantarku pulang pun tidak Nino lakukan. Kami jarang bertemu, kami
berkomunikasi hanya lewat pesan singkat. Dan Nino jarang membalas
pesan-pesanku. Aku pikir, mungkin itu sifat Nino dan aku tidak pernah
mempermasalahkan.
Kak
Doni pernah menanyakan perkembangan hubunganku dengan Nino dan aku
selalu menjawab bahwa kami baik-baik saja. Aku dan Nino tidak ada
bedanya dengan aku dan Egi. Malah, kadang Egi terkesan lebih care
dan sayang padaku. Tapi, mungkin itu cuma perasaanku saja yang
terlalu ingin perhatian dari Nino.
"Ciee,
kapan merit nih?" tanya Egi waktu menghadiri rapat OSIS.
"Apaan
sih?"
"Kan
udah punya pendamping."
"Gak
ada!"
"Masa?"
"Ahhh!
Udah deh, jangan ngeledekin aku terus!"
"Kenapa
sih?" Nada bicara Egi berubah lebih lembut. “Apa karena
sebentar lagi mau ditinggal lulus?"
"Mungkin."
Aku masih ketus.
"Ya
udah, kapan-kapan boleh cerita, kok, plus nangis juga aku siap
menampung."
Egi
tidak sedang mengejekku. Dia tampak serius dengan ucapannya.
♔♔♔
Aku
membuat janji bertemu dengan Nino. Kafe yang menawan itu tiba-tiba
berubah menjadi usang dan melankolis.
"Maafkan
aku, Ajeng."
"Kenapa
minta maaf?"
"Sebenarnya
aku udah bohongin kamu."
"Bohong?"
Lalu,
Nino menceritakan padaku bahwa sebenarnya dia terpaksa menyatakan
cintanya. Dia juga bukan pengirim surat cinta beberapa bulan lalu
itu. Dia sangat menyesal atas keputusannya menerima tawaran dari Kak
Doni untuk bisa menjagaku. Ternyata, Nino tidak pernah bisa. Nino
akhirnya meminta hubungan ini diakhiri saja. Dan aku langsung
menyetujuinya.
Aku
tidak menyalahkan siapa pun. Tidak Nino dan tidak pula Kak Doni
apalagi Kak Beno. Aku tahu, masing-masing dari mereka mempunyai
alasan sendiri untuk melakukan ini padaku. Aku mengerti. Kemudian,
Nino meminta maaf padaku sekali lagi sebelum akhirnya dia pamit
pulang.
Sekali
lagi aku sakit. Tapi, juga tidak sampai terluka. Aku memandang
punggung Nino yang menjauh dan semakin menjauh. Semakin kurasakan
bahwa kafe ini melankolis saja. Lagunya pun terdengar sendu. When
You're gone. Aku memang seperti sedang menghitung setiap langkah
kepergian Nino. Nino juga mengatakan padaku, bahwa setelah lulus, dia
akan melanjutkan SMAnya di luar kota. Bandung adalah tujuannya. Aku
hanya bisa bilang, aku akan mendukung dan selalu mendoakannya.
Senyumku kali ini terasa hambar.
Satu
jam sudah aku terpekur dalam diam. Mengaduk-aduk tehku tanpa aku
minum. Redup lampu kafe seolah menyadarkanku dari bayangan Nino. Ada
seseorang yang menutupi biasnya. Aku menengadah. Mencari sosok yang
menutupinya. Egi ternyata. Tapi, ada apa dia di sini?
"Aku
mau ketemu temen disini. Kamu lagi apa?"
"Ehh!"
Belum juga aku bertanya, Egi sudah menjawabnya.
"Aku
juga habis ketemu temen."
"Cowok
yang tadi?"
"Yang
mana?"
"Kemeja
kotak hijau. Nino."
Darimana
Egi tahu nama Nino. Tapi, aku tidak memedulikannya. Senja semakin
menggelayut di ufuk barat. Egi duduk di pojokan dekat rak majalah.
Dia memang tampak menunggu seseorang. Aku hendak menghampiri Egi
untuk pamit pulang. Tapi, kuurungkan setelah melihat teman Egi
datang. Seorang cowok tinggi, kurus, dan kulitnya cokelat. Dia tampak
formal dengan kemeja cokelat salur dan celana kain hitam. Tapi, aku
tahu dia bukan bapak-bapak. Dia terlihat seumuran dengan Egi, hanya
saja karena pakaiannya formal jadi agak terkesan lebih dewasa.
Akhirnya aku pulang tanpa pamit dengan Egi.
When
You're gone, the pieces of my heart are missing you....
Lagu
itu diputar ulang oleh pegawai kafe. Seperti dia tahu saja isi
hatiku.
♔♔♔

0 komentar:
Posting Komentar