Jumat, 05 Agustus 2016

Me, Between Spring and Summer (CETAR-Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with No comments


Hai, CETAR mania...! Sehubungan saya mau mudik yang entah sampai berapa lama. Maka dari itu saya poskan beberapa part sekaligus di Malam Sabtu ini. Maafkan daku, nggak bisa nemenin para jombi, eh jomblowan/wati di malming besok. Hope, I'll see U all, soon, yaw! Thank youuuu...
 
Empat


Genap seminggu sudah setelah acara "penembakan" itu. Aku sudah memutuskan jawaban apa yang akan aku berikan pada Nino. Minggu siang ini, aku aku sudah membuat janji dengan Nino untuk bertemu.

Di sebuah sudut kafe.

Nino datang dengan seberkas senyum menawan di wajahnya. Kemeja kotak yang terlihat kebesaran tidak membuat pesonanya hilang. Dipadu dengan kaos putih didalamnya, membuatnya semakin menawan. Aaah! Aku melamun lagi.

"Hai...," sapaku berusaha menghilangkan kikuk.

"Hai. Apa kabar?"

"Emmm, baik."

Kemudian obrolan berlangsung. Kami tidak langsung membahas masalah minggu lalu. Obrolan kita sepertinya jauh lebih menarik daripada topik minggu lalu. Kita membicarakan tentang Jepang, hal yang sangat aku sukai. Ternyata, Nino juga kagum dengan negara Jepang. Seperti aku, dia tampak antusias ketika kami membicarakan kehidupan dalam lingkup kekaisaran Jepang yang kontroversial. Kami enggan menghentikan obrolan ini. Tapi, hari sudah senja dan aku belum memberikan jawaban itu. Nino, menghabiskan sisa coffee late-nya dan dia terlihat bersiap-siap untuk pulang.

"Aku pamit, ya. Sudah sore."

"Ehhh, tunggu. Aku...."

"Kenapa?"

"Jawabannya?"

"Ahhh, nggak penting. Aku udah tahu."

"Udah tau, apa emang?"

"Aku lolos. Aku diterima. Iya, kan?"

"Ha?!" Aku melongo. Darimana dia tahu jawabanku?

"Aku tau dari senyummu."

Nino sama saja seperti Kak Doni, pintar menebak pikiran orang. Tapi, itu memang benar. Aku jadi merasa malu sendiri. Dan sekali lagi pipiku memerah.

"Makasih."

"Sama-sama," jawabku sok manis.

♔♔♔

Aku resmi menjadi pacar Nino. Aku merasa sedikit aneh. Kadang aku masih ragu. Tapi, aku selalu meyakinkan diriku kalau ini adalah langkah yang benar. Kak Doni pun tampak senang dengan jawabanku. Dia berharap Nino bisa menggantikanya untuk menjagaku. Tapi, sepertinya aku masih setengah hati dengan Nino. Mungkin butuh waktu. Aku akan berusaha.

Sejak aku menjadi pacar Nino, Kak Doni memang agak mengurangi porsinya denganku. Begitu pula dengan Kak Beno. Dia malah sudah menghilang dan jarang berkomunikasi. Pojok kantin jadi tidak berpenghuni lagi. Banyak yang tidak menyangka kalau aku ternyata pacaran dengan orang lain, bukan dengan Kak Doni atau Kk Beno yang memang telah dekat denganku. Sasapun terheran. Apalagi Sasa mengira aku bakal sama Egi. Tapi, malah aku pacaran dengan orang asing yang tidak Sasa kenal.

♔♔♔

Hampir tiga bulan aku menyandang predikat pacar Nino. Tapi, selama itu juga aku tidak pernah merasakan sebagaimana yang pasangan lain rasakan. Nge-date, makan siang bareng, dinner atau sekedar mengantarku pulang pun tidak Nino lakukan. Kami jarang bertemu, kami berkomunikasi hanya lewat pesan singkat. Dan Nino jarang membalas pesan-pesanku. Aku pikir, mungkin itu sifat Nino dan aku tidak pernah mempermasalahkan.

Kak Doni pernah menanyakan perkembangan hubunganku dengan Nino dan aku selalu menjawab bahwa kami baik-baik saja. Aku dan Nino tidak ada bedanya dengan aku dan Egi. Malah, kadang Egi terkesan lebih care dan sayang padaku. Tapi, mungkin itu cuma perasaanku saja yang terlalu ingin perhatian dari Nino.

"Ciee, kapan merit nih?" tanya Egi waktu menghadiri rapat OSIS.

"Apaan sih?"

"Kan udah punya pendamping."

"Gak ada!"

"Masa?"

"Ahhh! Udah deh, jangan ngeledekin aku terus!"

"Kenapa sih?" Nada bicara Egi berubah lebih lembut. “Apa karena sebentar lagi mau ditinggal lulus?"

"Mungkin." Aku masih ketus.

"Ya udah, kapan-kapan boleh cerita, kok, plus nangis juga aku siap menampung."

Egi tidak sedang mengejekku. Dia tampak serius dengan ucapannya.

♔♔♔

Aku membuat janji bertemu dengan Nino. Kafe yang menawan itu tiba-tiba berubah menjadi usang dan melankolis.

"Maafkan aku, Ajeng."

"Kenapa minta maaf?"

"Sebenarnya aku udah bohongin kamu."

"Bohong?"

Lalu, Nino menceritakan padaku bahwa sebenarnya dia terpaksa menyatakan cintanya. Dia juga bukan pengirim surat cinta beberapa bulan lalu itu. Dia sangat menyesal atas keputusannya menerima tawaran dari Kak Doni untuk bisa menjagaku. Ternyata, Nino tidak pernah bisa. Nino akhirnya meminta hubungan ini diakhiri saja. Dan aku langsung menyetujuinya.

Aku tidak menyalahkan siapa pun. Tidak Nino dan tidak pula Kak Doni apalagi Kak Beno. Aku tahu, masing-masing dari mereka mempunyai alasan sendiri untuk melakukan ini padaku. Aku mengerti. Kemudian, Nino meminta maaf padaku sekali lagi sebelum akhirnya dia pamit pulang.

Sekali lagi aku sakit. Tapi, juga tidak sampai terluka. Aku memandang punggung Nino yang menjauh dan semakin menjauh. Semakin kurasakan bahwa kafe ini melankolis saja. Lagunya pun terdengar sendu. When You're gone. Aku memang seperti sedang menghitung setiap langkah kepergian Nino. Nino juga mengatakan padaku, bahwa setelah lulus, dia akan melanjutkan SMAnya di luar kota. Bandung adalah tujuannya. Aku hanya bisa bilang, aku akan mendukung dan selalu mendoakannya. Senyumku kali ini terasa hambar.

Satu jam sudah aku terpekur dalam diam. Mengaduk-aduk tehku tanpa aku minum. Redup lampu kafe seolah menyadarkanku dari bayangan Nino. Ada seseorang yang menutupi biasnya. Aku menengadah. Mencari sosok yang menutupinya. Egi ternyata. Tapi, ada apa dia di sini?

"Aku mau ketemu temen disini. Kamu lagi apa?"

"Ehh!" Belum juga aku bertanya, Egi sudah menjawabnya.

"Aku juga habis ketemu temen."

"Cowok yang tadi?"

"Yang mana?"

"Kemeja kotak hijau. Nino."

Darimana Egi tahu nama Nino. Tapi, aku tidak memedulikannya. Senja semakin menggelayut di ufuk barat. Egi duduk di pojokan dekat rak majalah. Dia memang tampak menunggu seseorang. Aku hendak menghampiri Egi untuk pamit pulang. Tapi, kuurungkan setelah melihat teman Egi datang. Seorang cowok tinggi, kurus, dan kulitnya cokelat. Dia tampak formal dengan kemeja cokelat salur dan celana kain hitam. Tapi, aku tahu dia bukan bapak-bapak. Dia terlihat seumuran dengan Egi, hanya saja karena pakaiannya formal jadi agak terkesan lebih dewasa. Akhirnya aku pulang tanpa pamit dengan Egi.

When You're gone, the pieces of my heart are missing you....

Lagu itu diputar ulang oleh pegawai kafe. Seperti dia tahu saja isi hatiku.

♔♔♔


0 komentar:

Posting Komentar