Jumat, 05 Agustus 2016

Me, Between Spring and Summer (CETAR-Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with No comments

 



Enam



Kubuka lembar baru di fase kehidupanku sebagai siswi kelas dua SMP. Aku masih tetap satu kelas dengan Egi. Dan kali ini aku duduk sebangku dengan orang lain, bukan lagi dengan Sasa. Vina adalah teman sebangkuku sekarang. Sasa, setelah hari kelulusan itu aku belum mendapat kabar lagi tentangnya. Ada yang bilang dia pindah ke sekolah kecil dan ada juga yang bilang Sasa berhenti sekolah. Entahlah, masih simpang siur. Aku pun masih belum menemuinya. Aku masih sedikit kesal padanya. Tapi, aku tidak bisa membohongi diri kalau aku sebenarnya rindu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Sekarang, di sekolahku sedang ribut so'al pemilihan ketua OSIS dan keanggotaannya yang baru. Maklum, para anggota yang lama, yang sekarang sudah naik ke kelas tiga sudah tidak bisa terlalu aktif karena harus fokus pada ujian akhir. Dan, tampuk kepemimpinan harus digantikan oleh junior-juniornya. Egi adalah salah seorang siswa yang dicalonkan sebagai ketua OSIS dan juga ada beberapa nama yang tercantum. Sebagian besar adalah siswa-siswi yang dulu menjabat sebagai perwakilan kelas. Tapi, berhubung Egi yang sudah dicalonkan aku tidak masuk hitungan. Kalau pun dicalonkan, aku akan menolak. Aku tidak pandai berorasi dan berorganisasi. Nanti, yang ada malah aku mengecewakan sekolah saja.

Hari ini adalah hari perhitungan dari pemilihan ketua OSIS. Aku ikut menghadiri rapatnya. Aku ikut menyaksikan wajah cemas Egi dan calon-calon yang lain. Satu persatu kertas dibuka dan sisebutkan nama-nama di dalamnya. Egi sekarang berada di urutan kedua setelah Seto. Tapi, semakin lama Egi semakin naik posisi. Sekarang Egi di urutan pertama, kertas tinggal tiga gulungan lagi.

"Egi!"

"Seto!"

"Seto!"

Walaupun yang terakhir Seto mempunyai dua suara. Tapi, Egi tetaplah pemenangnya. Karena jumlah Egi lebih besar dibanding Seto. Seto harus puas dengan posisi sebagai wakil 1 dan Rian sebagai wakil 2.

Salah satu hak sebagai ketua OSIS di sekolah kami adalah dia bebas menentukan tangan kanan dan kirinya, yaitu sekretaris dan bendahara. Masing-masing dari jabatan tersebut dipegang oleh dua orang.

"Baiklah." Egi membuka pidato pertamanya sebagai ketua OSIS. "Terimakasih kepada semua siswa-siswi yang sudah mempercayakan saya untuk menggantikan ketua OSIS yang lama, Kak Wira. Saya tidak bisa berjanji akan lebih baik dari Kak Wira. Karena kalian tahu sendiri Kak Wira adalah sosok yang mengagumkan. Baik secara akademis, olahraga, kebijakan dan juga secara penampilan. Hehehe."

Dan, tiba-tiba aku terkaget setelah pidato Egi selesai dan mengumumkan siapa-siapa saja yang akan menjadi tangan kanan-kirinya.

"Baik, saya sudah menimbang-nimbang sebelumnya siapa saja yang akan menjadi sekretaris dan bendahara OSIS jika saya terpilih. Dan hari ini saya terpilih. Saya akan langsung mengumumkan nama-nama itu."Bendahara satu akan dipegang oleh Syamsul dari kelas 2E. Karena saya tahu Syamsul amanah, Insya Allah dan yang akan jadi wakil Syamsul adalah Retno dari kelas 2B. Karena reputasi Retno di kelasnya sebagai bendahara, masuk hitungan." Egi tampak berdehem sebentar, lalu melanjutkan pidatonya. "Untuk sekretaris, yang akan memegang kendali dalam pencatatan hasil rapat dan sebagainya adalah Anya dan Ajeng."

Haaa, aku?

"Anya dari kelas 2c dan Ajeng sekelas dengan saya di 2a. Anya akan menjadi wakil Ajeng."

Aku? Aku tidak menyangka Egi akan memilihku sebagai sekretarisnya, yang pertama pula. Entah apa yang jadi bahan pertimbangannya. Dia memang aneh. Tulisanku tidak bagus dan aku bukan sekretaris yang baik di kelas.

♔♔♔

Semenjak aku terpilih menjadi sekretaris OSIS, kesibukanku bertambah. Apalagi di ekstrakulikuler, aku juga menjabat sebagai ketua umum. Aku benar-benar sibuk. Ditambah aku masih harus tetap menjadi sekretaris kelas juga. Aku selalu mencatat pelajaran paling terakhir, karena aku harus mendahulukan menulis di papan tulis kelas. Terkadang, aku baru mencatatnya di rumah. Egi kadang datang membantuku mencatat pelajaran yang tertinggal sembari membahas rapat-rapat selanjutnya. Aku dan Egi jadi semakin akrab. Walaupun kebiasaan kita beradu mulut tidak juga hilang. Aku pernah bertengkar hebat dengan Egi karena aku tidak tepat waktu mengumpulkan laporan rapat OSIS.

"Emang kemaren kamu kemana? Kemaren, kan, hari Minggu. Apa kamu udah capek jadi sekretarisku?” Egi membentakku sambil membanting pensil ke lantai. "Ini sudah dua minggu, kamu belum juga membuatnya?" lanjutnya.

"Maaf." Aku hanya bisa bilang demikian.

"Maaf? Maaf katamu? Aku hampir saja ditampar sama pembina, tau?!"

Aku menatap Egi. Terkejut dengan apa yang baru saja dia katakan. Ditampar?

"Dan itu semua karena aku belain kamu." Egi meluruh, dia terduduk sambil menutup wajahnya. Sepertinya dia salah bicara.

"Membela? Aku?"

"Ahh! Sudahlah...."

Dia kemudian pergi meninggalkan aku. Teman-teman memandang kami dengan pandangan yang aneh dan terkejut. Mereka tidak menyangka Egi akan marah seperti itu. Begitu pun denganku. Aku terkejut dan bingung. Ini semua memang salahku. Aku kehilangan data-data hasil rapat dua minggu lalu. Filenya hilang dari komputer. Kata penjaga warnet, sehari setelah aku mengetik komputer yang aku pakai terkena virus dan dia terpaksa memformat kembali komputernya. Dan salah aku juga karena aku tidak menyimpannya dalam flash disk. Semuanya memang salahku.

Setelah kemarahan Egi itu, dia tidak kunjung menegurku. Walaupun aku sudah menyerahkan hasil laporannya, dia tetap saja diam. Dia juga tidak menyuruhku ikut rapat. Aku datang sendiri.

Suatu hari rapat bukan dipimpin Egi. Tapi, dipimpin Kak Wira. Mantan ketua OSIS dulu. Karena rapat kali ini menyangkut olimpiade sekolah tingkat kabupaten. Dan Kak Wira menganggap, Egi belum pengalaman. Jadi, Kak Wira turut membantu. Gaya bicara Kak Wira yang khas memang menarik perhatianku. Karena aku begitu antusias, akhirnya aku mengabaikan Egi. Egi terdiam di pojokan. Dia tampak gusar dan bosan. Akhirnya, Egi merapikan perlengkapannya dan keluar kelas tanpa sepatah kata pun. Dia mungkin kecewa, karena yang seharusnya memberikan pengarahan adalah dirinya sebagai ketua OSIS baru. Tapi, ternyata porsinya telah diambil alih oleh Kak Wira. Aku bingung, antara ingin mengejar Egi atau melanjutkan rapat. Lalu, Kak Wira mendekatiku dan berkata.

"Lanjutkan saja. Biarkan dia marah. Tidak seharusnya seorang pemimpin bersikap seperti itu."

Kak Wira benar. Tapi, entah kenapa hatiku tidak terima Egi dipandang demikian.

♔♔♔

Rapat selesai. Aku merapikan perlengkapanku. Aku adalah yang paling terakhir keluar kelas karena aku harus menyelesaikan laporanku terlebih dulu. Anya sekarang sudah tidak aktif lagi, baik di OSIS maupun di ekskul. Aku sendirian menulis dan menyelesaikan setiap laporan rapat. Jam tanganku menunjukkan jam setengah enam sore. Aku buru-buru merapikan perlengkapan. Aku takut angkot yang akan mengantarku pulang sudah tidak ada lagi. Aku juga melihat sekelilingku, sepi, tidak ada seorang pun. Aku sendirian. Sewaktu Egi keluar kelas, tadinya aku mau menyusul saja. Tapi, bagaimana dengan laporannya? Ah, Sudahlah! Aku kembali merapikan perlengkapanku dan setelah beres, aku segera keluar kelas.

Benar saja. Setelah keluar kelas, sekolah senyap. Tak kudapati satu orang pun. Tapi, entah kenapa aku malah berkeliaran sendiri di sekolah yang telah lengang ini. Ya! Egi! Aku mencari Egi. Aku merasa Egi menungguku di suatu tempat. Tapi, di mana? Aku memulai dari kantin, kantin sepi dan sudah tutup pastinya. Lalu, aku bergerak ke perpustakaan, sepi juga. Lalu, aku ke kelas 2a, kosong. Egi sudah pulang.

Hari semakin gelap. Lima belas menit aku berkeliaran mencari Egi. Sambil berjalan keluar sekolah, aku sibuk mengutuki diri.

"Kenapa pake acara nyari orang gak penting itu sih! Lihat! Udah gelap! Ada angkot nggak?".

Aku berjalan sambil tengok kanan-kiri.

"Ya Allah sepi banget, gelap." Berdiri bulu kudukku.

Aku setengah berlari menuju gerbang. Hampir saja aku menangis. Tapi, aku pikir menangis hanya membuang waktu. Aku mempercepat langkahku. Kali ini aku berlari.

Sampai juga akhirnya depan gerbang. Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kembali perlahan. Kulihat lagi sekelilingku. Aku terfokus pada satu pemandangan yang sangat tidak asing di seberang jalan raya sana.

"EGI!!"

Tanpa sadar aku berteriak kencang memanggil nama Egi. Dan tanpa sadar juga air mataku menetes. Yang dipanggil hanya menengok sekali, kemudian melanjutkan membaca buku. Tapi, kemudian dia bangkit dan menyebrang. Aku berencana akan memarahinya kalau Egi sudah disampingku. Aku akan bilang, "kamu tuh apa-apaan sih? Ninggalin rapat seenak jidat, nggak pamit, ninggalin aku sendirian, bikin aku khawatir, bikin aku nangis!" Tapi, semua kalimat itu berhenti dan tercekat di tenggorokan ketika Egi sudah benar-benar di sampingku. Air mukanya datar dan biasa saja. Tidak ada ekspresi. Menyebalkan. Tapi, diam-diam aku tersenyum, bahagia.

Egi ternyata nungguin aku. Terimakasih.

♔♔♔

I'll see you, soon.... Thank you, all....

0 komentar:

Posting Komentar