Emang
dasarnya udah emak-emak, punya akun di mana-mana. Pas mau dibuka ulang
banyak lupanya. Ya lupa username-lah, lupa password-lah, lupa email-lah.
Untung aja gak lupa sama keluarga. ASTAGHFIRULLAH, amit-amit, dehhh.
Cerita
fikksi ini juga sebenernya mah udah lama nengkri a.k.a nangkring
syantik di Wattpad dan alhamdulillah dapet 11 bintang (kalah, dah, tuh
level hotel). Tapi, ya, itu dia di sono, kan, pembacanya terbatas. Jadi,
saya pengen banget menyebarluaskan cerita garapan saya ini ke khalayak
yang lebih ramai lagi. Supaya makin banyak yang ngebaca dan ngasih
bintang gituuu, atau tawaran dari penerbit buat dibukuin (ngarep tingkat
dewa), hihihi.... Ternyata idiiihhh..., susahnya minta ampun walaupun
hanya untuk sekadar copas (padahal akun sendiri), tetep weh diprotect
ama yang bersangkutan. Untungnya misua jago masalah beginian.
Alhamdulillah bisa ter-copas tanpa harus ngetik ulang. HURRRAAAYYY....
OK.
Selamat membaca, semoga menikmati cerita ala-ala bikinan saya. Jangan
sungkan kritik dan sarannya. Tulis aja di kolom komentar. Terima kasih.
Enjoy! {Oh iya, masalah EYD harap maklumin, ya. Masih belajar.
Hihihihiii}
PROLOG
"Tidak apa kalau namaku tidak disebut dalam doamu lagi. Sebut saja nama orang lain di sekitarmu."
Terbata-bata
Alin mengucapkan kalimat itu. Ada yang mencekat tenggorokannya ketika
dia berbicara. Nadanya gemetar dan kaku. Tapi, dia mencoba senatural
mungkin.
"Aku sudah tidak mau mengingat dan diingat olehmu."
Setelah
salam diucapkan, Alin pergi meninggalkan seseorang yang dari tadi
abu-abu, bingung atas rentetan kalimat Alin. Tapi, ada yang aneh.
Rasanya seseorang itu menjadi sesak napas sampai tidak bisa menimpali
perkataan Alin.
"Ah, apa ini?"
Dia berusaha menepis. Tapi, tidak bisa.
JUST WAITING
Alin
yang keturunan Tionghoa-Jawa ini baru tiga tahun menjadi seorang
mualaf. Dia sedang giat-giatnya belajar tentang Islam. Selain itu, dia
juga sedang disibukkan dengan berbagai tes untuk bisa masuk ke salah
satu kampus di negeri sakura. Baru tiga puluh persen tes yang berhasil
ia lewati dengan hasil memuaskan. Masih ada tujuh puluh persen lagi
untuk bisa sepenuhnya lolos dan mendapatkan satu bangku impian di
Universitas Tokyo.
Tidak
ada keraguan sama sekali di hati Alin. Dia yakin setidaknya delapan
puluh lima sampai sembilan puluh persen akan berhasil dalam tes-tes
tersebut. Hanya satu yang membuat gelisah hati Alin. Ilham.
Tiga
malam berturut-turut Ilham hadir dalam mimpinya. Tidak jelas apa maksud
sebenarnya. Alin tidak mendirikan salat Istikharah sebelum tidur. Tidak
juga memohon kepada Tuhan agar dia bermimpikan Ilham. Tapi, entah
mengapa Ilham datang di saat yang sangat tidak tepat. Tes semakin berat,
Alin harus lebih fokus. Tapi, kini fokusnya sedikit buyar karena Ilham.
"Ahh! Menyebalkan! Kamu nggak aku harepin dateng sekarang. Aku jadi nggak bisa konsen!" gerutunya.
Malam
semakin larut. Tumpukan buku, modul, kamus di atas meja Alin banyak
yang belum tersentuh. Tapi, kantuk mulai menyergap. Dua jam kemudian dia
tertidur tak berdaya. Tangannya memegang sebuah amplop, Bukan sebuah
buku.
@@@
Tiga bulan berlalu. Alin berhasil mendapatkan satu bangku di Universitas Tokyo.
Seminggu
sebelum pengumuman, Alin menemui Ilham di sebuah Mushala samping
SMAnya. Ilham biasa mengajar mengaji anak-anak di Mushala itu. Sengaja
Ilham memilih Mushala kecil dibandingkan masjid. Alasannya : Limited.
Karena di Masjid tentu sudah banyak kegiatan rohis. Padahal, sangat
diperbolehkan siswa mengajar ngaji di sekolah walaupun santrinya
anak-anak luar sekolah. Tapi, Ilham lebih memilih Mushala.
"Dia memang sederhana," gumam Alin..
Alin
menunggu Ilham di depan mushala. Hari itu cuaca sedang hujan. Hujan
semakin lama semakin lebat. Alin berusaha menghindari cipratan air.hujan
dengan duduk lebih ke dalam. Sepuluh menit lagi Ilham selsai mengajar.
Hari sudah sore. Alin memang harus segera pulang, menyiapkan segala
keperluannya untuk nanti tinggal di Jepang. Tapi, masalah ini juga tidak
kalah penting. Ini sangat mengganggu hati dan pikirannya.
Lamunan Alin buyar saat Ilham berdehem dan mengucap salam.
"Assalaamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" Jawab Alin setengah kaget.
"Sudah menunggu lama?"
"Emmm.. Nggak juga."
"Hujannya lebat. Mau masuk?"
"Nggak usah. Cuma bentar kok."
"Ada hal apa?"
Alin berpikir keras. "Apa perlu dia bilang atau urungkan saja."
"Eemmmm..."
"Tidak apa-apa, bilang saja.
"Baiklah."
Akhirnya Alin menguatkan diri.
"Ilham..., nggak apa-apa aku nggak disebut dalam do'amu. Sebut saja nama-nama lain di sekitarmu."
Terbata-bata
Alin mengucapkan kalimat-kalimat itu. Ada yang mencekat tenggorokannya
ketika dia berbicara. Nadanya gemetar dan kaku. Tapi, dia mencoba
senatural mungkin.
"Aku sudah nggak mau mengingat dan diingat olehmu."
Setelah
salam diucapkan, Alin pergi keningglkan seseorang yang daritadi
abu-abu, bingung atas rentetan kaliman Alin tadi. Tapi, ada yang aneh.
Rasanya dia sesak nafas sampai tidak bisa menimpali perkataan Alin.
"Ah, apa ini?"
Dia berusaha menepis. Tapi, tidak bisa.
@@@
Dua
hari setelah tiket dipesan. Tiba saatnya Alin meninggalkan Indonesia.
Meninggalkan keluarga, teman-teman dan Ilham. Ada sesuatu yg justru
terus menggelayuti pikirannya setelah pertemuan itu. Dia kehilangan.
Alin
mendengar bahwa Ilham sudah meminang seorang gadis, entah siapa. Maka
dari itu, Alin berusaha keras menepis nama Ilham dari ingatannya, dari
hatinya.
Pesawat
akan landing di Narita International Airport sekitar jam delapan malam.
Ada waktu semalam untuk mengistirahatkan badan sebelum besoknya harus
registrasi ke Universitas. Dengan modal bahasa Jepang yang cukup baik,
Alin sangat percaya diri bisa secepatnya beradaptasi di Tokyo. Tapi,
impian sebenarnya bukan hanya kota Tokyo dan Tokyo Tower. Tapi, Kobe.
Alin ingin sekali mengunjungi Masjid Kobe. Yang dia tahu, banyak mu'alaf
Jepang di sana. Dia sungguh sudah tidak sabar.
Bulan
demi bulan Alin lewati dengan maju dan mundur. Persaingan di
Universitas Tokyo sangat ketat. Banyak Mahasiswa bunuh diri karena tidak
kuat menahan beban mental. Prestasi anjlok, berarti siap diejek
mahasiswa lain atau mendapatkan pandangan kurang menyenangkan. Alin
sudah sering mendapatkan perlakuan demikian. Apalagi dia mangenakkan
jilbab yang memang terasa aneh dipandang oleh sebagian besar mahasiswa.
Pernah suatu hari Jilbab Alin ditarik paksa oleh beberapa Mahasiswi yang
anti agama. Sedih memang. Tapi, Alin tetap berusaha kuat menahan
cobaan. Pernah juga Alin berpikir untuk melepas Jilbabnya.
"Toh, gak ada teman Muslim yang tau." Pikirnya kala itu. Tapi, niatnya diurungkan ketika dia teringat Ilham.
"Kalo Ilham udah nikah, semoga aku.dapet yang lebih baik dari Ilham. Aku nggak mau lepas jilbab dan agamaku."
@@@
Tak
terasa tiga tahun berlalu. Suka duka sudah Alin rasakan. Walaupun dia
orang berada di Indonesia. Tapi, tetap saja tidak mudah menahan
banyaknya godaan dan tetap harus belajar berhemat. Tinggal di Tokyo
adalah suatu beban tersendiri. Biaya hidup sehari-hari sangat mahal.
Ditambah lifestyle remaja di sini sudah tidak layak dicontoh. Free sex
sudah bukan hal yang tabu lagi. Semuanya bebas sebebas bebasnya.
Libur
Musim panas kali ini Alin menyempatkan untuk mengunjungi Masjid Kobe
lagi. Ini sudah ketiga kalinya dia berkunjung ke Masjid Kobe. Jadwal
kuliah yang sangat padat sangat tidak memungkinkan dia untuk pergi ke
Kobe sering-sering.
Cuaca
cerah hari ini. Sangat mendukung perjalanannya menuju Kobe. Alin tiba
di Kobe dua puluh menit setelah waktu dzuhur. Memaksanya untuk sholat
lebih lambat daripada biasanya. Alin berlari menuju Masjid secepat
mungkin. Tanpa disadarinya sabuah buku diary jatuh. Ada seseorang yang
memungutnya. Tapi, Alin sama sekali tidak menyadarinya. Alin tetap saja
berlari menuju Masjid.
Selesai
menunaikan sholat, Alin melihat ranselnya. Tapi, betapa terkejutnya dia
saat mendapati ranselnya telah terbuka. Dia segera mengecek
barang-barang di dalamnya. Dompet dan yang lainnya aman. Hanya satu yang
tidak ada, diary. Segera Alin keluar Masjid dan menyusuri jalanan
sekitar Masjid yang tadi ia lewati. Tapi, dia tetap tidak menemukan apa
yag dicari. Dia terpaksa harus merelakan semua catatan hatinya hilang
begitu saja.
@@@
Sebulan
setelah kunjungannya ke Kobe ada seorang tamu datang ke flatnya.
Seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian koko. "Pasti orang Islam,
orang Indonesia." Gumam hatinya.
"Assalaamu'alaikum"
Pintu diketuk sekali lagi. Pada ketukan ketiga, Alin suda membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam. Are You Indonesian?" Tanya Alin Ragu.
"Iya dek, bapak orang Indonesia."
"Alhamdulillaah. Bapak mencari siapa? Sepertinya saya baru melihat bapak di sini."
"Saya mencari pemilik diary ini. Sudah dari sebulan lalu saya ingin mencari. Tapi, baru sempatnya sekarang."
"Subhanallah.. Ini diary saya pak. Terimakasih sudah repot-repot mengembalikan."
"Sama-sama, dek. Sebelumnya bapak minta maaf."
Percakapanpun
berlanjut hingga sore. Bapak tersebut ternyata adalah salah satu imam
Masjid Kobe. Namanya Pak Sanusi, biasa dipanggil Satoshi di sini. Bapak
tersebut yang ternyata menemukan dan memungut diary Alin sebulan lalu.
Bapak Sanusi juga.meminta maaf atas keterlambatannya mengembalikan diary
Alin. Sekaligus minta maaf karena telah sedikit membaca isinya. Guna
mencari alamat pemilik. Ada satu nama di dalam diary yang Pak Sanusi
baca, Ilham. Tapi, Pak Sanusi tidak memberitahukannya kepada Alin. Dalam
hati Pak Sanusi hanya terseyum.
"Dek, masih ada yang ingin bapak sampaikan."
"Silakan Pak."
"Bapak
sebetulnya pernah melihat Dek Alin di Masjid Kobe setahun lalu. Dan
Bapak baru ingat setelah agak lama memperhatikan wajah Dek Alin. Maklum
bapak sudah tua." Pak Sanusi tertawa riang.
"Ada seseorang yang ingin meminang Dek Alin untuk menjadi istrinya."
"Apa?"
"Iya, dek. Ini benar."
"Siapa pak?"
"Enam bulan lagi Bapak kesini dengan membawa orang tersebut jika Dek Alin menyetujuinya."
Setelah
itu Pak Sanusi pamit dan berpesan agar Alin sholat dan segera
menghubungi Pak Sanusi jika sudah ada jawaban. Alin mengiyakan.
@@@
Selepas
mengantar Pak Sanusi ke depan pintu, Alin langsung mengambil buku
diarynya. Dipeluknya erat-erat. "Ilhamku kembali." Bisiknya. Diary itu
dia sebut Ilham karena memang semua kisahnya tentang Ilham, Ilham, dan
Ilham.
Semasa
SMP dulu Ilham adalah pacarnya. Entah kenapa Ilham yang Agamis mau saja
berpacaran dengannya. Malah, waktu itu Alin masih menjadi pacar orang
lain. Tapi, Ilham terang-terangan merebut paksa secara halus Alin dari
tangan Rio. Dan yang paling mengherankan adalah karena Alin masih
seorang budha pada waktu itu, sedangkan Ilham anak pesantren.
Gaya
pacaran Ilham yang membosankan membuat Alin jengah dan memutuskan untuk
tidak melanjutkan hubungan mereka. Hanya tiga bulan saja mereka
pacaran. Tapi, Alin sedetikpun tidak pernah benar-benar meninggalkan
Ilham di hatinya. Ilham punya tempat tersendiri di hati Alin. Dan
Alinpun tidak pernah mau berpacaran dengan lelaki lain selepas Ilham.
"Alin,
aku nggak akan pernah lupa untuk menyebut nama kamu dalam do'aku. Aku
janji. Kalo aku lupa, Allah akan menghukumku. Dan aku nggak mau dihukum
Allah."
Itu kata-kata terakhir yang diucapkan Ilham pada Alin saat Alin memutuskan hubungan mereka.
Alin
sadar, selama dia dengan Ilham, Ilham selalu menjaga kehormatannya.
Mungkin karena Ilham besar di pesantren, Ilham jadi sangat pendiam dan
acuh. Tapi, tetap terlihat kalau dia bertanggung jawab dan manis. Alin
sering melihat Ilham mengaji, sholat, dan lain sebagainya. Begitupun
Ilham, Ilham menemani Alin ke Vihara, membeli keperluan imlek, dan yang
lainnya. Tak pernah sekalipun Ilham menyinggung perihal Agama. Katanya,
Ilham mau seperti idolanya, Nabi Muhammad. Alin pun tergerak hatinya
untuk mencari tahu dan banyak membaca tentang idola Ilham itu. Siapa
dia? Darimana asalnya? Bagaimana sikap dan sifatnya? Alin terus dihantui
rasa penasaran. Dan dua tahun setelahnya Alin resmi menjadi seorang
mu'alaf. Tak lagi ke Vihara, tak lagi berpakaian mini. Tapi, memang Alin
membutuhkan waktu satu tahun lebih untuk mengenakan jilbab secara
sempurna. Dia masih terasa kaku di awal. Tapi, kemudian merasakan nyaman
yang susah untuk dijelaskan. Alin pun banyak mengikuti kegiatan ke
Islaman di sekolahnya. Dia semakin dan semakin cinta terhadap Islam.
Lembar demi lembar ia baca diary kesayangannya itu.
"Ilham, apa kamu sudah bahagia? Semoga saja."
Kemudian Alin teringat perkataan Pak Sanusi sore tadi.
"Siapa
pemuda itu? Kalo seorang imam saja mau diamanahi untuk melamarkan
seseorang. Insya Allah agama pemuda itu baik. Ahh! Lebih baik aku sholat
saja."
Alin
bergegas menuju kamar mandi dan berwudhu sebelum rasa kantuknya datang
menggoda. Didirikannya sholat Istikhoroh. Berdo'a memohon petunjuk
tentang sang pelamar.
@@@
Seminggu
kemudian, Alin sudah memegang jawaban. Ia akan menerima lamaran
tersebut. Alin juga sudah mengabarkan keluarganya bahwa dia telah
dilamar. Keluarganya.yang demokratis selalu menyerahkan keputusan apapun
kepada Alin selama hal itu baik. Alin sangat berbahagia. Walaupun dia
tidak tahu siapa pelamar itu. Tapi, dia hanya yakin atas jawaban
sholat-sholatnya. Dihubunginya Pak Sanusi. Alin.mengabarkan siap
menerima. Pak Sanusi mengucap hamdallah dan berjanji lima bulanan lagi
akan datang menemui Alin bersama-sama pemuda yang melamar Alin. Alin
siap menunggu.
Kesibukan
tugas-tugas akhir membuat Alin sedikit lupa perihal lamarannya. Alin
hanya fokus dan fokus terhadap segudang materi, tugas, dan lain
sebagainya. Sampai dia lupa kalau seminggu lagi Pak Sanusi akan datang.
Tadi pagi Pak Sanusi menelpon Alin.untuk memastikan bahwa minggu depan
Alin ada waktu senggang. Alin berjanji akan mengusahakan.
Seminggu kemudian...
Pak
Sanusi ternyata hanya datang seorang diri. Pemuda yang dijanjikan tidaj
bisa datang karena tengah sibuk. Pak Sanusi mengajak Alin ke Kobe
untuk.melihat langsung pemuda itu. Alin bersiap-siap dan mereka
berangkat.
Tiba
di kobe ba'da Ashar. Alin segera mendirikan sholat Ashar. Hari ini
Masjid Kobe sedikit berbeda. Ramai dan banyak hiasan bunga di sana sini.
"Apa
mau ada yang menikah di sini Pak?" Tanya Alin kepada Pak Sanusi ketika
melewati satu ruangan penuh ornamen bunga mawar. Bunga kesukaan Alin.
"Iya
benar. Ba'da Isya acaranya. Kamu hadir, ya. Pakai pakaian terbaikmu.
Ini kan juga acara yang baik. Maka dari itu dek Alin pakai pakaian yang
terbaik."
"Iya. Tapi, baju saya di Tokyo semua."
"Ya sudah nanti Bapak pinjamkan punya istri."
"Baiklah."
Alin
sama sekali tidak mencium gelagat aneh. Ya, pernokahan memang.sebuah
acara sakral dan sangat baik. Makanya, semua perkataan Pak Sanusi masuk
di akal Alin.
Ba'da, Isya...
Selesai
sholat Isya di rumah Pak Sanusi, Alin dihampiri istri Pak Sanusi, Bu
Zainab. Bu Zainab menyerahkan gamis berwana pink yang cantik, sederhana.
Tapi, sangat anggun. Bu Zainab menyuruh Alin segera berhias. Acara
segera dimulai. Bergegas Alin.merias dirinya. Sepuluh menit kemudian
Alin sudah berdiri di pintu, Bu Zainab menoleh dan mambaca tasbih
berulang kali.
"Kamu cantik sekali nak. Mari.kita berangkat."
"Siapa yang mau menikah, Bu?" Tanya Alin penasaran.
"Kamu benar-benar mau tahu?"
"Iya."
"Kamu."
Alin melongo.
"Yang benar, Bu?"
"Iya.
Calon suamimu tidak datang ke Tokyo karena tengah sibuk mempersiapkan
semuanya. Termasuk baju ini." Jawab Bu Zainab sambil menunjuk baju yang
dikenakan Alin.
"Benarkah? Subhanallah. Dia baik sekali."
"Iya."
Sujud
syukur Alin kepada Allah. Pernikahannya ada didepan mata. Para malaikat
berbondong-bondong turun ke bumi Kobe untuk menjadi saksi pernikahan
Alin.
"Terima
kasih Allah." Ucap syukur Alin sekali lagi ketika ijab dan kabul sudah
diucapkan. Alin belum juga.melihat wajah sang suami dengan jelas. Tapi,
kemudian Bu Zainab mempersilakan Alin menghampiri dan menyalami
suaminya. Dan betapa terkejutnya Alin ketika dia berhasil sepenuhnya
melihat wajah sang suami.
"Ilham! Apakah benar ini kamu?"
"Iya Alin."
"Subhanallah. Kamukah suami saya sekarang? Yang tadi mengucapkan ijab dan kabul?"
"Iya Alin."
Air
mata tak sanggup dibendung Alin. Tumpah seketika karena rasa syukur
yang sangat besar. Disalami dan diciumnya tangan Ilham. Ilham mencium
kening Alin. Semua hadirin berkaca-kaca. Bu Zainab sudah menghabiskan
setengah kotak tissue. Pak Sanusi yang menjadi wali pun ikut terharu.
Semua bahagia. Allah menjadi saksi dan ribuan malaikat tersenyum.
Sedangkan syaitan lari karena geram dan malu.
Disini,
ya di Masjid kota impian Alin. Terukir kenangan yang lebih dari indah
dari pelangi, lebih harum dari melati, lebih dan lebih lagi.
Allah
mempertemukan dua insan yang sangat jauh dari jarak pandang mata,
berlawanan arah, dipisahkan untuk kemudian dipertemukan dalam keadaan
lebih baik dalam waktu yang lebih tepat. Allah maha mengatur segala hal,
yang membolak-balikkan hati manusia. Yang sudah menetapkan jodoh di
Lauhul Mahfudz. Kita hanya menunggu, hanya menunggu dengan terus
memperbaiki diri. Biarkan Allah yang mengatur segalanya.
EPILOG
"Aku mencintamu."
"Aku juga, istriku."
Dalam
pesawat menuju Indonesia Alin tak pernah melepaskan genggaman tangan
Ilham. Cintanya sudah berlabuh. Pelabuhan terbaik yang sudah Allah
berikan. Pelabuhan terbaiknya kini sudah disampingnya. Siap menjaganya
siang dan malam, mengimami sholat lima waktunya. Indah sekali. Semakin
erat alin menggenggam jemari Ilham. Tak mau lagi berpisah.
END
Terima kasih sudah membaca.
_alQueen_March, 21 2014_
Dipublikasikan ulang di blog ini 15 Juli 2016
Link: https://www.wattpad.com/story/13893033?utm_source=android&utm_medium=facebook&utm_content=share_reading&%26wp_page=reading_part_end&wp_uname=alQueenCy&wp_originator=TokSndMRV7V1TTIieXjXhfQqETuKTHbvsX85NeCcSe65zeuARbNMHZ0bF921rgjHJ%2BHPEE9xJjSwHKAHZubUBWWrQh50O2mRm%2BuNklgEbdONWDaGx0yv6lLFJ7wWdsFK

0 komentar:
Posting Komentar