Sabtu, 16 Juli 2016

JANJI -やくそく-

Edit Posted by with No comments

 JANJI -やくそく-
 Picture by Google - diedit by saya


 Yuhuuu! Masih berlatar cerita di Negeri Sakura, Jepang. Seperti judulnya, flash fiction ini bercerita tentang sebuah janji. Yang terkadang tidak akan pernah ditepati (hiks hiks, mellow banget). Tapi, c'est la vie mau gak mau ya kudu diterima, kan, ya. (T.T)

Penasaran? Yuk, segera baca aja!

Oh iya, janji dalam bahasa Jepangnya yakusoku.

Selamat membaca....

JANJI -やくそく-
"Aku akan berdiri dan bersender di pintu kereta menemanimu hanya sampai lulus SMA," ujar Ryu.

"Kenapa hanya sampai lulus SMA?"

"Karena setelah lulus, aku akan ke Amerika. Aku akan berdiri di pintu pesawat. Haha."

"Ish! Dasar!"

***

Ryu memang selalu begitu, sejak mulai SMP, dia selalu senang berdiri menyender pada pintu kereta jika kami pergi dan pulang sekolah, entah karena kereta penuh ataupun kosong, dia tetap saja berdiri.

"Kau jangan coba-coba mengambil alih tempatku ini, ya, Aiko!"

"Tidak akan! Itu, kan, bahaya," jawabku meringis.

Tak terasa hari ini adalah hari kelulusan SMA. Tak terasa pula Ryu sudah menemaniku selama bertahun-tahun, pulang-pergi naik kereta bersama.

"Ryu, apa hari ini aku sudah tampak dewasa?" tanyaku pada Ryu saat kami hendak berangkat. Ryu hanya tersenyum.

Acara kelulusan berlangsung haru-biru. Banyak di antara kami yang tidak rela meninggalkan sekolah. Banyak juga yang bersorak karena akan segera enyah dari masa SMA. Aku? Aku hanya ingin selalu bersama Ryu, ke mana saja Ryu pergi.
Selesai acara, aku celingukan mencari sosok Ryu. Tapi, tidak juga aku temukan. 
Padahal, aku ingin meminta kancing bajunya.

"Jangan sampai keburu direbut adik kelas!" kataku.
Aku berlarian keliling dari kelas ke kelas mencari Ryu. Tapi, dia tetap tidak ada.

"Satomi, apa kau melihat Ryu?" tanyaku pada Satomi, teman sekelas Ryu.

"Ryu? Siapa Ryu?"

Aku berkali-kali menjelaskan siapa Ryu. Tapi, Satomi tetap tidak tahu. Aku bertanya pada yang lain. Jawabannya tetap saja sama.

"Kenapa dengan mereka?! Belum juga selangkah meninggalkan sekolah, mereka sudah melupakan teman sendiri!" Aku kesal.

"Ryu? Aku pernah dengar tentang nama itu," kata seseorang tiba-tiba, ternyata Keita, kakak sekelasku.

Aku menoleh dan tersenyum.

"Benarkah? Di mana dia sekarang?" tanyaku penasaran.

"Kalau tidak salah, dia adalah siswa sekolah ini. Namanya tercatat di buku absen pada hari pertama. Namun, tepat hari itu juga ia tidak masuk kelas dan tak pernah masuk kelas."

"Heh?!" Aku bingung.

"Iya, dia meninggal saat hendak berangkat ke sekolah di hari pertama. Ia jatuh dari kereta karena pintu kereta yang disandari tiba-tiba rusak dan terbuka. Ia tergilas roda kereta dan meninggal."

Aku tercengang. Tidak mungkin Ryu meninggal, sedangakan ia setiap hari menemaniku pulang-pergi sekolah. Tapi, ya! Aku ingat. Hari pertama masuk SMA kami tidak berangkat bersama karena aku diantar oleh ayahku ke sekolah.

"Jadi, selama ini...?"

Aku histeris, menangis seperti orang kerasukan. Tak pernah kusangka Ryu sudah begitu lama meninggalkanku. Namun, ia menepati janjinya yang akan selalu menemaniku pulang-pergi sekolah dengan selalu bersandar di pintu kereta.

***

Aku pulang naik kereta bersama Tomoko. Tak kulihat Ryu berdiri di sana, bersandar di pintu kereta lagi. Ia sudah terbang, jauh, dan tak 'kan pernah kembali.

#SELESAI#

HK, 171214
alQueen
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 16 Juli 2016

Link: https://www.wattpad.com/myworks/31249502-janji-%E3%82%84%E3%81%8F%E3%81%9D%E3%81%8F


0 komentar:

Posting Komentar