Sabtu, 23 Juli 2016

Pohon Itu Sekarat Separuh (Opini Tentang Jakarta)

Edit Posted by with No comments

 


Pohon Itu Sekarat Separuh


Versi 1

Aku melihat sebuah belantara, di mana salah satu pohon terbesarnya mengalami sekarat separuh. Daun-daunnya ranggas, bahkan tunas yang belum sempat menggeliat pun ikut tewas. Padahal, ranting-rantingnya terlihat sangat kokoh, berwarna cokelat gelap dengan lengan-lengan dahan yang mencuat gagah dan sedikit memberikan kesan pongah. Di bagian tertinggi pohon itu, tampak dedaunan yang hijau lestari. Banyak burung yang hinggap di sana, bersarang, beranak-pinak, hidup sentosa pada dahan-dahannya. Dan sebagian dedaunan sisanya menguap malas, mulai menguning warnanya dan sepertinya enggan untuk melanjutkan penunasan. Ironi, sangat ironi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada pohon itu? Tidakkah semestinya jika hijau berarti hijau keseluruhan? Atau jika memang hendak layu, layulah semuanya?

Suatu hari, datanglah sekawanan cacing padaku. Dengan suara parau, mereka terisak.

“Kami tak lagi sanggup hidup di sana,” kata salah satu cacing sembari menunjukkan pohon tadi.

“Kenapa?” tanyaku.

“Tanahnya terlalu padat, sesak dan kami hampir mati tercekik bau busuk dari akarnya,” timpal cacing yang paling kurus.

“Kenapa gerangan dengan akarnya?”

“Akarnya rusak, busuk hampir di semua bagian. Banyak ulat tanah yang bergerumul di sana. Memakan nutrisi untuk pohon itu,” terang cacing dengan perut buncit.

Tak lama berselang, datang pula ulat-ulat daun. Mereka menceritakan bahwa sumber makanannya kini sudah menipis. Jika mereka mau tetap makan, maka mereka harus menjangkau dedaunan paling tinggi. Tentunya dengan resiko yang tinggi pula.

“Kami tak akan tahan. Banyak burung yang siap memangsa kami. Dan dedaunan itu terlalu tinggi untuk dapat kami jangkau.” Begitulah penuturan mereka.

Kembali kuperhatikan pohon itu. Tanahnya memang sangat padat, sampai para cacing enggan untuk menggemburkannya kembali. Akarnya membusuk, tak dapat bergerak bebas mencari jalan untuk memanjangkan hidupnya dan juga hidup pohon yang berdiri di atasnya.

Begitulah sebuah pohon. Pada akarlah ia bergantung. Akankah ia hidup lestari atau mati mengenaskan, kering, rapuh dan binasa? Tunas-tunas yang tumbuh subur pada pucuk itu merupakan tunas dengan daya tahan luar biasa. Mereka tahan terhadap cuaca dan hama. Bahkan ada yang rela sampai menjadi parasit pada pohonnya sendiri. Demi mencari jalan agar hidupnya tetap berlanjut.

Padahal, tak ada yang luput dariku. Belantara itu terbuka, menghadap ke langit yang sama. Pepohonan itu juga selalu sama, mencari sumber di mana mereka dapat bergerak terus ke atas, menjadi pohon yang dewasa. Namun, tampaknya berbeda dengan pohon besar itu. Akarnya, sebagai penguasa utama, telah rusak, membusuk. Lambat laun, jika keadaannya terus begini, semua bagian pohon itu akan mati. Kecuali para parasit yang akan mencari inang-inang baru untuk melanjutkan hidupnya.

Sampai saat itu, aku akan tetap berlaku adil. Memberikan kebutuhan bagi pepohonan yang memang sangat membutuhkanku. Aku akan tetap menerangi semesta dengan seadil-adilnya. Keputusan akhir, ada pada pohon itu sendiri. Apakah ia sanggup bertahan dengan berbagai hama perusak atau menyerah dan mati.

PM, 140615
AlQueen


Versi 2

Bagai pohon dengan berjuta ranting. Itulah Jakarta bagiku. Kota di mana hampir semua segi kehidupan Indonesia ada di sana. Saling bertimbunan satu sama lainnya, bertumpuk-ruah dari berbagai aspek. Adakah yang salah dengan Ibukota negara kita ini? Seperti halnya 'capital city' di seluruh dunia, sudah menjadi hal yang mutlak jika Jakarta menjadi kota yang padat, sesak dan sibuk. Namun, di mataku, Jakarta adalah pohon besar yang berakar rapuh. Sebagian besar ranting-rantingnya sekarat. Hanya bagian atas dan juga parasit yang tumbuh pada inangnya yang masih terlihat hijau lestari.

Jakarta menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku. Semua hal hampir bisa kudapatkan di sini. Mungkin hanya satu yang sulit kudapatkan, yaitu udara bersih. Hampir di setiap sudut jalan Ibukota tercemar udara polusi.

Selain polusi, pemerataan kehidupan di Jakarta juga tak rata. Seperti pohon yang aku umpamakan tadi, Jakarta memiliki banyak aspek dan sisi kehidupan. Dari hal yang positif hingga yang negatif. Semuanya ada. Begitu pula dengan kasta masyarakatnya. Dari yang terbawah sampai para konglomerat sukses nangkring di Jakarta. Masyarakat dari berbagai daerah seolah tersugesti bahwa hanya di sinilah tempat mencari pekerjaan yang dapat membuat hidup lebih baik. Pohon besar memang selalu menjadi incaran banyak satwa untuk mencari tempat penghidupan dan makan, bukan? Maka dari itu, banyak warga kampung yang rela berdesakan, berlelah-lelah untuk sampai di Ibukota. Tak banyak yang didapatkan sesampainya di sini. Hanya sedikit yang mampu bertahan pada kerasnya Ibukota. Bak ulat daun yang siap termangsa burung. Yang mempunyai modal dan ketahanan lemah akan kalah dengan mereka yang mempunyai modal dan ketahanan lebih kuat, begitu seterusnya. Hukum rimba seolah sangat berlaku di Jakarta.

Tunas yang belum sempat menggeliat pun ikut tewas. Banyak aborsi terjadi di ibukota. 'Free sex' agaknya sudah menjadi 'lifestyle' anak muda Jakarta. Yang menurut sebagian orang, keren dan gaul. Sehingga, saat mereka 'kecelakaan' dan mereka belum siap, satu-satunya jalan yang akan mereka tempuh adalah aborsi. Mengerikan. Setiap tahunnya selalu meningkat.

“Kalau dari data yang kita pakai, Survei Demografidan Kesehatan Indonesia (SDKI), peningkatannya sekitar satu persen,” kata Kepala BKKBN, Fasli Djalal via CNN Indonesia (29/10/2014)

Selain itu, kehidupan religius mereka pun mulai tergerus budaya asing. Menyerang akar, langsung pada sasaran empuknya, anak muda. Banyaknya warga perantau, yang tidak hanya dari kalangan orang tua tetapi juga anak muda menjadikan mereka jauh dari keluarga, jauh dari orangtua, jauh dari bimbingan terpenting dalam kehidupan. Anak muda dipaksa dididik oleh lingkungan. Untung, jika lingkungannya menyajikan hal yang positif. Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Miris. Ditambah gaya hidup hedonisme. Yang menyulap segalanya menjadi halal. Hal apa pun akan dilakukan untuk memenuhi gaya hidup perlente itu.

Di mataku, Jakarta sudah terserang hama tingkat parah. Akarnya sudah mulai membusuk, tanahnya sudah padat dan sesak. Siapa yang harus bertanggung jawab dengan semua ini? Jangan tanya siapa? Jawabannya, mulailah dari diri kita sendiri. Jika kita cinta negeri ini, cintai pula Ibukotanya, yang merupakan sumber kekuatan dan harga diri di mata global. Berkaryalah! Dan kembali pada gaya hidup Indonesia yang disegani bangsa lain. Namun, tetap santun dan terhormat.

PM, 140615
AlQueen

Selesai

Tulisan ini dibuat untuk sebuah event 'Opini Jakarta'. Tapi, sayang nggak menang. Nggak apa-apalah, ya, tujuannya saya nulis ini juga bukan semata ingin menang dan dapat hadiah. Tapi juga menjadi semangat agar saya tetap menulis. Kalo menurut kalian Jakarta itu seperti apa, sih? Silakan curahkan opini kalian tentang Jakarta di kolom komentar. Berharap bisa saling share dan memajukan Bangsa kita, Indonesia. Terima kasih.

Me, Between Spring and Summer (CETAR-Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with No comments





Hello.... It's Satnite, isn't it? Alright, I come back with the new part of my CETAR, Me, Between Spring and Summer. Are you jomblo? Kikikiiikkkk. It's ok if you're jomblo. NO PROBLEMO. Here I am, will accompany you with my CETAR. Happy reading. Hope you'll like it. Hit +1 below if you like my cetar. Thank you, all. Have fun!


Dua

 
Entah sejak kapan, setiap kali istirahat jam pelajaran, Kak Beno duduk di teras kelasnya dengan pandangan lurus menatapku. Yah! Menatapku yang suka sekali duduk di teras kelasku sambil makan jajanan kantin. Aku jarang duduk beramai-ramai di kantin saat istirahat, aku lebih suka duduk di teras dengan semilir angin yang sejuk, yang terkadang membuatku mengantuk dan malas mendengar bel tanda istirahat selesai berbunyi. Apalagi, akhir-akhir ini, Kak Beno rajin memandangiku dari kejauhan. Semula, kukira bukan aku yang menjadi objek penglihatannya. Namun, bahkan saat aku duduk sendirian pun, Kak Beno masih tetap memandang ke arahku. Sungguh, hatiku tidak menentu. Apalagi jika di situ ada Kak Beno dan Kak Doni duduk bersama. Mana yang harus kupilih, Tuhan?

Aku meringis dengan semua lamunan-lamunanku. Padahal aku tidak tahu perasaan kedua kakak kelasku terhadapku itu bagaimana. Namun, aku sering menghayal kisahku akan sama seperti drama-drama Korea atau seperti komik-komik romance yang belakangan ini aku sering baca. Semuanya tampak indah dan pastinya happy ending. Bahkan, aku sekarang rajin menulis diary, mengarang puisi, dan yang lainnya. Yang dulu kurasa norak dan tidak ada bagus-bagusnya curhat dengan benda bisu, tuli dan tak bergerak macam buku ini. Namun, aku ternyata mengingkari dugaanku dulu, karena sekarang buktinya aku sangat rajin menghabiskan tintaku untuk dicorat-coret ke lembaran buku. Lembar demi lembar. Rasanya akan sangat menyebalkan jika sampai lupa menuliskan kejadian yang terjadi karena banyak PR, misalnya.

“Ssst, mau ke mana?” sapa Kak Doni saat aku hendak ke kantin.

“Biasa.”

“Aku mau nanya,” ucap Kak Doni lagi.

“Nanya apa?”

“Emmm... gimana mulainya, ya?” Kak Doni tampak bingun sendiri. “Oke...” Dia tampak bermonolog. “Ajeng...” Ajeng? Rasanya ini kali pertama Kak Doni memanggil langsung namaku. Ada apa...?

“Ajeng...” Kak Doni mengulangi lagi.

“Iya, Kak. Apaan?” tanyaku tidak sabar lagi. Dia masih tampak ragu-ragu.

“Aku ingin melamarmu. Apakah kamu mau dilamar olehku?”

“HEEEEEE?!” Aku kaget setengah mati. Sungguh! Andai saja aku sedang makan atau minum, semuanya kan menyembur sukses di wajah Kak Doni. Tapi, yang terjadi hanya jantungku yang berdegup sangat kencang, hingga rasanya hendak menyebul dari dada. Setelah agak tenang, aku baru membuka mulutku lagi. “Maksud...”

“Hahahahaha...”

Tertawa? Apa-apaan ini?

“Ehm. Gini.... Yang sebenarnya mauk aku tanyakan adalah...”

“Apa?” potongku.

“Kira-kira, kata-kata tadi itu terlalu to the point nggak, ya?”

“Ha?” Aku masih bingung dengan semua maksud Kak Doni.

“Iya. Kata-kata tadi..., apa terlalu ekstrem untuk menyatakan perasaanku pada seorang perempuan?”

“Pastinya!” jawabku mantap. “Siapa juga yang akan bilang itu nggak ekstrem? Pantasnya..., orang yang ngasih pernyataan tadi itu adalah cowok yang udah pacaran lama dan udah matang. Bukan seorang cowok yang masih berpredikat siswa kelas tiga S-M-P.” Aku mempertegas kata SMP, agar Kak Doni sadar bahwa hal yang direncanakannya adalah hal gila untuk seumurannya. Yang bahkan uang saku pun masih meminta pada orang tua. Kak Doni mengangguk-angguk mengiyakan semua teori yang aku berikan.
“Kamu ada benernya juga, ya? Tapi, masalahnya cewek yang mau aku tembak ini tidak akan mau jika diajak berpacaran.”

Ada sebersit rasa sakit di hatiku saat mengetahui bahwa cewek yang didamba Kak Doni bukanlah aku, melainkan orang lain.

“Emang siapa, sih, cewek itu?”

“Adel.”

“Ooohhh.... Pantes.”

“Gimana?” tanya Kak Doni lagi.

“Lagian nekat amat, sih, pake acara mau nembak Mbak Adel segala?! Nggak usah nanya juga, harusnya Kak Doni udah tahu jawabannya, kan?”

“Ditolak...,” jawabnya lemah.

Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku adalah salah satu pengagum Mbak Adel. Kak Adel adalah anak kedua dari Guru Agama di kelasku. Mbak Adel sendiri duduk di kelas 3-A, se-ke-las dengan Kak Beno. Aku sering dengar, kalau sudah banyak cowok yang menyatakan cinta dan kesemuanya itu DITOLAK. Padahal, yang menyatakan cintanya kadang tak ayal dari cowok yang berlatar-belakang keluarga kaya. Kabarnya anak Bupati pun sampai ditolaknya. Entah lelaki seperti apa yang jadi pilihan hati Mbak Adel. Pandanganku beralih ke Kak Doni, sepertinya Kak Doni bukannya terlihat pesimis, dia malah semakin gila menampakkan keoptimisannya untuk bisa lebih jauh mengenal apa yang menjadi kriteria cowok Mbak Adel. Belum selesai pebincanganku dengan Kak Doni, bel masuk berbunyi.

“Tunggu kabarnya Senin depan, Boneka Jepang!”

Sambil berlari, Kak Doni meneriakkan lagi keoptimisannya padaku, yang membuat aku makin ciut dan sakit hati.
“Iya, aku akan nungguin momen di mana Kakak bakalan nangis di depanku. Hahaha,” balasku.

♔♔♔

Hari Senin adalah hari kutukan bagi sebagian besar murid di Indonesia, atau bahkan di dunia. Dan juga bagiku. Namun, Senin ini adalah hari yang dijanjikan Kak Doni waktu itu. Dia akan memberikan jawaban Kak Adel padaku setelah aksi nekad mau melamarnya. Tapi, sampai bel istirahat selesai Kak Doni belum juga muncul menemuiku.

"Palingan juga Kak Doni ditolak dan malu bilang padaku," pikirku saat itu. Dan aku merasa menang sendiri.

♔♔♔

"Kemana aja sih, Kak? Baru nongol?"

Kak Doni baru menemuiku sebulan setelah hari perjanjian itu. Dan selama sebulan itu Kak Doni selalu bersikap cuek padaku. Kalau aku menyapa, dia pura-pura tidak mendengar dan berlalu saja meninggalkan tanda tanya di kepalaku.

Hehe, maaf."

"Dasar!" Meminta maafnya seperti orang yang tidak bersalah saja.

“Iya, dimaafin. Ya udah, jelasin. Jangan pake nangis tapinya. Karena aku tahu, Kak Doni pasti ditolak."

"Hehe, tau aja kamu Jepang."

Ha ha ha.. Aku sungguh merasa menang atas jawaban Kak Doni tadi.

"Beneran Kak Doni ditolak?" Aku pura-pura penasaran.

"Iya, aku ditolak jadi pacar. Tapi, aku diterima jadi calon suami."

"What?!”

"Aku menang!" Jawabnya girang sambil menjitak kepalaku.

Berhubung bel masuk berbunyi, Kak Doni buru-buru pergi. Dia juga belum selesai menceritakan semuanya padaku.

♔♔♔

Ternyata, sebulan Kak Doni tidak menemuiku bukan lantaran dia ditolak Mbak Adel. Tapi, justru karena dia diterima. Kata Kak Doni, Mbak Adel awalnya juga menolak. Tapi, Kak Doni tidak menyerah. Kak Doni terus meyakinkan Mbak Adel kalau dirinya mampu bertahan dengan komitmennya untuk suatu hari bisa menikahi Mbak Adel. Dan Mbak Adel menyetujuinya tentunya dengan syarat. Entah syarat apa yang diajukan, Kak Doni merahasiakannya dariku.

"Nanti juga aku cerita, Jepang."

Itulah jawaban Kak Doni setiap aku penasaran dengan syarat yang diajukan Mbak Adel padanya.

Aku patah hati. Walau Mungkin tidak sampai terluka. Tapi, rasanya tetap sakit. Apalagi Kak Doni bilang, dia akan lebih jarang berkomunikasi denganku.

"Jepang, maaf, ya. Kalau akhir-akhir ini aku jarang menemuimu di pojok kantin? Hehe,” ucapnya yang semakin membuatku sakit.

"Ini juga dalam rangka memenuhi syarat yang Adel berikan padaku."

"Aku mengerti."

Mungkin Mbak Adel tidak suka dengan kedekatanku dan Kak Doni. Pikirku.

Akupun kembali ke asal. Kembali ke kehidupanku sebagai siswi kelas satu. Dan Kak Doni kembali menjadi kakak kelasku yang biasa. Sampai tiba-tiba, suatu hari aku menerima surat cinta.

♔♔♔

To be continued....

Rabu, 20 Juli 2016

A[RM]A

Edit Posted by with No comments

 





A[RM]A

 
2015

Siapa pemuda itu? Pemuda yang pada sorot matanya membuat jantungku berdegup sangat kencang. Pemuda yang setiap langkahnya menggemakan derap di jantungku, membuatnya semakin kelabakan menahan rasa yang entah.

“Dia anak baru,” terang Leysa.

“Dari?”

Leysa mengedikka bahu, tanda dia tak tahu.

Fiuuuhhh....
Rasa sesak kembali menyelimutiku ketika dia tersenyum padaku saat kami berpapasan di beranda kantor. Disambut bisik-bisik heboh karyawati yang juga disenyumi olehnya.

“Arma namanya, Jeng Allice. Serius amat ngelihatinnya,” sambar Leysa lagi saat mendapati aku terbengong menatap langkahnya.

“Oooh.”

Perlu bermenit-menit aku menyadarkan diri. Semakin aku menatapnya dadaku semakin sakit. Sampai sesak napas dan hampir pingsan dibuatnya.

“Arma... Arma... Arma...,” gumamku tiada henti sepanjang 'meeting' berlangsung.

Sampai pada akhirnya... gelap!

***

Mataku sayup-sayup terbuka. Mendapati sebuah gembok berwarna silver yang sudah hampir tak berwarna karena karat menjalari seluruh permukaannya di tanganku. Ada sebuah nama terukir di sana, Allice, dengan 'font' klasik yang sangat aku sukai. Mengesankan gembok itu semakin tua. Dan di tanganku yang satunya tergeletak sebuah amplop biru kusam, tertera di permukaannya; 'Dear Allice'.

Kubuka perlahan amplop itu sambil memegangi dada kiriku yang terasa ngilu.

'Ini dariku, surat ini kutulis hari ini, 7 September 2004. Tapi, entah hingga kapan akan sampai di genggaman jemarimu yang sulit kujamah. Bersamaan dengan selesainya surat ini ditulis, kugantungkan sebuah gembok berukir namamu, Allice, pada pintu kamarku yang juga berwarna biru langit, warna kesukaanmu. Aku mencintaimu, hingga Tuhan menghabiskan masa kontrakku di bumi ini.'

Terselip juga sebuah potongan kertas berbentuk hati, di sana tertulis; '2010. Aku telah bersamamu, aku akan merasakan segala yang kaurasa karena aku ada dalam dirimu, selamanya.'

DEGGG!!!
Kurasakan ada yang tersekat di antara pembuluh darah dari otak ke jantungku, saat kubaca sang penulis, R. A.

“Operasi berjalan lancar, transplantasi jantungnya berhasil dengan sangat baik.” Derap langkah semakin mendekati ruangan di mana aku terbaring. Pintu dibuka. Wajah Ibu dan ayahku terihat lega, meski mata mereka sembab. Dokter menyalami Ibu dan Ayah bergantian, lalu menoleh ke arahku dan tersenyum hangat.

“Itu dari pendonor jantungmu, Nak,” ujar Ibu menunjuk ke arah benda-benda di atas bangsalku.

“APA???” Gembok terjatuh dari genggamanku dan tautannya terbuka. Serpihan karatnya terserak di lantai putih bersih.

“Ronald? Bukannya dia pindah ke Belanda sejak lulus SMP? Lalu?” Aku meracau tiada henti.

“Jadi, Ronald namanya, bukan Arma, ya?” Ayah tampak bingung.

“Ronald Armadi, Ayah,” terang Ibu dan Ayah mengangguk paham.

***

2015

Mataku terbuka perlahan. Sakit di dada kiriku sudah mereda.

“Arma... di mana dia?” Aku celingukan mencari sosoknya.

“Entahlah, dia nggak kelihatan dari tadi, sejak kamu pingsan.”

Suasana rumah sakit ini sangat menusuk jantungku. Mengingatkan kembali pada mimpi tadi dan kejadian betahun-tahun silam. Dia Arma, Ronald Armadi yang sama. Hanya saja dia tampak lebih tinggi dan semakin tampan. Tapi??? Bukankah dia sudah meningal dan merelakan jantungnya untukku.

Kusapu pandang, lalu, mendapati sosok Arma di sebalik pintu, tersenyum hangat. Sedetik kemudian, dia lenyap bagai kabut pagi.

SELESAI

IM, 150415
alQueen
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 20 Juli 2016

Hutan yang Dijanjikan Pembual Warung Tuak

Edit Posted by with No comments






Hutan yang Dijanjikan Pembual Warung Tuak


Sejauh mata memandang hanya ada savana. Tak ada yang lain. Jika mata ini hendak tertutup, maka hanya itulah yang ada. Namun, tidak demikian untuknya. Di sana ada sebidang punggung, sekotak asa, setangkup harap dan sekoper butut kesendirian. Tertunduk, menyusuri jalan selebar hasta manusia dewasa. Mengharap takdir bisa berubah, seperti padang savana yang diimpikan berubah menjadi hutan selebat Amazon. Mungkin. Tak mungkin. Mungkin.

Ia siapa? Aku? Mungkin bukan. Ia hanya seseorang dengan baju lusuh tahun 60-an, celana yang mengatung sampai betis, tak layak disebut celana borju. Topi dan segenap yang terpakai adalah barang lama. Sudah kolot, sepuh dan hampir tak bernyawa.

“Mau ke mana, kau, Dawan?” tanya seorang wanita dengan encim melekat tanpa kancing. Hanya peniti saja yang sanggup ia sematkan.

“Ke masa depan.”

“Masa depan di mana yang kaumaksudkan?” tanyanya lagi, dengan sirih menyembul dari sela-sela geraham.

“Yang dijanjikan Tuhan, dan para penguasa. Masa depan yang tak segersang padang rumput kering dan jalan penuh debu, berkerikil tajam. Ah! Sama seperti titah penguasa. Selalu saja tajam, kejam.”

Diliriknya wanita tadi, ia hanya menggeleng sambil melenggang. Lalu, mengambil biji-biji jagung yang telah ditumbuk. Yang kelak akan berubah menjadi makanan super lezat. Setidaknya itu menurutnya, karena telah seumur hidup menjadi hidangan utama dan satu-satunya.

'Ada pekerjaan di kota, Dawan. Apa kau tak mau bergabung? Tak kaulihat si Manto, dia kini sukses. Punya toko sendiri di kota sana.' Itulah sepenggal celoteh sore para pengangguran seperti Dawan. Yang kerjanya berjudi ayam dan meminum tuak yang sebagian besar dari hasil mengutang.

Dawan menatap cermin yang retak-retak, dipandanginya wajah penuh kesengsaraan. Wajah penuh luka tak tampak. Kotak usang, yang ia sebut koper bertengger lesu di atas dipan tak bertilam. Namun, selalu saja penuh kutu kupret yang menjijikan.

“Semoga kau sukses di rantau kelak, Dawan,” ujar wanita tadi meletakan kemeja putih yang sudah tak putih lagi, yang telah disetrika arang olehnya.

Bau pandan bercampur 'sereh' menyeruak saat lipatan demi lipatan dibukanya.

“Saya siap!”

***

“Hei, Kau! Jangan diam saja di situ. Langgananmu sudah panjang mengantri, sudah mirip gerbong kereta.”

Lamunan buyar seketika. Dengan malas dilangkahkan kaki. Dituntaskannya pekerjaan hari ini demi bisa membelikan Amaknya kancing dan sirih baru. Pekerjaan yang membuatnya muntah-muntah setelah menyelesaikannya. Bagaimana tidak? Sebaris langganan, yang tak lain adalah wanita-wanita Tionghoa yang kadang sudah tak mempunyai gigi, yang tetap saja rindu pada belaian suaminya yang mati perang itu, menjijikan! Kau tahu maksudnya, hah?! Dengan dihujani uang beberapa rupiah, siapa pun tak menolak. Apalagi untuk lelaki sekelas Dawan, pemilik kasta terendah. Hidup miskin dan kelak mati juga mungkin dalam keadaan miskin.

Itu hutan yang dijanjikan, entah oleh siapa. Tuhan? Atau penguasa yang tak mau tahu nasib rakyatnya. Atau para pembual warung tuak? Akankah selebat belantara, atau akan mati kekeringan dan kembali ke ladang savana?

Selesai

alQueen
PM, 260615
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 20 Juli 2016

Me, Between Spring and Summer (CETAR - Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with 2 comments






Satu


Mulai hari ini, aku resmi menjadi siswi SMP. Selain merasa lebih dewasa, rasanya aneh bertemu dengan orang-orang baru yang sebagian besar tidak pernah aku kenal sebelumnya. Aku lulus tes masuk SMP ini dan masuk di kelas A, yang kata orang merupakan kelas unggulan. Namun, bagiku masuk kelas mana pun tidak masalah selama aku bisa sekolah. Suasana di sini tidak jauh berbeda dengan SDku dulu, yang membedakan hanya seragam, dari putih-merah menjadi putih-biru dan tentunya teman-teman baru.
“Hey! Boleh aku duduk di sebelahmu?” Suara itu membuyarkan lamunanku.
“Ehmmm..., boleh. Silakan!”
“Aku Sasa. Kamu?” tanyanya sembari mengulurkan tangannya. Aku bingung. Tapi, pada akhirnya aku balas uluran tangannya.
“Akuuu... Ajeng.”

Mulai sekarang, Sasa akan menjadi teman sebangkuku. Teman pertama yang mengajakku berkenalan dan mengobrol. Aku merasa kalau Sasa adalah anak yang baik, asyik diajak berbicara, manis dan lucu. Tapi, kalau urusan cerewet, tentu saja aku ahlinya. Perkenalan dan obrolanku dengan Sasa harus terhenti karena aku melihat satu sosok yang tidak asing lagi menutupi pandanganku.

“EGIII?!!!”

♔♔♔

Semangatku tak pernah pudar untuk tetap berangkat sekolah. Walaupun pada kenyataannya, sikap Egi benar-benar tidak sejalan dengan pikiranku. Egi yang dulu aku harapkan akan manis padaku, ternyata dia berbeda 180 derajat. Kami sangat tidak bisa akur. Ya, sudahlah, mau diapakan lagi kalau yang terjadi justru sebaliknya. Setiap hari perang mulut selalau saja terjadi. Egi semakin bertambah usil tiap harinya, menyebalkan dan selalu menggerutu tiap kali aku maju menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

“Orang, tuh, ya, ada malunya dikit napa? Masa setiap pertanyaan guru maunya kamu doang yang jawab. Emangnya di kelas ini siswanya cuma kamu?” ejek Egi.

“Ya biarin aja. Kalau kamu emang bisa jawab pertanyaan guru, ya, yinggal jawab aja. Gitu aja, kok, repot!” Suaraku meninggi, aku kesal bukan main.

“Ilmu itu seperti pakaian dalam. Semua orang memilikinya. Tapi, nggak bisa dipamerin sesuka hati, seenak jidat.” Dia kembali berteori. Membuatku semakin kesal.

“Apa?! Terserah aja, deh. Lagian menjawab peratanyaan guru itu adalah hak semua siswa, termasuk aku. Dan... WHAT I WANNA DO, JUST DO WHAT I WANT!” Kutinggikan nada bicaraku.

“Dasar pamer! Pergi sana ke galeri atau pameran!” ucap Egi sebelum akhir dia pergi keluar kelas.

“Usil banget, sih, tuh, anak!” gerutuku sambil mencari-cari dompetku dalam tas. “Ke mana, sih, dompet? Ya ampuuunnn....”

Ternyata dompetku tertinggal di ruang tamu rumah. Aku lupa membawanya karena terlalu sibuk menyiapkan bahan diskusi hari ini. Dan parahnya, ketika aku merogoh saku baju, yang tersisa hanya lima ratus rupiah. Mampus! Pulang pake apaan? Aku akhirnya pasrah dan terduduk di kursi sambil menahan kesal. Kesal karena pertengkaranku denga Egii dan kesal karena kecerobohanku, sehingga dompet tertinngal.

“Kenapa, Jeng? Kok manyun gitu?” Sasa datang memergokiku tengan memmonyongkan bibir.

“Dompetku ketinggalan di rumah. Gimana pulangnya?” Setengha menangis aku bercerita.

“Mau pinjam punyaku?” tawar Sasa.

“Nggak usah, Sa. Kalo kamu minjemin aku, kamu sendiri gimana baliknya?”

“Eeemmm..., iya juga, sih.”

Aku hanya tersenyum kecut atas kebodohanku. Aku tahu benar, bahwa kehidupanku tidak terlalu berada. Namun, jika dibandingkan dengan kehidupan Sasa, aku jauh lebih beruntung. Tidak lama setelah ibunya meninngal, ayahnya kabur entah ke mana. Dia harus rela melenyapkan waktu bermainnya dengan bekerja setelah pulang sekolah. Semua itu demi mencukupi hidup dirinya dan kedua orang adiknya yang masih kecil. Saat Sasa berangkat sekolah, kedua adiknya dititipkan di tetangga. Sasa rela bekerja apa saja agar dia dan adik-adiknya dapat makan dengan layak.


Sekali pun hidupnya sangat berat dijalani, Sasa tak pernah mengeluh kepada teman-teman. Hanya sesekali saja kepadaku. Munkin, karena aku sudah dianggap sebagai sahabatnya.Ketika ingat semua tentang Sasa, aku merasa sangat tidak berguna. Aku merasa terpojok dan keci sekali. Sasa, tanpa dia menggerutuiku yang kadang masih suka protes jika diberi uang saku sedikit, tanpa dia sadari, aku belajar banyak hal dari sikap dan sifatnya. Terima kasih, Sasa. Aku melihat Egi masuk ke kelas dengan wajah sok cuek. Dia melihatku sebentar, lalu membuang pandangannya ke depan.

“Kalian itu cocok.” Sasa terkekeh melihatku cemberut.

“COCOK?! Cocok dilihat dari Monas menggunakan sedotan dan kemudian jatuh telungkup ke tanah?” timpalku sambil ikut tertawa.

♔♔♔

Bel tanda pulang sekolah berbunyi, aku masih duduk di dalam kelas. Satu per satu teman-temanku meningalkan kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku melihat Egi tengah membereskan peralatan tulis-menulisnya. Aku memerhatikan punggungnya dari bangkuku. Berharap ada keajaiban, Egi menghampiriku dan bertanya dengan manis. Lalu, mengantarkanku pulang. Tapi, kenyataan yang terjadi padaku, apalagi yang berkenaan dengan Egi selalu saja pahit. Boro-boro Egi menghampiri dan mengantarku pulang, menengok saja tidak. Dia ngeloyor pergi tanpa menoleh ke arahku. Sadis!

Aku melihat sekeliling sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Aku sendirian. Aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. Tentang hantu, dan sebagainya. Hantu di lingkungan sekolah selalu lebih menyeramkan dibanding hantu yang berkeliaran di area makam, bagiku. Hiiiy. Aku begidik. Lalu, segera keluar dari kelas dengan langkah lebar-lebar.

“Kok, baru keluar kelas?”

Sungguh, aku hampir pingsan dengan jantung melompat sempurna melalui mulut, lalu, berguling ke lantai, lalu, mendebam tanah dan kembali terguling-guling sampai akhinya masuk ke dalam got berisi air 'super jernih' itu, kalau saja orang yang mengagetkaku barusan tidak menopangku.

“Ada tugas yang harus diselesaikan dulu? Atau merapikan catatan?” Ternyata itu Kak Doni, kakak kelas dari kelas tiga. Dia adalah sahabat dari Kak Beno, orang yang aku sukai sejak MOS.

“Eh, nggak,” jawabku tergagap.

Kami berjalan menuju gerbang sekolah bersama. Dalam perjalanan, Kak Doni masih saja menanyaiku ini dan itu. Kadang, dia juga menyebut nama Kak Beno. Ah! Pipiku memanas setiap kali nama Kak Beno disebut.

“Wah, pipimu memerah. Lucu. Pantesan aja Beno selalu bilang kamu mirip boneka Jepang?” Hah?! Boneka Jepang?

“Mungkin karena panas saja,” kataku sekenanya.

“Iya juga, sih. Hari ini panas. Padahal udah agak sore, ya?”

“Eh, iya.”

Kak Doni celingukan mencari sesuatu.

“Kalo ada angkot, langsung naik aja, ya?! Panas banget. Nanti, bukan cuma wajahmu yang memerah, tapi juga semua kulitmu memerah dan itu tak akan lucu lagi.” Kak Doni terkekeh atas perkataannya sendiri. Sial! Sekitar lima menit menunggu, akhirnya angkot datang juga. Aku belingsatan. Rasanya aku mau lari saja dari Kak Doni. Tapi, tanganku ditariknya dan aku dipaksa masuk ke dalam angkot. Apa-apaan ini?Hadeeeh!

“Pak, ini bayarnya dia.” kata Kak Doni menyodorkan lembaran uang ke sopir sambil menyiratkan bahwa ongkos itu untukku.

Aku salah tingkah, di satu sisi aku malu bukan main karena haru diongkosi oleh Kak Doni. Di sisi lain, aku selamaaattt. Terima kasih, Tuhan. Kulihat tubuh Kak Doni perlahan mengecil, karena angkot yang kutumpangi mulai bergerak. Rumah Kak Doni berbeda arah dengan rumahku. Dia biasa menaiki sepeda pergi-pulang sekolah.

Pulang juga?” Suara itu? “Kirain mau nginep semalam suntuk di kelas. Atau mau gantiin satpam jaga malem?”

“Egi?”

Aku mencoba senetral mungkin, walaupun kenyataannya aku kaget bercampur heran. Perasaan Egi udah pulang dari tadi. Kenapa?

“Kenapa, kehilangan?” tanya Egi dengan ekspresi datar, tapi seolah meledek.

“Idih, pede banget! Eh, bentar, deh. Perasa kamu udah pulang dari tadi. Kenapa malah jadi pulang bareng gini, sih? Jangan ilang kalo kamu...”

“Jangan ge-er!” Raut mukanya seperti orang baru tertangkap basah mencuri sesuatu, namun bisa ditutupinya segera.

“Bodo! Lagian bukan urusanku. Terserah kamu mau pulang apa nginep atau mau gantiin satpam jagain sekolah malem hari.” Aku meng-copy-paste ucapannya.

Aku kembali menatap lurus ke depan. Pikiranku masih terbayang obrolanku dengan Kak Doni, tentang Kak Beno yang ternyata suka bercerita pada Kak Doni tentangku dan mukaku kembali memerah saat mengingat Kak Doni bilang kalau aku manis.

“Ayam tetanggaku pasti sering mati karena kamu sering melamun begini,” ujar Egi tiba-tiba. Dia melewatiku dan turun dari angkot. Apa? Egi Turun? Tepat saat angkot akan melaju kembali, aku bergegas lompat dari angkot dan hanpir saja jatuh kalau saja Egi tidak menahanku.

“Kali ini dua puluh ayam tetanggaku bakal mati sia-sia,” tukasnya lalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung di tempat.

Setelah sekitar dua menit Egi menghilang, aku tersadar dan buru-buru lari ke arah rumahku. Harusnya aku turun lebih dulu dibandingkan Egi. Rumahku dan rumah Egi terpaut agak jauh. Karena kecerobohanku inilah aku harus bekerja dua kali. Fiuuuh..., merepotkan. Tapi, entah kenpa aku justru tersenyum. Senyum yang entah ditujukan untuk siapa. Kak Beno, Kak Doni, atau Egi? Entahlah!

♔♔♔

Selasa, 19 Juli 2016

Me, Between Spring and Summer (Cetar-cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with No comments




PROLOG

"Idiiih..., anak cewek, kok, jorok. Nggak pake sepatu dan becek-becekan. Nanti gatal-gatal, lho!"

Itu adalah kalimat pertama yang aku ingat ketika dengan seenaknya Egi meledekku. Gara-gara aku menenteng sepatu pas aku pulang sekolah. Karena hujan hari itu lumayan lebat dan semua yang aku pakai basah kuyup. Termasuk semua isi tasku.

"Rese banget, sih! Kenal juga nggak, udah ngejek orang sembarangan!" Batinku kesal.

Tapi, entah kenapa kalimat itu selalu aku ingat dan tidak bisa aku lupakan. Padahal itu hanya kalimat sederhana yang tidak berarti apa-apa. Mungkin mulai hari itu. Ya, hari dimana hujan mengguyurku dan membasahi seragamku, sepatuku, buku-bukuku, dan semua benda yang aku bawa pada saat itu, aku mulai berharap kalau aku akan mendapati kejadian serupa dengan Egi. Tapi, sampai saatnya aku lulus Sekolah Dasar, aku tidak pernah mendapatinya lagi.

Diam-diam dan tanpa aku sadari, aku merindukannya.

Ditulis : Maret, 14 2013 - 10:49 am
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 19 Juli 2016

Hai, hai, haiii! Ini, lho saya dateng lagi bawa cerita baru (ssst, padahal, sih, nggak baru-baru banget, ya? Lihat aja tanggal penulisannya. Wkkkk. Ini mah jadul keleees. *Pundung di pojokan). Beda sama cerita yang kemarin-kemarin itu, lho. Kali ini saya poskan edisi cetar (cerita tak kelar-kelar, kikikiiikkk). Gimana gak cetar coba, dari jamannya saya masih kece, single dan happy, sampe sekarang yang makin kece, ber'buntut' dan semakiiin happy, cerita ini gak kelar-kelar. Gak nemu-nemu endingnya mau begimane (Yaa Allaah...). Masih dieeem aja di bagian 'tujuh'. Sebenernya saya udah bikin yang ke delapan. Tapi ilang gak tau kemana gegara waktu itu lupa password wattpad (noh, kan, lupa lagi lupa lagi). JAdi, ya terpaksa nulis ulang yang bagian delapannya. OKlah nggak apa-apa, itung-itung mancing semangat nulis lagi. Siiip markosip! 

Saya tahu sumber kebuntuan ide menulis saya itu apa. Yaituuu..., JEEENG JEEENG!!! Nggak baca buku! Yup! udah lama saya nggak baca buku. Terakhir baca pas hamil 7/8 bulan (sekarang si imut udah 5 bulan) dan itu pun gak selesai satu novel sampe akhir. MUngkin baru beberapa halaman aja. Eaaa, jadilah sekarang saya super buntu. Hadeeeh. Ya sudahlah, daripada baca celotehan saya yang makin ke sana makin absurd, lebih baik saya infokan bahwa rencananya CETAR ini akan saya pos setiap hari Sabtu (kalo lupa, tolong ingetin ya! Via e-mail juga boleh biar kelihatan kayak orang penting gituuu). Dan berhubung PROLOG ininya super pelit, jadi saya kasih bonus chapter 1 (hurrray!). Terima kasih, para pembacaku (eh, salah! Terima kasih para pembaca tulisanku). Happy reading. >.<

Dan, seperti biasa gambar paling atas itu dapet dari Mbah Google yang saya edit.

Sabtu, 16 Juli 2016

Dear Bunda (Pahlawan Terkasih Sepanjang Usia)

Edit Posted by with No comments

 
      Picture by Google - diedit by saya



Dear...,
Pahlawan Terkasih, Bunda


Bunda...,

semakin cekung matamu memeras waktu di seperempat malam. Tangis pilu, harap, doa, dan segala apa yang terbaik untukku selalu engkau panjatkan. Sajadah, tempatmu bercakap dengan Tuhan, kini basah bak rerumputan pagi.

Bunda...,

saat malam dengan kejam mengusir hangat dari tubuhku, engkau melipat hasta, memelukku agar terlelap. Pun saat tangisku tak henti, engkau, dengan sabarmenenangkanku dalam dekapmu.

Oh, Bunda...,

kini aku dewasa. Rasanya kejam sekali saat kugoreskan luka pada batinmu yang lembut itu. Rasanya tega sekali saat aku mengalirkan sungai kecil dari sudut matamu yang teduh. Maafkan anakmu, Bunda....

Bunda...,

pernah ada masa, di mana engkau membisikkan tentang luka kelam masa lalumu. Luka yang paling perih. Engkau merintih dalam sunyi. Meraba waktu yang kian lama kian terasa sempit menghimpit. Biarkan aku mendekapmu, mendamaikan gemuruh dadamu yang hampir remuk karena kecewa. Biarkan yang lalu terbang bersama angin, membawanya ke angkasa, lalu lenyap tersapu mega.

Bunda...,

aku pernah tersesat. Namun, doamu selalu menuntunku pulang. Aku pernah meradang karena cinta. Namun, pelukmu mengobati segala lebam di dada. Dan..., aku ingin selalu begitu. Tak ingin bundaku terganti oleh apapun jua.

Bunda...,

terima kasih atas hangat kasihmu. Terima kasih atas doa-doa panjangmu. Terima kasih atas semesta yang telah engkau beri kepadaku.

Bunda...,

engkau akan selalu di sini, di hati ini. Hingga mentari tak bersinar lagi. Hingga rembulan kembali ke peraduan. Juga hingga lautan mengering.

Bunda...,

pahlawan yang sebenar pahlawan di hidupku. Aku mencintaimu sebanyak detak jantung, sebanyak denyut nadi, sebanyak udara yang kuhirup sepanjang waktu. Tuhan tahu. Semesta tahu. Bahwa aku tak 'kan bisa hidup tanpamu.
Cintaku untukmu Bunda, Bunda, Bunda, dan Ayah...

HK, 101114
alQueen - untuk Bunda
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 16 Juli 2016

Aih, kata orang kebanyakan hari Ibu, tuh ada di tanggal tertentu. Bagi saya, nggak ada tanggal khusus untuk selalu menyatakan kasih dan cinta pada Ibu kita. Masak iya cuma setahun sekali sayangnya. Heheheeh, Nggak terasa waktu bergulir amat deras. Sekarang saya juga udah jadi BUnda dari satu anak perempuan, Ameera, namanya. Perjuangan saat hendak melahirkan itu luar biasa. Bahkan sejak dari hamil kita, para perempuan sudah harus berjuang. Berjuang melawan nyidam, berjuang melawan mual dan morning sickness, berjuang menjauh dari semua hal yang dapat membahayakan si jabang dalam rahim. Memilih apapun jadi serba selektif. Makanan, minuman, obat, dll. Pas trimester akhir rasa cemas melanda. Takut tidak bisa melahirkan normal, takut terjadi sesuatu yang buruk, dsb. Pada saat malam hari kita susah nyari posisi nyaman untuk tidur, belum lagi waktu tidur kita berkurang karena hasrat ingin BAK selalu muncul beberapa jam atau bahkan menit sekali. Yaa Allah..., semoga Engkau luaskan ampunan untuk para Ibu. Aamiin. Jadi pengen mewek (tissue mana tissue). 

Sekian (ngingsrek di pojokan)

Link:  https://www.wattpad.com/myworks/26974735/write/82907820