Jumat, 05 Agustus 2016

Me, Between Spring and Summer (CETAR-Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with No comments

 



Enam



Kubuka lembar baru di fase kehidupanku sebagai siswi kelas dua SMP. Aku masih tetap satu kelas dengan Egi. Dan kali ini aku duduk sebangku dengan orang lain, bukan lagi dengan Sasa. Vina adalah teman sebangkuku sekarang. Sasa, setelah hari kelulusan itu aku belum mendapat kabar lagi tentangnya. Ada yang bilang dia pindah ke sekolah kecil dan ada juga yang bilang Sasa berhenti sekolah. Entahlah, masih simpang siur. Aku pun masih belum menemuinya. Aku masih sedikit kesal padanya. Tapi, aku tidak bisa membohongi diri kalau aku sebenarnya rindu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Sekarang, di sekolahku sedang ribut so'al pemilihan ketua OSIS dan keanggotaannya yang baru. Maklum, para anggota yang lama, yang sekarang sudah naik ke kelas tiga sudah tidak bisa terlalu aktif karena harus fokus pada ujian akhir. Dan, tampuk kepemimpinan harus digantikan oleh junior-juniornya. Egi adalah salah seorang siswa yang dicalonkan sebagai ketua OSIS dan juga ada beberapa nama yang tercantum. Sebagian besar adalah siswa-siswi yang dulu menjabat sebagai perwakilan kelas. Tapi, berhubung Egi yang sudah dicalonkan aku tidak masuk hitungan. Kalau pun dicalonkan, aku akan menolak. Aku tidak pandai berorasi dan berorganisasi. Nanti, yang ada malah aku mengecewakan sekolah saja.

Hari ini adalah hari perhitungan dari pemilihan ketua OSIS. Aku ikut menghadiri rapatnya. Aku ikut menyaksikan wajah cemas Egi dan calon-calon yang lain. Satu persatu kertas dibuka dan sisebutkan nama-nama di dalamnya. Egi sekarang berada di urutan kedua setelah Seto. Tapi, semakin lama Egi semakin naik posisi. Sekarang Egi di urutan pertama, kertas tinggal tiga gulungan lagi.

"Egi!"

"Seto!"

"Seto!"

Walaupun yang terakhir Seto mempunyai dua suara. Tapi, Egi tetaplah pemenangnya. Karena jumlah Egi lebih besar dibanding Seto. Seto harus puas dengan posisi sebagai wakil 1 dan Rian sebagai wakil 2.

Salah satu hak sebagai ketua OSIS di sekolah kami adalah dia bebas menentukan tangan kanan dan kirinya, yaitu sekretaris dan bendahara. Masing-masing dari jabatan tersebut dipegang oleh dua orang.

"Baiklah." Egi membuka pidato pertamanya sebagai ketua OSIS. "Terimakasih kepada semua siswa-siswi yang sudah mempercayakan saya untuk menggantikan ketua OSIS yang lama, Kak Wira. Saya tidak bisa berjanji akan lebih baik dari Kak Wira. Karena kalian tahu sendiri Kak Wira adalah sosok yang mengagumkan. Baik secara akademis, olahraga, kebijakan dan juga secara penampilan. Hehehe."

Dan, tiba-tiba aku terkaget setelah pidato Egi selesai dan mengumumkan siapa-siapa saja yang akan menjadi tangan kanan-kirinya.

"Baik, saya sudah menimbang-nimbang sebelumnya siapa saja yang akan menjadi sekretaris dan bendahara OSIS jika saya terpilih. Dan hari ini saya terpilih. Saya akan langsung mengumumkan nama-nama itu."Bendahara satu akan dipegang oleh Syamsul dari kelas 2E. Karena saya tahu Syamsul amanah, Insya Allah dan yang akan jadi wakil Syamsul adalah Retno dari kelas 2B. Karena reputasi Retno di kelasnya sebagai bendahara, masuk hitungan." Egi tampak berdehem sebentar, lalu melanjutkan pidatonya. "Untuk sekretaris, yang akan memegang kendali dalam pencatatan hasil rapat dan sebagainya adalah Anya dan Ajeng."

Haaa, aku?

"Anya dari kelas 2c dan Ajeng sekelas dengan saya di 2a. Anya akan menjadi wakil Ajeng."

Aku? Aku tidak menyangka Egi akan memilihku sebagai sekretarisnya, yang pertama pula. Entah apa yang jadi bahan pertimbangannya. Dia memang aneh. Tulisanku tidak bagus dan aku bukan sekretaris yang baik di kelas.

♔♔♔

Semenjak aku terpilih menjadi sekretaris OSIS, kesibukanku bertambah. Apalagi di ekstrakulikuler, aku juga menjabat sebagai ketua umum. Aku benar-benar sibuk. Ditambah aku masih harus tetap menjadi sekretaris kelas juga. Aku selalu mencatat pelajaran paling terakhir, karena aku harus mendahulukan menulis di papan tulis kelas. Terkadang, aku baru mencatatnya di rumah. Egi kadang datang membantuku mencatat pelajaran yang tertinggal sembari membahas rapat-rapat selanjutnya. Aku dan Egi jadi semakin akrab. Walaupun kebiasaan kita beradu mulut tidak juga hilang. Aku pernah bertengkar hebat dengan Egi karena aku tidak tepat waktu mengumpulkan laporan rapat OSIS.

"Emang kemaren kamu kemana? Kemaren, kan, hari Minggu. Apa kamu udah capek jadi sekretarisku?” Egi membentakku sambil membanting pensil ke lantai. "Ini sudah dua minggu, kamu belum juga membuatnya?" lanjutnya.

"Maaf." Aku hanya bisa bilang demikian.

"Maaf? Maaf katamu? Aku hampir saja ditampar sama pembina, tau?!"

Aku menatap Egi. Terkejut dengan apa yang baru saja dia katakan. Ditampar?

"Dan itu semua karena aku belain kamu." Egi meluruh, dia terduduk sambil menutup wajahnya. Sepertinya dia salah bicara.

"Membela? Aku?"

"Ahh! Sudahlah...."

Dia kemudian pergi meninggalkan aku. Teman-teman memandang kami dengan pandangan yang aneh dan terkejut. Mereka tidak menyangka Egi akan marah seperti itu. Begitu pun denganku. Aku terkejut dan bingung. Ini semua memang salahku. Aku kehilangan data-data hasil rapat dua minggu lalu. Filenya hilang dari komputer. Kata penjaga warnet, sehari setelah aku mengetik komputer yang aku pakai terkena virus dan dia terpaksa memformat kembali komputernya. Dan salah aku juga karena aku tidak menyimpannya dalam flash disk. Semuanya memang salahku.

Setelah kemarahan Egi itu, dia tidak kunjung menegurku. Walaupun aku sudah menyerahkan hasil laporannya, dia tetap saja diam. Dia juga tidak menyuruhku ikut rapat. Aku datang sendiri.

Suatu hari rapat bukan dipimpin Egi. Tapi, dipimpin Kak Wira. Mantan ketua OSIS dulu. Karena rapat kali ini menyangkut olimpiade sekolah tingkat kabupaten. Dan Kak Wira menganggap, Egi belum pengalaman. Jadi, Kak Wira turut membantu. Gaya bicara Kak Wira yang khas memang menarik perhatianku. Karena aku begitu antusias, akhirnya aku mengabaikan Egi. Egi terdiam di pojokan. Dia tampak gusar dan bosan. Akhirnya, Egi merapikan perlengkapannya dan keluar kelas tanpa sepatah kata pun. Dia mungkin kecewa, karena yang seharusnya memberikan pengarahan adalah dirinya sebagai ketua OSIS baru. Tapi, ternyata porsinya telah diambil alih oleh Kak Wira. Aku bingung, antara ingin mengejar Egi atau melanjutkan rapat. Lalu, Kak Wira mendekatiku dan berkata.

"Lanjutkan saja. Biarkan dia marah. Tidak seharusnya seorang pemimpin bersikap seperti itu."

Kak Wira benar. Tapi, entah kenapa hatiku tidak terima Egi dipandang demikian.

♔♔♔

Rapat selesai. Aku merapikan perlengkapanku. Aku adalah yang paling terakhir keluar kelas karena aku harus menyelesaikan laporanku terlebih dulu. Anya sekarang sudah tidak aktif lagi, baik di OSIS maupun di ekskul. Aku sendirian menulis dan menyelesaikan setiap laporan rapat. Jam tanganku menunjukkan jam setengah enam sore. Aku buru-buru merapikan perlengkapan. Aku takut angkot yang akan mengantarku pulang sudah tidak ada lagi. Aku juga melihat sekelilingku, sepi, tidak ada seorang pun. Aku sendirian. Sewaktu Egi keluar kelas, tadinya aku mau menyusul saja. Tapi, bagaimana dengan laporannya? Ah, Sudahlah! Aku kembali merapikan perlengkapanku dan setelah beres, aku segera keluar kelas.

Benar saja. Setelah keluar kelas, sekolah senyap. Tak kudapati satu orang pun. Tapi, entah kenapa aku malah berkeliaran sendiri di sekolah yang telah lengang ini. Ya! Egi! Aku mencari Egi. Aku merasa Egi menungguku di suatu tempat. Tapi, di mana? Aku memulai dari kantin, kantin sepi dan sudah tutup pastinya. Lalu, aku bergerak ke perpustakaan, sepi juga. Lalu, aku ke kelas 2a, kosong. Egi sudah pulang.

Hari semakin gelap. Lima belas menit aku berkeliaran mencari Egi. Sambil berjalan keluar sekolah, aku sibuk mengutuki diri.

"Kenapa pake acara nyari orang gak penting itu sih! Lihat! Udah gelap! Ada angkot nggak?".

Aku berjalan sambil tengok kanan-kiri.

"Ya Allah sepi banget, gelap." Berdiri bulu kudukku.

Aku setengah berlari menuju gerbang. Hampir saja aku menangis. Tapi, aku pikir menangis hanya membuang waktu. Aku mempercepat langkahku. Kali ini aku berlari.

Sampai juga akhirnya depan gerbang. Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kembali perlahan. Kulihat lagi sekelilingku. Aku terfokus pada satu pemandangan yang sangat tidak asing di seberang jalan raya sana.

"EGI!!"

Tanpa sadar aku berteriak kencang memanggil nama Egi. Dan tanpa sadar juga air mataku menetes. Yang dipanggil hanya menengok sekali, kemudian melanjutkan membaca buku. Tapi, kemudian dia bangkit dan menyebrang. Aku berencana akan memarahinya kalau Egi sudah disampingku. Aku akan bilang, "kamu tuh apa-apaan sih? Ninggalin rapat seenak jidat, nggak pamit, ninggalin aku sendirian, bikin aku khawatir, bikin aku nangis!" Tapi, semua kalimat itu berhenti dan tercekat di tenggorokan ketika Egi sudah benar-benar di sampingku. Air mukanya datar dan biasa saja. Tidak ada ekspresi. Menyebalkan. Tapi, diam-diam aku tersenyum, bahagia.

Egi ternyata nungguin aku. Terimakasih.

♔♔♔

I'll see you, soon.... Thank you, all....

Me, Between Spring and Summer (CETAR-Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with No comments







Lima


Selesai rapat kepanitiaan untuk acara pelepasan untuk kelas tiga, aku tidak langsung pulang. Aku juga menahan Egi untuk tetap dalam kelas menemaniku. Egi tidak menolak. Aku menceritakan kejadian di kafe tempo hari. Aku bilang pada Egi, bahwa hubunganku dengan Nino sudah berakhir. Tak ada air mata yang menetes, hanya sedikit sesak di dada saja yang aku rasakan. Egi mendengarkan semua kisahku dengan tatapan lembut. Egi tidak seperti biasanya. Mungkin dia tahu, tidak tepat waktu untuk bercanda atau mengejekku. Dia malah meraih tanganku dan berusaha menguatkanku.

"Aku baik-baik aja, Egi."

Egi tersenyum dan mengajakku pulang.

♔♔♔
Hari ini adalah hari kelulusan siswa-siswi kelas tiga. Kak Doni, Kak Beno dan Mbak Adel termasuk di dalamnya. Juga Nino. Walau dia tidak di sini. Aku berharap ini mimpi, aku tidak mau sendirian di sini. Aku masih membutuhkan mereka. Tapi, itu tidak mungkin terjadi. Semuanya sudah berjalan, tidak bisa diputar lagi.

"Kamu baik-baik aja, Jepang?" Kak Doni menghampiriku dengan tatapan khawatir.

"Aku..., akan baik-baik aja, Kak."

"Selasa depan, aku harus pergi ke Jogja. Masih banyak yang harus diurus. Kak Beno juga langsung ke Semarang."

Selasa? Berarti hanya tiga hari lagi Kak Doni disini.

"Nino juga jadi, kan, ke Bandung?”

"Eemm.. Mungkin." Aku terpaksa tersenyum.

"Iya, katanya malah besok dia ke Bandung."

Besok? Aku terperangah, kaget. Nino benar-benar sudah tidak menganggapku. Dia bahkan tidak bilang kalau besok mau ke Bandung. Aku hanya menghela nafas. Setelah itu, Kak Doni pamit untuk bergabung bersama teman-teman yang lain. Aku kembali sendirian. Tapi, kemudian Sasa datang dan menarikku ke ujung lorong.

"Ada apa, Sa?"

"Aku...."

Aku melihat ada butiran kecil di sudut matanya.

"Sasa, kamu kenapa?"

Tangis Sasa meledak, dia memelukku erat. Aku membalas pelukannya walau aku benar-benar bingung dengan semua ini.

"Senin, aku udah nggak sekolah di sini lagi."

"Apa?" Aku melepas pelukannya. Tatapanku heran sambil berusaha mencari kejujuran di mata Sasa.

"Aku pindah, Jeng. Aku pindah ke sekolah yang murah saja."

"Bukannya di sini juga gratis SPP, Sa?"

Kemudian, dia memaparkan yang sebenarnya terjadi. Sasa bilang, dia mau sekolah di dekat rumah saja. Supaya bisa berhemat ongkos dan bisa memantau adik-adiknya dengan baik.

"Kalo jam istirahat, aku bisa pulang menengok Dimas dan Zahra, Jeng."

"Tapi, Sa..." Suaraku tercekat di tenggorokan. Pilu.

"Aku yakin, kamu bakal baik-baik aja. Masih ada Egi dan yang lainnya." Tangisku makin keras. Aku tidak bisa membayangkan harus kehilangan tiga orang sekaligus dalam waktu tiga hari.

"Kamu tega, Sa!!!"

Aku berlari menjauhi Sasa, Sekilas aku menengok, Sasa terduduk menangis. Akupun tidak bisa menghentikan air mataku. Aku sembunyi di dalam kelas. Menangis sejadi-jadinya.

♔♔♔

"Jeng! Ajeng?!"

Ada yang mengguncang-guncangkan tubuhku.

"Egi?” Tetnyata Egi, dia membangunkanku dari tidur. Rupanya aku tertidur setelah capek menangis.

"Udah sore, Jeng. Ayo pulang!"

Aku lihat ke jendela. Iya benar, hari sudah sore. Aku mengangguk, menyetujui ajakan Egi untuk pulang.

"Tadi, Sasa titip pesan sama aku."

"Apa?"

"Ini."

Egi mengulurkan satu lembar kertas padaku. Aku tidak langsung membacanya. Aku lebih memilih diam dalam perjalanan. Egi juga terlihat tidak ingin menggangguku. Sebutir air menetes ke pipiku. Aku berusaha mengusapnya. Tapi, tangan Egi ternyata lebih cekatan dibanding tanganku. Dia yang mengusapnya. Aku kembali diam.
Egi ikut turun bersamaku kali ini. Dia tidak berusaha bertanya, dia tetap diam. Hanya memandangiku saja. Aku bergegas masuk ke rumah. Egi tampak berdiri sebentar di depan rumah, lalu dia beranjak pergi.

♔♔♔

Tadi, aku mendapat pesan pendek dari Kak Doni. Dia bilang, malam ini mau ke rumahku. Setelah aku minta ijin pada Ayah-ibuku dan mereka memperbolehkan, akupun memperbolehkan Kak Doni untuk datang.

Kak Doni datang hanya untuk mengucapkan selamat jalan dan juga menyampaikan salam dari Nino untukku. Dia bilang, aku harus baik-baik saja, tetap berprestasi dan semangat. Aku hanya mengangguk lesu. Lalu, Kak Doni pamit pulang.

Aku langsung masuk kamar seusai Kak Doni pulang. Aku kembali menangis. Kulihat, ada kertas di atas meja belajarku. Ahh! Sasa. Aku langsung meraih dan membacanya.

Dear sahabatku, Ajeng.

Maafin aku, ya Ajeng. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk lulus bersamamu. Aku tidak berdaya akan takdir ini. Aku hanya ingin terus sekolah, Jeng. Walau sekolahku nanti sangat minim fasilitas, tidak mengapa. Asal aku bisa sekolah dan adik-adikku tetap hidup nyaman.

Ajeng, bukannya aku tega. Aku hanya ingin menyambung cita-cita. Kita berpisah, namun hanya sebentar saja. Kamu masih bisa mengunjungku di rumah kalau kamu ada waktu luang. Pintu sederhanaku ini akan selalu terbuka untukmu.

With love..

Your friend, Sasa


Aku menutup wajahku, aku tidak sanggup menahan cekat di kerongkongan. Aku tidak sanggup menahan sesak di dadaku. Aku menagis pilu, sakit dan sendiri.

Sasa, Nino, Kak Beno dan Kak Doni, I'll be missing you all....

♔♔♔

050816

Me, Between Spring and Summer (CETAR-Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with No comments


Hai, CETAR mania...! Sehubungan saya mau mudik yang entah sampai berapa lama. Maka dari itu saya poskan beberapa part sekaligus di Malam Sabtu ini. Maafkan daku, nggak bisa nemenin para jombi, eh jomblowan/wati di malming besok. Hope, I'll see U all, soon, yaw! Thank youuuu...
 
Empat


Genap seminggu sudah setelah acara "penembakan" itu. Aku sudah memutuskan jawaban apa yang akan aku berikan pada Nino. Minggu siang ini, aku aku sudah membuat janji dengan Nino untuk bertemu.

Di sebuah sudut kafe.

Nino datang dengan seberkas senyum menawan di wajahnya. Kemeja kotak yang terlihat kebesaran tidak membuat pesonanya hilang. Dipadu dengan kaos putih didalamnya, membuatnya semakin menawan. Aaah! Aku melamun lagi.

"Hai...," sapaku berusaha menghilangkan kikuk.

"Hai. Apa kabar?"

"Emmm, baik."

Kemudian obrolan berlangsung. Kami tidak langsung membahas masalah minggu lalu. Obrolan kita sepertinya jauh lebih menarik daripada topik minggu lalu. Kita membicarakan tentang Jepang, hal yang sangat aku sukai. Ternyata, Nino juga kagum dengan negara Jepang. Seperti aku, dia tampak antusias ketika kami membicarakan kehidupan dalam lingkup kekaisaran Jepang yang kontroversial. Kami enggan menghentikan obrolan ini. Tapi, hari sudah senja dan aku belum memberikan jawaban itu. Nino, menghabiskan sisa coffee late-nya dan dia terlihat bersiap-siap untuk pulang.

"Aku pamit, ya. Sudah sore."

"Ehhh, tunggu. Aku...."

"Kenapa?"

"Jawabannya?"

"Ahhh, nggak penting. Aku udah tahu."

"Udah tau, apa emang?"

"Aku lolos. Aku diterima. Iya, kan?"

"Ha?!" Aku melongo. Darimana dia tahu jawabanku?

"Aku tau dari senyummu."

Nino sama saja seperti Kak Doni, pintar menebak pikiran orang. Tapi, itu memang benar. Aku jadi merasa malu sendiri. Dan sekali lagi pipiku memerah.

"Makasih."

"Sama-sama," jawabku sok manis.

♔♔♔

Aku resmi menjadi pacar Nino. Aku merasa sedikit aneh. Kadang aku masih ragu. Tapi, aku selalu meyakinkan diriku kalau ini adalah langkah yang benar. Kak Doni pun tampak senang dengan jawabanku. Dia berharap Nino bisa menggantikanya untuk menjagaku. Tapi, sepertinya aku masih setengah hati dengan Nino. Mungkin butuh waktu. Aku akan berusaha.

Sejak aku menjadi pacar Nino, Kak Doni memang agak mengurangi porsinya denganku. Begitu pula dengan Kak Beno. Dia malah sudah menghilang dan jarang berkomunikasi. Pojok kantin jadi tidak berpenghuni lagi. Banyak yang tidak menyangka kalau aku ternyata pacaran dengan orang lain, bukan dengan Kak Doni atau Kk Beno yang memang telah dekat denganku. Sasapun terheran. Apalagi Sasa mengira aku bakal sama Egi. Tapi, malah aku pacaran dengan orang asing yang tidak Sasa kenal.

♔♔♔

Hampir tiga bulan aku menyandang predikat pacar Nino. Tapi, selama itu juga aku tidak pernah merasakan sebagaimana yang pasangan lain rasakan. Nge-date, makan siang bareng, dinner atau sekedar mengantarku pulang pun tidak Nino lakukan. Kami jarang bertemu, kami berkomunikasi hanya lewat pesan singkat. Dan Nino jarang membalas pesan-pesanku. Aku pikir, mungkin itu sifat Nino dan aku tidak pernah mempermasalahkan.

Kak Doni pernah menanyakan perkembangan hubunganku dengan Nino dan aku selalu menjawab bahwa kami baik-baik saja. Aku dan Nino tidak ada bedanya dengan aku dan Egi. Malah, kadang Egi terkesan lebih care dan sayang padaku. Tapi, mungkin itu cuma perasaanku saja yang terlalu ingin perhatian dari Nino.

"Ciee, kapan merit nih?" tanya Egi waktu menghadiri rapat OSIS.

"Apaan sih?"

"Kan udah punya pendamping."

"Gak ada!"

"Masa?"

"Ahhh! Udah deh, jangan ngeledekin aku terus!"

"Kenapa sih?" Nada bicara Egi berubah lebih lembut. “Apa karena sebentar lagi mau ditinggal lulus?"

"Mungkin." Aku masih ketus.

"Ya udah, kapan-kapan boleh cerita, kok, plus nangis juga aku siap menampung."

Egi tidak sedang mengejekku. Dia tampak serius dengan ucapannya.

♔♔♔

Aku membuat janji bertemu dengan Nino. Kafe yang menawan itu tiba-tiba berubah menjadi usang dan melankolis.

"Maafkan aku, Ajeng."

"Kenapa minta maaf?"

"Sebenarnya aku udah bohongin kamu."

"Bohong?"

Lalu, Nino menceritakan padaku bahwa sebenarnya dia terpaksa menyatakan cintanya. Dia juga bukan pengirim surat cinta beberapa bulan lalu itu. Dia sangat menyesal atas keputusannya menerima tawaran dari Kak Doni untuk bisa menjagaku. Ternyata, Nino tidak pernah bisa. Nino akhirnya meminta hubungan ini diakhiri saja. Dan aku langsung menyetujuinya.

Aku tidak menyalahkan siapa pun. Tidak Nino dan tidak pula Kak Doni apalagi Kak Beno. Aku tahu, masing-masing dari mereka mempunyai alasan sendiri untuk melakukan ini padaku. Aku mengerti. Kemudian, Nino meminta maaf padaku sekali lagi sebelum akhirnya dia pamit pulang.

Sekali lagi aku sakit. Tapi, juga tidak sampai terluka. Aku memandang punggung Nino yang menjauh dan semakin menjauh. Semakin kurasakan bahwa kafe ini melankolis saja. Lagunya pun terdengar sendu. When You're gone. Aku memang seperti sedang menghitung setiap langkah kepergian Nino. Nino juga mengatakan padaku, bahwa setelah lulus, dia akan melanjutkan SMAnya di luar kota. Bandung adalah tujuannya. Aku hanya bisa bilang, aku akan mendukung dan selalu mendoakannya. Senyumku kali ini terasa hambar.

Satu jam sudah aku terpekur dalam diam. Mengaduk-aduk tehku tanpa aku minum. Redup lampu kafe seolah menyadarkanku dari bayangan Nino. Ada seseorang yang menutupi biasnya. Aku menengadah. Mencari sosok yang menutupinya. Egi ternyata. Tapi, ada apa dia di sini?

"Aku mau ketemu temen disini. Kamu lagi apa?"

"Ehh!" Belum juga aku bertanya, Egi sudah menjawabnya.

"Aku juga habis ketemu temen."

"Cowok yang tadi?"

"Yang mana?"

"Kemeja kotak hijau. Nino."

Darimana Egi tahu nama Nino. Tapi, aku tidak memedulikannya. Senja semakin menggelayut di ufuk barat. Egi duduk di pojokan dekat rak majalah. Dia memang tampak menunggu seseorang. Aku hendak menghampiri Egi untuk pamit pulang. Tapi, kuurungkan setelah melihat teman Egi datang. Seorang cowok tinggi, kurus, dan kulitnya cokelat. Dia tampak formal dengan kemeja cokelat salur dan celana kain hitam. Tapi, aku tahu dia bukan bapak-bapak. Dia terlihat seumuran dengan Egi, hanya saja karena pakaiannya formal jadi agak terkesan lebih dewasa. Akhirnya aku pulang tanpa pamit dengan Egi.

When You're gone, the pieces of my heart are missing you....

Lagu itu diputar ulang oleh pegawai kafe. Seperti dia tahu saja isi hatiku.

♔♔♔


Rabu, 03 Agustus 2016

Bakat Terpendam (Ngebon.... Sya la la la)

Edit Posted by with No comments
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh




Kayak yang di profil ntu, tuh. Saya ini emak-emak rumah tangga yang banyak banget hobby-nya. Ya salah satunya ini, nih, NGEBON (bukan ngebon dalam artian ngutang, lho, ya.... kikikiiiikkk). Tapi, berkebun. GAmbar di atas adalah kebun awal saya. Kalo sekarang mah udah bejubel tanamannya. Sampe tumpuk-tumpukan. Hehehehe. Isi kebunnya mah ape aje bolehlah. Ada bunga, cabe-cabean, herbs, dlsb. Paling demen, ya apalagi kalo bukan bunga. Secara pas bunga warna-warni mekar merekah ruah itu rasanya nyess nyess gimanaaa gitu. Mata berbinar-binar, hati adeeem, pikiran jernih, wislah pokoke adem ayem tentrem! Terus kalo tanaman buah, ya lebih sueneeeng lagi. Nyemai dari biji (yang kadang dimakan siti(kus)), muncul 'bayi-bayi' krucilnya, nunggu ampe berdaun lebih dari dua helai, dipindahin pelan-pelan supaya akarnya aman, disiram tiap hari, sampe tumbuh daunnya banyak, muncul bunga dan berbuah. Wuidiiiihhhh, suenege puooollll. Pas panennya itu, lho makin seneng. Walaupun kadang cuma dua-tiga buah aja. Hahahahaaa.

BTW, saya mau sedikit woro-wiri perihal koleksi kebon mini saya. Ya, mini. Pan ditanemnya di halaman belakang yang kagak lebar. Tapi, lumayan buat nyumbang oksigen ke bumi, lah, yaaa. Ada mawar, angelonia (yang kata Abang bunganya mah lavender), marigold, melati, euphorbia, sirih, kemangi, cabe, dll. Yuk, capcus ceki-ceki kebun kecilku!

 MELATI
Melati (yang sampe sekarang belum berbunga juga). Feeling, sih, karena potnya kekecilan dan tanahnya terlalu padat. Ntar lain kali dibongkar, deh. Biar berbunga.

 VINCA (Pink)
Nih bunga sebenernya gak ngerasa nanem. Tiba-tiba tumbuh sendiri di teras belakang. Bahkan udah ada sebelum kebun ini dibikin. Dan karena bunga inilah muncul ide buat bikin kebun kecil-kecilan di teras belakang yang nagnggur. Makasih, Vinca.

     VINCA (Putih Polkadot)
Selain Bunga Vinca Pink di atas, saya juga punya Vinca Putih Polkadot. Saya nggak beli vinca-vinca ini. Keduanya saya dapat dari alam. Yang pink nongol sendiri di teras belakang dan yang putih polka ini saya nemu di pekarangan tatangga. Kebetulan di sekitar rumah saya banyak banget vinca dan yang putih polka ini cuma satu-satunya. Kebetulan pekarangannya gak dirawat, bunganya terlantar pada tumbuh sendiri, kadang malah dicabut dan dibuang. Karena saya nggak mau kalo sampe yang putih ini dicabut dan dibuang, ya udah saya adopsi aja. Biar saya urus dan saya sayangi (halah). Kan, kalo beli lumayan, lho harganya. Rencana ke depannya udah pasti bakalan saya perbanyak. BIar makin kece kebun saya. Hahaha.

 BLACK CHILI
Saya beli di tukang tanaman langganan daerah Anjatan, Indramayu. Harganya sekitar sepuluh ribu rupiah satu pohon. Kalo beli online mah kayaknya gak bakal dapet harga segitu. Tapi, sayang banget, indukannya udah ko'it. Untung udah berbuah dan saya semai. Alhamdulillah numbuh dua pohon kecil. Semoga sehat terus, ya, Be!

 SOKA Dwarf/Kerdil/Soka Jepang (Pink)
Demen banget, dah, ama bunga yang satu ini. Rajiiin banget berbunga. Sekali berbunga keroyokan lagi. Ujuuuhhhh, bikin hari riang! Ini belinya di penjual yang sama kayak black chili, harganya juga sama sepuluh ribuan. Sebenernya ada yang warna putih juga. Tapi, karena waktu itu susah bawanya (secara pake bebek), jadi ditunda dulu. Eh, pas ke sono lagi udah kagak ada, habis. Syediiih.


 HIBISCUS a.k.a Kembang Sepatu (Pink)
Sebenernya mah di pekarangan belakang rumah Mama juga banyak pohon ini. Tapi, warna bunganya merah (kan menstrim... hahahaa). Jadilah, sewaktu saya ketemu nih bunga di tukang bunga yang alamatnya masih sama, Anjatan-Indramayu cuma beda tempat aja, langsung beli. Harganya sepuluh ribu juga. Murah kaaaannn.


ROSE a.k.a Mawar (Bicolor -pink&putih)
Pertama ngeliat, nih bunga di Abang-abang penjual tanaman yang sama kayak beli kembang sepatu, langsung demen. Udah mah pohonnya sehat, tinggi bunganya bagus, ya sudah, ANGKUT! (Suami geleng-geleng). Harganya Rp 15.000-an kalo nggak salah. Agak mahal dikit karena pohonnya udah gede dan bunganya juga gede, sih. Tapi, ya bukan saya kalo gak nawar. Pan belinya juga borongan. Jadi, si abangnya mau nggak mau harus ngasih diskon. Wkkkkwkkkk.

ROSE (Mawar Kuning)
Ini adalah mawar pertama yang mengisi kebun mini saya. Piihan misua tercinta. Katanya, kalo mawar merah atau pink itu udah menstrim. Wakakakkk. Aslinya mah gak kuning semua, tapi ada sedikit orange di sisi-sisi kelopak atasnya. Bagus, deh. Jadi kayak bicolor gitu. Mau tau harganya? JANG JAAANGGG..., sepuluh ribuan aja. Murce, kaaan, ya?! *emotjingkrak

BTW, bunga mawar yang satu ini udah sering berbunga, lho. Uniknya itu sekali berbunga munculnya beriga. Dan, baru yang terakhir sebelum ditinggal ke Jakarta aja bunganya nongol berempat. Mungkin ngerayu kali, ya, supaya sayanya gak pergi ke Jakarta. Hehehehhehe.

ROSE (Mawar Fanta)
Warnanya agak merah. Tapi masih tetap pink tua kalo menurut saya. Bunganya nggak terlalu besar. Tapi tumpuk-tumpuk. Harganya sekitar 15 ribuan. Tadinya udah kayak hampir mati. Daunnya rontok semua. Eh, tapi beberapa hari kemudian muncul tunas-tunas baru. Dan bunganya juga ikut muncul. *bahagia

 
ROSE (Mawar Ungu)
Yippiiieee..., akhirnya punya juga Bunga Mawar Ungu. Limited, lho, di Abang tukang bunganya. Cuma ada satu pohon dan kini sudah jadi milik saya, aha! Taetangga yang kebetulan suka bunga juga sampe ngiler. HAHAHAHA. Next, saya mau punya Mawar Merah, Mawar Pink, Mawar Hitam, Mawar Hijau, dll.


 
                                               AMARYLIS
Atau di daerah saya sering disebut bunga bawang jebrol. Ini dikarenakan bungan ini memiliki umbi menggembung yang mirip bawang bombai. Atau ada juga yang menyebutnya Bunga Desember. Katanya, sih, tanaman ini akan berbunga di bulan Desember atau yang berdekatan dengan Desember. Duluuu banget, pas masih jamannya SMP/SMA saya pernah punya bunga ini, dan udah berbunga warnanya orange. Tapi, karena gak ada yang ngerawat (karena saya pindah ke kota buat SMA). So, bunganya mati gitu. Kasiaaan. RIP.

Ini kata pedagangnya ada warna orange, merah, pink, dll. Entah mana yang bener. Soalnya belum berbunga semua.Nah, yang misah sendiri potnya (foto KANAN bawah), saya beli umbinya via online. Kepoin aja Fan Page-nya Pelangi Flora atau di ownernya aja langsung FB: Tyas Dwi. Orangnya ramah, lho. Saya udah sering beli benih/biji tanaman di Mbak Tyas. Ada sayuran, bunga, dll. Batu kali ini saya coba beli tanaman yang bentuknya umbi. Umbi amarylis dari Mbak Tyas gede, buled, dan tampak sehat. Dan, emang sehat, kok. Buktinya sekarang udah banyak daunnya. Tinggal nunggu berbunga aja, deeeh. Kalo amarylis yang lain (foto atas) saya beli di pedagang tanaman langganan yang biasa. Harganya memang lebih murah dan dapet beberapa tanaman. Jadi, gak cuma dapet satu umbi. Tapi, kayaknya gak sebesar yang saya beli di Mbak Tyas. DAunnya cenderung sempit dan warnanya hijau biasa (kalo yang dari Mbak Tyas, hijau pekat). Mungkin beda jenis. Ya sudah, kagak ape-apelah, ya. Nyang penting saya punya amarylis dan setia menunggu berbunga.

Dan, pas awal hijrah ke Jakarta sama suami setelah menikah saya juga beli macem-macem tanaman. Ada Krisan, Kalanchoe, Petunia dan sebagai bonus karena udah beli banyak, pedagangnya ngasih anakan Amarylis Varigata (foto kiri bawah). Katanya, sih, bunganya pink corak-corak gitu. Tapi, sayangnya udah tinggal kenangan. Pas saya mudik buat persalinan kebun bunga di Jakarta gak ada yang ngurus. Mati, deh. Padahal, kan jenis itu jarang ditemui gratis pulak! Nasiiib, nasiiib.

Benih Bayam Merah ini saya dapat dari program Free Benih-nya Mbak Tyas (lagi-lagi Mbak Tyas?) Yup! Beliau sering banget, lho bagi-bagi benih gretong di FP-nya. Udah mah orangnya kece, baik hati pulak, tuh. Siapa kiranya bujang rupawan yang beruntung meminang beliau? Pasti hari-hari dia orang bahgia, tau! Sayangnya Bayam merahnya mati. Tinggal satu pohon aja waktu itu dan kurang sehat pula. Tapi, untungnya udah berbunga tua, jadi bisa saya semai lagi. Dan sayang seribu sayang part duanya, tuh persemaian yang udah tumbuh kecambah kecil-kecil dikoyak-koyak siti(kus). Ampuuun!!! Kueseeeelllll. Entahlah, ada yang selamat atau tidak.





EUPHORBIA
Saya dapat pohonnya dari paman. Perbanyakan Euphorbia ini mudah banget. Tinggal pilih indukan yang kita sukai, potong batangnya, tancepin ke tanah, nunggu sebentar dan VOILA! tumbuh akar dan suburrr makmurrr. Foto sebelah kiri itu Euphorbia berdaun dan berbunga kecil-kecil dan warnanya cream. Kalau foto yang sebelah kanan Euphorbia berdaun dan berbunga besar, warna bunganya merah muda (di foto mah masih kuncup, tuh).



MOSS ROSE
Atau kalau di daerah saya sering disebut Bunga Kantor. Mungkin karena bunga ini mekarnya bertepatan dengan orang-orang pergi ngantor. Hehehe. Ini juga jenis bunga yang mudah banget diperbanyak. Tinggal petik batangnya, tancepin ke tana, gak lama kemudian udah subur aja. Saya punya tiga warna. Ada putih, bicolor (putih-pink) dan pink tua.

TERONG UNGU
Pohon terong ini saya dapet dari teras depan rumah Mama. Habis terlantar, ya sudah saya pindah ke pot aja. Sebenernya mah udah beberapa kali berbunga. Tapi, selalu rontok, gak pernah selamet samapi berbuah. Pernah nanya ke Grup Berkebun di FB. Katanya, biar berbunga dan selamat sampai jadi buah harus pakai garam Inggris. Belinya di Apotik atau toko-toko pertanian. Temen ada juga yang mengalami kasus serupa. Tapi, sekarang dia udah nerapin resep garam INggris, dan emang berbuah terongnya. Klao saya kenapa sampe sekarang bunganya masih rontok? Ya iyelaaah, orang gak nerapin tuh resep. Wkwkwkkkk. Kapan-kapan saya coba, deh.

SIRIH HIJAU
Alasan saya nanem sirih, karena banyak khasiatnya. Banyak banget, sampe-sampe dijuluki daun ajaib, tanaman seribu khasiat, dll. Sekarang dunnya, alhamdulillah udah makin rimbun. Kali tetangga mau daunnya, ya, monggo aja. Hehehehe.
BUNGA LAMPION 
Entahlah. Saya terlalu sedih untuk ngulik bunga langka ini (langka menurut saya, atau emang langka, ya?). Soalnya bunga ini udah RIP aliah udah mati. Padahal kata Abang tukang bunganya, bunga ini kuat panas. Tapi, nyatanya... ah, sudahlah. Intinya RIP Bunga Lampionku!

Ada yang tahu foto di atas itu bunga apa? Saya mah gak tahu. Asal beli aja. Hehehehe


KEMANGI (Lokal)
Aih, ini kesayangan. Buat lalap enak banget. Seger, ada pedes-pedesnya gitu. Hehehe. BTW, itu potnya hasil hibahan tetangga. Bekas btempat beras yang udah dibuang. Padahal, sih, masih bener. Mungkin itu tempat beras jadul, jadinya dibuang, deh. Ya sudah, otak hemat saya muncul. Saya ijin buat minta tuh bekas tempat beras buat dijadiin pot. Pas dilihat, ternyata masih utuh, belum ada yang bolong atau pecah. Tebel pulak, tuh. Saya aja ngelubanginnya pake tenaga dalam. Ecieeehhhh. Hahahaha. Makasih, ya, tetanggaku yang baik hati. Sering-sering aja buang yang beginian. Biar saya gak usah beli pot. Ooops!


MARIGOLD (African Cackerjack)
Udah dua kali ini nanam Marigold. Yang pertama tumbuh. Tapi nggak sampai berbunga udah keburu mati. Nah, yang sekarang saya jaga sepenuh hati sampe akhirnya berbunga lumayan banyak. Bunganya lumayan besar, lho. Tetangga aja pada nungguin tuh bunga kering (minta bijinya gitu, buat ditanam). Padahal saya beli bijinya, lumayan juga harganya. Kalo nggak salah yang 15 biji itu 8 ribuan. Kalo saya jual ke tetangga, pada mau nggak, ya? Hihihii



ANGELONIA (Fake Lavender)
Ini, kata Abang tukang bunganya LAVENDER. Sayanya pervaya aja. Soalnya miriplaaah. Pas baca-baca artikel, ternyata ini Angelonia (Lavender Palsu). Ya sudah, nggak apa-apa. Yang penting bunganya bagus. Saya punya warna ungu dan pink dalam satu polibag. Ada yang tahu, cara memperbanyaknya?


TIMUN (Lalap)
Bijinya dapat bonusan dari Mbak Tyas. Sebernya banyak, sih. Cuma ini yang selamat. Mungkin yang lainnya dimamam siti(kus). HIks!


ALOE VERA (Lidah Buaya)
Suka, deh, sama lidah buaya. Tapi, bukan lidahnya buaya darat, lho, ya. Wakwawww!

Apalagi yang gemuk-gemuk gini. Enak banget dipandang. Kenyang rasanya. Tapi, awal-awal beli lidah buaya saya jadi kuning. Saya kasih tipsnya supaya lidah buaya hijau lestari terus.

Tips: Taruh tanaman lidah buaya di naungan atau di tempat yang nggak kena sinar matahari full. Agak musuhan soalnya si lidah buaya ini sama matahari siang yang terik itu.



Nah, itu dia penampakan lidah buayaku sebelum dan sesudah ditempatkan di tempat yang nggak kena fullsun. Tips tersebut juga saya dapat dari grup berkebun di FB. Makasih, Guys!

Dan..., voila! Sekarang dia udah punya banyak anakan. Senangnyaaaa....


CABAI MERAH BESAR
Selain kemangi yang jadi primadona Emak-emak macam saya, ini juga kayaknya salah satu yang wajib ada di dapur. Cabe (Bukan cabe-cabean yang suka bonceng limaan, lho, yaaa). Saya tanem ini dari biji. BIjinya saya dapet dari cabe merah besar yang saya beli di warung. Iseng-iseng bijinya gak ikut saya masak. Tapi, saya semai di polibag. Alhamdulillah, jadi. Sekarang kata Mama, cabenya udah mulai memerah dan siap panen! Horeeee!


TOMAT
Nih biji dapet beli di Mbak Tyas. Padahal udah lamaaa belinya. Tapi masih tumbuh juga. Senangnyaaa. Au, dah jenisnya mah jenis apaan. Lihat ntar aja kalo udah berbuah.

-------------------------------

Nah, segitu dulu, ye ulasan masalah perkebonan di teras belakang rumah saya. Semoga saya bisa sedikit nyumbang oksigen ke bumi. Dan bagi saya, nggak perlu juga lahan luas-luas banget (tapi kalo punya, ya alhamdulillaah) buat nanem-naneman. Cukup dalam pot, kalo dirasa pot juga mahal dalam polibag juga ok. Nah, kalo dalem polibag juga berduit, di ember-ember bekas juga no problemo. Kalo nggak punya ember bekas, dan minta ke tetangga pun nggak ada plastik kresek boleh juga, tuh. Yang penting niat aja. Heheheehe. Rumah jadi makin adem dan emak dipandang, lho. Yang rapi aja natanya. Hehehe.

Lha, ini foto di bawah adalah before and afternya kebon saya. Terakhir sebelum ditinggal ke Jakarta udah sesek begitu. Empot-empotan, dah tanemannya. Saling tumpuk. Hehehehe.  Saya suka saya sukaaa....




Sekian dulu, yaaa. Terima kasih sudah mampir. Share tentang bercocok tanam, yuk! SAya masih newbie. Butuh banyak ilmu lagi. Kritik dan saran, silakan ditulis di kolom komentar.

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Ditulis oleh: alQueen
PM-JakSel, 04 Agustus 2016 - 03:29 pagi
Semua foto adalah milik pribadi


Selasa, 02 Agustus 2016

Me, Between Spring and Summer (CETAR-Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with No comments



Sorry banget, nih, mosting telat (bahasa apa, ya, 'mosting'?). Harusnya pan Malem Minggu kemarin. Ya, harap maklumlaaah, ini semua pasal kuota. Hahahaha. Okay, tak maulah daku berpanjang kata. Silakan lanjutkan baca CETAR aje, yeee. Enjoyyy!


Tiga


  
Surat cinta yang aku ceritakan kemarin itu tidak tahu dari siapa. Di bagian bawah surat hanya terdapat inisial saja. A. Cuma itu yang tercantum. Kira-kira siapa pengirimnya? Apa "A" itu berarti Ajeng, namaku? Entahlah. Tapi, jelas-jelas itu "From" bukan "For".

    "Apa pengirimnya salah tulis, ya? Ya sudahlah." Aku tidak mau terlalu ambil pusing dengan surat itu.

    Di pojok Kantin....

    "Udah dijawab?"

    Kak Doni da Kak Beno menghampiriku dengan sebuah pertanyaan yang aneh.

    "Dijawab? Apa maksud Kalian?"

    "Cieee, Jepang punya fans,” sembur Kak Beno.

    "Haaa? Fans? Apa sih maksudnya?" Aku benar-benar tidak mengerti.

    "Pernyataan. Surat."

    Ooh, maksudnya surat itu. Tapi...,

    "Darimana Kalian tau tentang surat itu?"

    "-A-, Alfian Nino"

    "Siapa tuh?" Alfian Nino? Perasaan aku tidak mengenal nama itu.

    Kemudian Kak Doni menceritakan tentang asal mula ada surat nyasar ke mejaku di kelas. Alfian Nino, adalah teman dekat Kak Doni dan Kak Beno. Dia tidak satu sekolah dengan kami. Dia sekolah di salah satu sekolah swasta yang cukup mahal di daerahku. Awal mulanya, Kak Doni pernah membawa Nino, nama panggilannya kemudian, ke sekolahku. Katanya, Nino melihatku dan langsung suka.

    "Masa? Emang ada, ya yang kayak gitu?" tanyaku heran.

    "Lha, tuh buktinya," jawab Kak Doni sambil menunjuk surat di tanganku.

    Aku masih ragu. Tapi, Kak Doni dan Kak Beno terus meyakinkanku kalau Nino itu baik, cakep, tajir dan bla bla bla....

    "Tapi, aku belum lihat orangnya."

    "GOOD!" Seru Kak Doni seraya menjitak kepalaku.

    "Apanya yang good?"

    "Itu artinya Jepang tertarik sama si inisial A."

    Aku tidak mengerti sepenuhnya. Tapi, aku iyakan saja apa yang dikatakan mereka padaku.

♔♔♔

    Hari ini, Kak Doni tidak mengantarku pulang. Walaupun memang akhir-akhir ini Kak Doni jarang mengantarku pulang. Tapi, seminggu belakangan ini Kak Doni rajin mengantarku pulang lagi. Katanya, hari ini dia mau mengajak Nino main ke rumahku. Aku sih iya-iya saja. Toh, aku tidak punya perasaan apapun terhadap Nino. Ketemu dan kenal saja belum, apalagi suka.

    Aku sampai di rumah sekitar jam setengah tiga sore. Tadi, aku sempat mengantar Egi membeli peralatan gambar untuk lomba minggu depan. Jadi, aku pulang agak terlambat. Walaupun perasaan sukaku pada Egi berkurang drastis. Tapi, aku masih tetap berteman. Kadang masih suka beradu mulut juga. Intinya masih tetap sama seperti dulu. Hanya saja porsinya sedikit berkurang.

    Aku sedang menyiram bunga ketika Kak Doni dan beberapa temannya datang. Hampir semuanya kukenal. Kecuali satu, mungkin dia adalah Nino. Aku sempat terpesona dengan yang namanya Nino itu. Dia memang tampan, kulitnya putih, matanya sedikit sipit, wajahnya bulat tirus, sedikit kumis, dan rambut lurus kecokelatan. Dan satu lagi, matanya juga cokelat hanya saja lebih terang dari cokelat rambutnya.

    "Ngelamun? Apaan tuh yang disiram? Kak Beno membuyarkan lamunanku.

    Ya ampuuunnn.... Aku malah menghayal. Bukannya bunga yang aku siram. Tapi, malah pagarnya yang aku banjiri dengan air.

    "Ngelamunin apaan sih?" Kak Doni menimpali.

    "Nggak kok,” jawabku bohong.

    "Boong!" Kak Rivat ikut menyahut.

    "Hehe...." Aku hanya nyengir.

    Lalu, Kak Doni memperkenalkan aku dengan Nino. Setelah kami berkenalan, mereka kabur entah ke mana. Mereka sengaja membiarkan aku berdua bersama Nino. Dasar!

    Tak lama kemudian, Nino menyatakan perasaan sukanya padaku. Dan dia juga bertanya, apakah aku mau jadi pacarnya. Aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku butuh waktu. Tadinya aku pikir, aku akan bisa langsung menolak. Tapi, setelah melihat orangnya dan melihat wajah pasrahnya aku urungkan niatku untuk langsung menolak. Aku bilang pada Nino bahwa aku akan menjawab seminggu kemudian dan Nino menyetujuinya. Setelah itu, tampak Nino menelepon seseorang dan aku yakin pasti mereka semua. Karena selang beberapa menit terdengar suara motor datang. Lalu, mereka pamit pulang.

    Hari sudah mulai gelap ketika mereka pulang. Setelah Shalat Isya, aku menekuri Pekerjaan Rumahku, Matematika. Aku melirik amplop biru langit yang berisi surat dari si inisial "A" tadi pagi di atas tumpukan novel. Aku kemudian meraihnya dan mulai membaca. Aku tinggalkan PR Matematikaku, yang membuat kepala mau pecah. Aku beralih ke surat cintaku, yang membuat aku ringan seperti bulu.

Rumpun mawar di halaman memang indah dan menawan. Sedang rumpun ilalang dalam kamar usang dan membosankan. Tapi, aku tidak mau mawar-mawar itu. Karena, semua orang dapat memandang dan memetik sesuka hati. Aku mau ilalang saja. Yang tiada orang dapat memandang dan memetik sesuka hati. Hanya aku yang memiliki.

From A

    Kututup surat itu, aku tersenyum dan melayang. Aku terpejam, melupakan tiga puluh so'al PR matematikaku. Aku terlelap bersama surat dari Alfian Nino.

♔♔♔

020816.JKT.PM