Rabu, 20 Juli 2016

Me, Between Spring and Summer (CETAR - Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with 2 comments






Satu


Mulai hari ini, aku resmi menjadi siswi SMP. Selain merasa lebih dewasa, rasanya aneh bertemu dengan orang-orang baru yang sebagian besar tidak pernah aku kenal sebelumnya. Aku lulus tes masuk SMP ini dan masuk di kelas A, yang kata orang merupakan kelas unggulan. Namun, bagiku masuk kelas mana pun tidak masalah selama aku bisa sekolah. Suasana di sini tidak jauh berbeda dengan SDku dulu, yang membedakan hanya seragam, dari putih-merah menjadi putih-biru dan tentunya teman-teman baru.
“Hey! Boleh aku duduk di sebelahmu?” Suara itu membuyarkan lamunanku.
“Ehmmm..., boleh. Silakan!”
“Aku Sasa. Kamu?” tanyanya sembari mengulurkan tangannya. Aku bingung. Tapi, pada akhirnya aku balas uluran tangannya.
“Akuuu... Ajeng.”

Mulai sekarang, Sasa akan menjadi teman sebangkuku. Teman pertama yang mengajakku berkenalan dan mengobrol. Aku merasa kalau Sasa adalah anak yang baik, asyik diajak berbicara, manis dan lucu. Tapi, kalau urusan cerewet, tentu saja aku ahlinya. Perkenalan dan obrolanku dengan Sasa harus terhenti karena aku melihat satu sosok yang tidak asing lagi menutupi pandanganku.

“EGIII?!!!”

♔♔♔

Semangatku tak pernah pudar untuk tetap berangkat sekolah. Walaupun pada kenyataannya, sikap Egi benar-benar tidak sejalan dengan pikiranku. Egi yang dulu aku harapkan akan manis padaku, ternyata dia berbeda 180 derajat. Kami sangat tidak bisa akur. Ya, sudahlah, mau diapakan lagi kalau yang terjadi justru sebaliknya. Setiap hari perang mulut selalau saja terjadi. Egi semakin bertambah usil tiap harinya, menyebalkan dan selalu menggerutu tiap kali aku maju menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

“Orang, tuh, ya, ada malunya dikit napa? Masa setiap pertanyaan guru maunya kamu doang yang jawab. Emangnya di kelas ini siswanya cuma kamu?” ejek Egi.

“Ya biarin aja. Kalau kamu emang bisa jawab pertanyaan guru, ya, yinggal jawab aja. Gitu aja, kok, repot!” Suaraku meninggi, aku kesal bukan main.

“Ilmu itu seperti pakaian dalam. Semua orang memilikinya. Tapi, nggak bisa dipamerin sesuka hati, seenak jidat.” Dia kembali berteori. Membuatku semakin kesal.

“Apa?! Terserah aja, deh. Lagian menjawab peratanyaan guru itu adalah hak semua siswa, termasuk aku. Dan... WHAT I WANNA DO, JUST DO WHAT I WANT!” Kutinggikan nada bicaraku.

“Dasar pamer! Pergi sana ke galeri atau pameran!” ucap Egi sebelum akhir dia pergi keluar kelas.

“Usil banget, sih, tuh, anak!” gerutuku sambil mencari-cari dompetku dalam tas. “Ke mana, sih, dompet? Ya ampuuunnn....”

Ternyata dompetku tertinggal di ruang tamu rumah. Aku lupa membawanya karena terlalu sibuk menyiapkan bahan diskusi hari ini. Dan parahnya, ketika aku merogoh saku baju, yang tersisa hanya lima ratus rupiah. Mampus! Pulang pake apaan? Aku akhirnya pasrah dan terduduk di kursi sambil menahan kesal. Kesal karena pertengkaranku denga Egii dan kesal karena kecerobohanku, sehingga dompet tertinngal.

“Kenapa, Jeng? Kok manyun gitu?” Sasa datang memergokiku tengan memmonyongkan bibir.

“Dompetku ketinggalan di rumah. Gimana pulangnya?” Setengha menangis aku bercerita.

“Mau pinjam punyaku?” tawar Sasa.

“Nggak usah, Sa. Kalo kamu minjemin aku, kamu sendiri gimana baliknya?”

“Eeemmm..., iya juga, sih.”

Aku hanya tersenyum kecut atas kebodohanku. Aku tahu benar, bahwa kehidupanku tidak terlalu berada. Namun, jika dibandingkan dengan kehidupan Sasa, aku jauh lebih beruntung. Tidak lama setelah ibunya meninngal, ayahnya kabur entah ke mana. Dia harus rela melenyapkan waktu bermainnya dengan bekerja setelah pulang sekolah. Semua itu demi mencukupi hidup dirinya dan kedua orang adiknya yang masih kecil. Saat Sasa berangkat sekolah, kedua adiknya dititipkan di tetangga. Sasa rela bekerja apa saja agar dia dan adik-adiknya dapat makan dengan layak.


Sekali pun hidupnya sangat berat dijalani, Sasa tak pernah mengeluh kepada teman-teman. Hanya sesekali saja kepadaku. Munkin, karena aku sudah dianggap sebagai sahabatnya.Ketika ingat semua tentang Sasa, aku merasa sangat tidak berguna. Aku merasa terpojok dan keci sekali. Sasa, tanpa dia menggerutuiku yang kadang masih suka protes jika diberi uang saku sedikit, tanpa dia sadari, aku belajar banyak hal dari sikap dan sifatnya. Terima kasih, Sasa. Aku melihat Egi masuk ke kelas dengan wajah sok cuek. Dia melihatku sebentar, lalu membuang pandangannya ke depan.

“Kalian itu cocok.” Sasa terkekeh melihatku cemberut.

“COCOK?! Cocok dilihat dari Monas menggunakan sedotan dan kemudian jatuh telungkup ke tanah?” timpalku sambil ikut tertawa.

♔♔♔

Bel tanda pulang sekolah berbunyi, aku masih duduk di dalam kelas. Satu per satu teman-temanku meningalkan kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku melihat Egi tengah membereskan peralatan tulis-menulisnya. Aku memerhatikan punggungnya dari bangkuku. Berharap ada keajaiban, Egi menghampiriku dan bertanya dengan manis. Lalu, mengantarkanku pulang. Tapi, kenyataan yang terjadi padaku, apalagi yang berkenaan dengan Egi selalu saja pahit. Boro-boro Egi menghampiri dan mengantarku pulang, menengok saja tidak. Dia ngeloyor pergi tanpa menoleh ke arahku. Sadis!

Aku melihat sekeliling sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Aku sendirian. Aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. Tentang hantu, dan sebagainya. Hantu di lingkungan sekolah selalu lebih menyeramkan dibanding hantu yang berkeliaran di area makam, bagiku. Hiiiy. Aku begidik. Lalu, segera keluar dari kelas dengan langkah lebar-lebar.

“Kok, baru keluar kelas?”

Sungguh, aku hampir pingsan dengan jantung melompat sempurna melalui mulut, lalu, berguling ke lantai, lalu, mendebam tanah dan kembali terguling-guling sampai akhinya masuk ke dalam got berisi air 'super jernih' itu, kalau saja orang yang mengagetkaku barusan tidak menopangku.

“Ada tugas yang harus diselesaikan dulu? Atau merapikan catatan?” Ternyata itu Kak Doni, kakak kelas dari kelas tiga. Dia adalah sahabat dari Kak Beno, orang yang aku sukai sejak MOS.

“Eh, nggak,” jawabku tergagap.

Kami berjalan menuju gerbang sekolah bersama. Dalam perjalanan, Kak Doni masih saja menanyaiku ini dan itu. Kadang, dia juga menyebut nama Kak Beno. Ah! Pipiku memanas setiap kali nama Kak Beno disebut.

“Wah, pipimu memerah. Lucu. Pantesan aja Beno selalu bilang kamu mirip boneka Jepang?” Hah?! Boneka Jepang?

“Mungkin karena panas saja,” kataku sekenanya.

“Iya juga, sih. Hari ini panas. Padahal udah agak sore, ya?”

“Eh, iya.”

Kak Doni celingukan mencari sesuatu.

“Kalo ada angkot, langsung naik aja, ya?! Panas banget. Nanti, bukan cuma wajahmu yang memerah, tapi juga semua kulitmu memerah dan itu tak akan lucu lagi.” Kak Doni terkekeh atas perkataannya sendiri. Sial! Sekitar lima menit menunggu, akhirnya angkot datang juga. Aku belingsatan. Rasanya aku mau lari saja dari Kak Doni. Tapi, tanganku ditariknya dan aku dipaksa masuk ke dalam angkot. Apa-apaan ini?Hadeeeh!

“Pak, ini bayarnya dia.” kata Kak Doni menyodorkan lembaran uang ke sopir sambil menyiratkan bahwa ongkos itu untukku.

Aku salah tingkah, di satu sisi aku malu bukan main karena haru diongkosi oleh Kak Doni. Di sisi lain, aku selamaaattt. Terima kasih, Tuhan. Kulihat tubuh Kak Doni perlahan mengecil, karena angkot yang kutumpangi mulai bergerak. Rumah Kak Doni berbeda arah dengan rumahku. Dia biasa menaiki sepeda pergi-pulang sekolah.

Pulang juga?” Suara itu? “Kirain mau nginep semalam suntuk di kelas. Atau mau gantiin satpam jaga malem?”

“Egi?”

Aku mencoba senetral mungkin, walaupun kenyataannya aku kaget bercampur heran. Perasaan Egi udah pulang dari tadi. Kenapa?

“Kenapa, kehilangan?” tanya Egi dengan ekspresi datar, tapi seolah meledek.

“Idih, pede banget! Eh, bentar, deh. Perasa kamu udah pulang dari tadi. Kenapa malah jadi pulang bareng gini, sih? Jangan ilang kalo kamu...”

“Jangan ge-er!” Raut mukanya seperti orang baru tertangkap basah mencuri sesuatu, namun bisa ditutupinya segera.

“Bodo! Lagian bukan urusanku. Terserah kamu mau pulang apa nginep atau mau gantiin satpam jagain sekolah malem hari.” Aku meng-copy-paste ucapannya.

Aku kembali menatap lurus ke depan. Pikiranku masih terbayang obrolanku dengan Kak Doni, tentang Kak Beno yang ternyata suka bercerita pada Kak Doni tentangku dan mukaku kembali memerah saat mengingat Kak Doni bilang kalau aku manis.

“Ayam tetanggaku pasti sering mati karena kamu sering melamun begini,” ujar Egi tiba-tiba. Dia melewatiku dan turun dari angkot. Apa? Egi Turun? Tepat saat angkot akan melaju kembali, aku bergegas lompat dari angkot dan hanpir saja jatuh kalau saja Egi tidak menahanku.

“Kali ini dua puluh ayam tetanggaku bakal mati sia-sia,” tukasnya lalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung di tempat.

Setelah sekitar dua menit Egi menghilang, aku tersadar dan buru-buru lari ke arah rumahku. Harusnya aku turun lebih dulu dibandingkan Egi. Rumahku dan rumah Egi terpaut agak jauh. Karena kecerobohanku inilah aku harus bekerja dua kali. Fiuuuh..., merepotkan. Tapi, entah kenpa aku justru tersenyum. Senyum yang entah ditujukan untuk siapa. Kak Beno, Kak Doni, atau Egi? Entahlah!

♔♔♔

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Jadwal POS CETAR ini setiap Malam Minggu. Biarin, dah, saya mah baik. Pan yang jones, ijo lumut, joker, jotar atau apalah itu namenye kesepian kalo malming gicuuu. Sebagai hiburan, ya baca ini aja. (kikikiiikkkk, bukannya bakal nambah galaooo, ya). Kabuuurrrrr....

    BalasHapus