Sabtu, 23 Juli 2016

Me, Between Spring and Summer (CETAR-Cerita Tak Kelar-kelar)

Edit Posted by with No comments





Hello.... It's Satnite, isn't it? Alright, I come back with the new part of my CETAR, Me, Between Spring and Summer. Are you jomblo? Kikikiiikkkk. It's ok if you're jomblo. NO PROBLEMO. Here I am, will accompany you with my CETAR. Happy reading. Hope you'll like it. Hit +1 below if you like my cetar. Thank you, all. Have fun!


Dua

 
Entah sejak kapan, setiap kali istirahat jam pelajaran, Kak Beno duduk di teras kelasnya dengan pandangan lurus menatapku. Yah! Menatapku yang suka sekali duduk di teras kelasku sambil makan jajanan kantin. Aku jarang duduk beramai-ramai di kantin saat istirahat, aku lebih suka duduk di teras dengan semilir angin yang sejuk, yang terkadang membuatku mengantuk dan malas mendengar bel tanda istirahat selesai berbunyi. Apalagi, akhir-akhir ini, Kak Beno rajin memandangiku dari kejauhan. Semula, kukira bukan aku yang menjadi objek penglihatannya. Namun, bahkan saat aku duduk sendirian pun, Kak Beno masih tetap memandang ke arahku. Sungguh, hatiku tidak menentu. Apalagi jika di situ ada Kak Beno dan Kak Doni duduk bersama. Mana yang harus kupilih, Tuhan?

Aku meringis dengan semua lamunan-lamunanku. Padahal aku tidak tahu perasaan kedua kakak kelasku terhadapku itu bagaimana. Namun, aku sering menghayal kisahku akan sama seperti drama-drama Korea atau seperti komik-komik romance yang belakangan ini aku sering baca. Semuanya tampak indah dan pastinya happy ending. Bahkan, aku sekarang rajin menulis diary, mengarang puisi, dan yang lainnya. Yang dulu kurasa norak dan tidak ada bagus-bagusnya curhat dengan benda bisu, tuli dan tak bergerak macam buku ini. Namun, aku ternyata mengingkari dugaanku dulu, karena sekarang buktinya aku sangat rajin menghabiskan tintaku untuk dicorat-coret ke lembaran buku. Lembar demi lembar. Rasanya akan sangat menyebalkan jika sampai lupa menuliskan kejadian yang terjadi karena banyak PR, misalnya.

“Ssst, mau ke mana?” sapa Kak Doni saat aku hendak ke kantin.

“Biasa.”

“Aku mau nanya,” ucap Kak Doni lagi.

“Nanya apa?”

“Emmm... gimana mulainya, ya?” Kak Doni tampak bingun sendiri. “Oke...” Dia tampak bermonolog. “Ajeng...” Ajeng? Rasanya ini kali pertama Kak Doni memanggil langsung namaku. Ada apa...?

“Ajeng...” Kak Doni mengulangi lagi.

“Iya, Kak. Apaan?” tanyaku tidak sabar lagi. Dia masih tampak ragu-ragu.

“Aku ingin melamarmu. Apakah kamu mau dilamar olehku?”

“HEEEEEE?!” Aku kaget setengah mati. Sungguh! Andai saja aku sedang makan atau minum, semuanya kan menyembur sukses di wajah Kak Doni. Tapi, yang terjadi hanya jantungku yang berdegup sangat kencang, hingga rasanya hendak menyebul dari dada. Setelah agak tenang, aku baru membuka mulutku lagi. “Maksud...”

“Hahahahaha...”

Tertawa? Apa-apaan ini?

“Ehm. Gini.... Yang sebenarnya mauk aku tanyakan adalah...”

“Apa?” potongku.

“Kira-kira, kata-kata tadi itu terlalu to the point nggak, ya?”

“Ha?” Aku masih bingung dengan semua maksud Kak Doni.

“Iya. Kata-kata tadi..., apa terlalu ekstrem untuk menyatakan perasaanku pada seorang perempuan?”

“Pastinya!” jawabku mantap. “Siapa juga yang akan bilang itu nggak ekstrem? Pantasnya..., orang yang ngasih pernyataan tadi itu adalah cowok yang udah pacaran lama dan udah matang. Bukan seorang cowok yang masih berpredikat siswa kelas tiga S-M-P.” Aku mempertegas kata SMP, agar Kak Doni sadar bahwa hal yang direncanakannya adalah hal gila untuk seumurannya. Yang bahkan uang saku pun masih meminta pada orang tua. Kak Doni mengangguk-angguk mengiyakan semua teori yang aku berikan.
“Kamu ada benernya juga, ya? Tapi, masalahnya cewek yang mau aku tembak ini tidak akan mau jika diajak berpacaran.”

Ada sebersit rasa sakit di hatiku saat mengetahui bahwa cewek yang didamba Kak Doni bukanlah aku, melainkan orang lain.

“Emang siapa, sih, cewek itu?”

“Adel.”

“Ooohhh.... Pantes.”

“Gimana?” tanya Kak Doni lagi.

“Lagian nekat amat, sih, pake acara mau nembak Mbak Adel segala?! Nggak usah nanya juga, harusnya Kak Doni udah tahu jawabannya, kan?”

“Ditolak...,” jawabnya lemah.

Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku adalah salah satu pengagum Mbak Adel. Kak Adel adalah anak kedua dari Guru Agama di kelasku. Mbak Adel sendiri duduk di kelas 3-A, se-ke-las dengan Kak Beno. Aku sering dengar, kalau sudah banyak cowok yang menyatakan cinta dan kesemuanya itu DITOLAK. Padahal, yang menyatakan cintanya kadang tak ayal dari cowok yang berlatar-belakang keluarga kaya. Kabarnya anak Bupati pun sampai ditolaknya. Entah lelaki seperti apa yang jadi pilihan hati Mbak Adel. Pandanganku beralih ke Kak Doni, sepertinya Kak Doni bukannya terlihat pesimis, dia malah semakin gila menampakkan keoptimisannya untuk bisa lebih jauh mengenal apa yang menjadi kriteria cowok Mbak Adel. Belum selesai pebincanganku dengan Kak Doni, bel masuk berbunyi.

“Tunggu kabarnya Senin depan, Boneka Jepang!”

Sambil berlari, Kak Doni meneriakkan lagi keoptimisannya padaku, yang membuat aku makin ciut dan sakit hati.
“Iya, aku akan nungguin momen di mana Kakak bakalan nangis di depanku. Hahaha,” balasku.

♔♔♔

Hari Senin adalah hari kutukan bagi sebagian besar murid di Indonesia, atau bahkan di dunia. Dan juga bagiku. Namun, Senin ini adalah hari yang dijanjikan Kak Doni waktu itu. Dia akan memberikan jawaban Kak Adel padaku setelah aksi nekad mau melamarnya. Tapi, sampai bel istirahat selesai Kak Doni belum juga muncul menemuiku.

"Palingan juga Kak Doni ditolak dan malu bilang padaku," pikirku saat itu. Dan aku merasa menang sendiri.

♔♔♔

"Kemana aja sih, Kak? Baru nongol?"

Kak Doni baru menemuiku sebulan setelah hari perjanjian itu. Dan selama sebulan itu Kak Doni selalu bersikap cuek padaku. Kalau aku menyapa, dia pura-pura tidak mendengar dan berlalu saja meninggalkan tanda tanya di kepalaku.

Hehe, maaf."

"Dasar!" Meminta maafnya seperti orang yang tidak bersalah saja.

“Iya, dimaafin. Ya udah, jelasin. Jangan pake nangis tapinya. Karena aku tahu, Kak Doni pasti ditolak."

"Hehe, tau aja kamu Jepang."

Ha ha ha.. Aku sungguh merasa menang atas jawaban Kak Doni tadi.

"Beneran Kak Doni ditolak?" Aku pura-pura penasaran.

"Iya, aku ditolak jadi pacar. Tapi, aku diterima jadi calon suami."

"What?!”

"Aku menang!" Jawabnya girang sambil menjitak kepalaku.

Berhubung bel masuk berbunyi, Kak Doni buru-buru pergi. Dia juga belum selesai menceritakan semuanya padaku.

♔♔♔

Ternyata, sebulan Kak Doni tidak menemuiku bukan lantaran dia ditolak Mbak Adel. Tapi, justru karena dia diterima. Kata Kak Doni, Mbak Adel awalnya juga menolak. Tapi, Kak Doni tidak menyerah. Kak Doni terus meyakinkan Mbak Adel kalau dirinya mampu bertahan dengan komitmennya untuk suatu hari bisa menikahi Mbak Adel. Dan Mbak Adel menyetujuinya tentunya dengan syarat. Entah syarat apa yang diajukan, Kak Doni merahasiakannya dariku.

"Nanti juga aku cerita, Jepang."

Itulah jawaban Kak Doni setiap aku penasaran dengan syarat yang diajukan Mbak Adel padanya.

Aku patah hati. Walau Mungkin tidak sampai terluka. Tapi, rasanya tetap sakit. Apalagi Kak Doni bilang, dia akan lebih jarang berkomunikasi denganku.

"Jepang, maaf, ya. Kalau akhir-akhir ini aku jarang menemuimu di pojok kantin? Hehe,” ucapnya yang semakin membuatku sakit.

"Ini juga dalam rangka memenuhi syarat yang Adel berikan padaku."

"Aku mengerti."

Mungkin Mbak Adel tidak suka dengan kedekatanku dan Kak Doni. Pikirku.

Akupun kembali ke asal. Kembali ke kehidupanku sebagai siswi kelas satu. Dan Kak Doni kembali menjadi kakak kelasku yang biasa. Sampai tiba-tiba, suatu hari aku menerima surat cinta.

♔♔♔

To be continued....

0 komentar:

Posting Komentar