Hello.... It's Satnite, isn't it? Alright, I come back with the new part of my CETAR, Me, Between Spring and Summer. Are you jomblo? Kikikiiikkkk. It's ok if you're jomblo. NO PROBLEMO. Here I am, will accompany you with my CETAR. Happy reading. Hope you'll like it. Hit +1 below if you like my cetar. Thank you, all. Have fun!
Dua
Entah
sejak kapan, setiap kali istirahat jam pelajaran, Kak Beno duduk di
teras kelasnya dengan pandangan lurus menatapku. Yah! Menatapku yang
suka sekali duduk di teras kelasku sambil makan jajanan kantin. Aku
jarang duduk beramai-ramai di kantin saat istirahat, aku lebih suka
duduk di teras dengan semilir angin yang sejuk, yang terkadang
membuatku mengantuk dan malas mendengar bel tanda istirahat selesai
berbunyi. Apalagi, akhir-akhir ini, Kak Beno rajin memandangiku dari
kejauhan. Semula, kukira bukan aku yang menjadi objek penglihatannya.
Namun, bahkan saat aku duduk sendirian pun, Kak Beno masih tetap
memandang ke arahku. Sungguh, hatiku tidak menentu. Apalagi jika di
situ ada Kak Beno dan Kak Doni duduk bersama. Mana yang harus
kupilih, Tuhan?
Aku
meringis dengan semua lamunan-lamunanku. Padahal aku tidak tahu
perasaan kedua kakak kelasku terhadapku itu bagaimana. Namun, aku
sering menghayal kisahku akan sama seperti drama-drama Korea atau
seperti komik-komik romance yang belakangan ini aku sering
baca. Semuanya tampak indah dan pastinya happy ending. Bahkan,
aku sekarang rajin menulis diary, mengarang puisi, dan yang
lainnya. Yang dulu kurasa norak dan tidak ada bagus-bagusnya curhat
dengan benda bisu, tuli dan tak bergerak macam buku ini. Namun, aku
ternyata mengingkari dugaanku dulu, karena sekarang buktinya aku
sangat rajin menghabiskan tintaku untuk dicorat-coret ke lembaran
buku. Lembar demi lembar. Rasanya akan sangat menyebalkan jika sampai
lupa menuliskan kejadian yang terjadi karena banyak PR, misalnya.
“Ssst,
mau ke mana?” sapa Kak Doni saat aku hendak ke kantin.
“Biasa.”
“Aku
mau nanya,” ucap Kak Doni lagi.
“Nanya
apa?”
“Emmm...
gimana mulainya, ya?” Kak Doni tampak bingun sendiri. “Oke...”
Dia tampak bermonolog. “Ajeng...” Ajeng? Rasanya ini kali
pertama Kak Doni memanggil langsung namaku. Ada apa...?
“Ajeng...”
Kak Doni mengulangi lagi.
“Iya,
Kak. Apaan?” tanyaku tidak sabar lagi. Dia masih tampak ragu-ragu.
“Aku
ingin melamarmu. Apakah kamu mau dilamar olehku?”
“HEEEEEE?!”
Aku kaget setengah mati. Sungguh! Andai saja aku sedang makan atau
minum, semuanya kan menyembur sukses di wajah Kak Doni. Tapi, yang
terjadi hanya jantungku yang berdegup sangat kencang, hingga rasanya
hendak menyebul dari dada. Setelah agak tenang, aku baru membuka
mulutku lagi. “Maksud...”
“Hahahahaha...”
Tertawa?
Apa-apaan ini?
“Ehm.
Gini.... Yang sebenarnya mauk aku tanyakan adalah...”
“Apa?”
potongku.
“Kira-kira,
kata-kata tadi itu terlalu to the point nggak, ya?”
“Ha?”
Aku masih bingung dengan semua maksud Kak Doni.
“Iya.
Kata-kata tadi..., apa terlalu ekstrem untuk menyatakan perasaanku
pada seorang perempuan?”
“Pastinya!”
jawabku mantap. “Siapa juga yang akan bilang itu nggak ekstrem?
Pantasnya..., orang yang ngasih pernyataan tadi itu adalah cowok yang
udah pacaran lama dan udah matang. Bukan seorang cowok yang masih
berpredikat siswa kelas tiga S-M-P.” Aku mempertegas kata SMP, agar
Kak Doni sadar bahwa hal yang direncanakannya adalah hal gila untuk
seumurannya. Yang bahkan uang saku pun masih meminta pada orang tua.
Kak Doni mengangguk-angguk mengiyakan semua teori yang aku berikan.
“Kamu
ada benernya juga, ya? Tapi, masalahnya cewek yang mau aku tembak ini
tidak akan mau jika diajak berpacaran.”
Ada
sebersit rasa sakit di hatiku saat mengetahui bahwa cewek yang
didamba Kak Doni bukanlah aku, melainkan orang lain.
“Emang
siapa, sih, cewek itu?”
“Adel.”
“Ooohhh....
Pantes.”
“Gimana?”
tanya Kak Doni lagi.
“Lagian
nekat amat, sih, pake acara mau nembak Mbak Adel segala?! Nggak usah
nanya juga, harusnya Kak Doni udah tahu jawabannya, kan?”
“Ditolak...,”
jawabnya lemah.
Bagaimana
aku bisa tahu? Karena aku adalah salah satu pengagum Mbak Adel. Kak
Adel adalah anak kedua dari Guru Agama di kelasku. Mbak Adel sendiri
duduk di kelas 3-A, se-ke-las dengan Kak Beno. Aku sering dengar,
kalau sudah banyak cowok yang menyatakan cinta dan kesemuanya itu
DITOLAK. Padahal, yang menyatakan cintanya kadang tak ayal dari cowok
yang berlatar-belakang keluarga kaya. Kabarnya anak Bupati pun sampai
ditolaknya. Entah lelaki seperti apa yang jadi pilihan hati Mbak
Adel. Pandanganku beralih ke Kak Doni, sepertinya Kak Doni bukannya
terlihat pesimis, dia malah semakin gila menampakkan keoptimisannya
untuk bisa lebih jauh mengenal apa yang menjadi kriteria cowok Mbak
Adel. Belum selesai pebincanganku dengan Kak Doni, bel masuk
berbunyi.
“Tunggu
kabarnya Senin depan, Boneka Jepang!”
Sambil
berlari, Kak Doni meneriakkan lagi keoptimisannya padaku, yang
membuat aku makin ciut dan sakit hati.
“Iya,
aku akan nungguin momen di mana Kakak bakalan nangis di depanku.
Hahaha,” balasku.
♔♔♔
Hari
Senin adalah hari kutukan bagi sebagian besar murid di Indonesia,
atau bahkan di dunia. Dan juga bagiku. Namun, Senin ini adalah hari
yang dijanjikan Kak Doni waktu itu. Dia akan memberikan jawaban Kak
Adel padaku setelah aksi nekad mau melamarnya. Tapi, sampai bel
istirahat selesai Kak Doni belum juga muncul menemuiku.
"Palingan
juga Kak Doni ditolak dan malu bilang padaku," pikirku saat itu.
Dan aku merasa menang sendiri.
♔♔♔
"Kemana
aja sih, Kak? Baru nongol?"
Kak
Doni baru menemuiku sebulan setelah hari perjanjian itu. Dan selama
sebulan itu Kak Doni selalu bersikap cuek padaku. Kalau aku menyapa,
dia pura-pura tidak mendengar dan berlalu saja meninggalkan tanda
tanya di kepalaku.
Hehe, maaf."
"Dasar!"
Meminta maafnya seperti orang yang tidak bersalah saja.
“Iya, dimaafin.
Ya udah, jelasin. Jangan pake nangis tapinya. Karena aku tahu, Kak
Doni pasti ditolak."
"Hehe, tau aja
kamu Jepang."
Ha
ha ha.. Aku sungguh merasa menang atas jawaban Kak Doni tadi.
"Beneran Kak
Doni ditolak?" Aku pura-pura penasaran.
"Iya, aku
ditolak jadi pacar. Tapi, aku diterima jadi calon suami."
"What?!”
"Aku menang!"
Jawabnya girang sambil menjitak kepalaku.
Berhubung bel masuk
berbunyi, Kak Doni buru-buru pergi. Dia juga belum selesai
menceritakan semuanya padaku.
♔♔♔
Ternyata,
sebulan Kak Doni tidak menemuiku bukan lantaran dia ditolak Mbak
Adel. Tapi, justru karena dia diterima. Kata Kak Doni, Mbak Adel
awalnya juga menolak. Tapi, Kak Doni tidak menyerah. Kak Doni terus
meyakinkan Mbak Adel kalau dirinya mampu bertahan dengan komitmennya
untuk suatu hari bisa menikahi Mbak Adel. Dan Mbak Adel menyetujuinya
tentunya dengan syarat. Entah syarat apa yang diajukan, Kak Doni
merahasiakannya dariku.
"Nanti
juga aku cerita, Jepang."
Itulah
jawaban Kak Doni setiap aku penasaran dengan syarat yang diajukan
Mbak Adel padanya.
Aku
patah hati. Walau Mungkin tidak sampai terluka. Tapi, rasanya tetap
sakit. Apalagi Kak Doni bilang, dia akan lebih jarang berkomunikasi
denganku.
"Jepang,
maaf, ya. Kalau akhir-akhir ini aku jarang menemuimu di pojok kantin?
Hehe,” ucapnya yang semakin membuatku sakit.
"Ini
juga dalam rangka memenuhi syarat yang Adel berikan padaku."
"Aku
mengerti."
Mungkin
Mbak Adel tidak suka dengan kedekatanku dan Kak Doni. Pikirku.
Akupun
kembali ke asal. Kembali ke kehidupanku sebagai siswi kelas satu. Dan
Kak Doni kembali menjadi kakak kelasku yang biasa. Sampai tiba-tiba,
suatu hari aku menerima surat cinta.
♔♔♔
To be continued....

0 komentar:
Posting Komentar