Sorry banget, nih, mosting telat (bahasa apa, ya, 'mosting'?). Harusnya pan Malem Minggu kemarin. Ya, harap maklumlaaah, ini semua pasal kuota. Hahahaha. Okay, tak maulah daku berpanjang kata. Silakan lanjutkan baca CETAR aje, yeee. Enjoyyy!
Tiga
Surat cinta yang aku ceritakan kemarin itu tidak tahu dari siapa. Di bagian bawah surat hanya terdapat inisial saja. A. Cuma itu yang tercantum. Kira-kira siapa pengirimnya? Apa "A" itu berarti Ajeng, namaku? Entahlah. Tapi, jelas-jelas itu "From" bukan "For".
"Apa pengirimnya salah tulis, ya? Ya sudahlah." Aku tidak mau terlalu ambil pusing dengan surat itu.
Di pojok Kantin....
"Udah dijawab?"
Kak Doni da Kak Beno menghampiriku dengan sebuah pertanyaan yang aneh.
"Dijawab? Apa maksud Kalian?"
"Cieee, Jepang punya fans,” sembur Kak Beno.
"Haaa? Fans? Apa sih maksudnya?" Aku benar-benar tidak mengerti.
"Pernyataan. Surat."
Ooh, maksudnya surat itu. Tapi...,
"Darimana Kalian tau tentang surat itu?"
"-A-, Alfian Nino"
"Siapa tuh?" Alfian Nino? Perasaan aku tidak mengenal nama itu.
Kemudian Kak Doni menceritakan tentang asal mula ada surat nyasar ke mejaku di kelas. Alfian Nino, adalah teman dekat Kak Doni dan Kak Beno. Dia tidak satu sekolah dengan kami. Dia sekolah di salah satu sekolah swasta yang cukup mahal di daerahku. Awal mulanya, Kak Doni pernah membawa Nino, nama panggilannya kemudian, ke sekolahku. Katanya, Nino melihatku dan langsung suka.
"Masa? Emang ada, ya yang kayak gitu?" tanyaku heran.
"Lha, tuh buktinya," jawab Kak Doni sambil menunjuk surat di tanganku.
Aku masih ragu. Tapi, Kak Doni dan Kak Beno terus meyakinkanku kalau Nino itu baik, cakep, tajir dan bla bla bla....
"Tapi, aku belum lihat orangnya."
"GOOD!" Seru Kak Doni seraya menjitak kepalaku.
"Apanya yang good?"
"Itu artinya Jepang tertarik sama si inisial A."
Aku tidak mengerti sepenuhnya. Tapi, aku iyakan saja apa yang dikatakan mereka padaku.
♔♔♔
Hari ini, Kak Doni tidak mengantarku pulang. Walaupun memang akhir-akhir ini Kak Doni jarang mengantarku pulang. Tapi, seminggu belakangan ini Kak Doni rajin mengantarku pulang lagi. Katanya, hari ini dia mau mengajak Nino main ke rumahku. Aku sih iya-iya saja. Toh, aku tidak punya perasaan apapun terhadap Nino. Ketemu dan kenal saja belum, apalagi suka.
Aku sampai di rumah sekitar jam setengah tiga sore. Tadi, aku sempat mengantar Egi membeli peralatan gambar untuk lomba minggu depan. Jadi, aku pulang agak terlambat. Walaupun perasaan sukaku pada Egi berkurang drastis. Tapi, aku masih tetap berteman. Kadang masih suka beradu mulut juga. Intinya masih tetap sama seperti dulu. Hanya saja porsinya sedikit berkurang.
Aku sedang menyiram bunga ketika Kak Doni dan beberapa temannya datang. Hampir semuanya kukenal. Kecuali satu, mungkin dia adalah Nino. Aku sempat terpesona dengan yang namanya Nino itu. Dia memang tampan, kulitnya putih, matanya sedikit sipit, wajahnya bulat tirus, sedikit kumis, dan rambut lurus kecokelatan. Dan satu lagi, matanya juga cokelat hanya saja lebih terang dari cokelat rambutnya.
"Ngelamun? Apaan tuh yang disiram? Kak Beno membuyarkan lamunanku.
Ya ampuuunnn.... Aku malah menghayal. Bukannya bunga yang aku siram. Tapi, malah pagarnya yang aku banjiri dengan air.
"Ngelamunin apaan sih?" Kak Doni menimpali.
"Nggak kok,” jawabku bohong.
"Boong!" Kak Rivat ikut menyahut.
"Hehe...." Aku hanya nyengir.
Lalu, Kak Doni memperkenalkan aku dengan Nino. Setelah kami berkenalan, mereka kabur entah ke mana. Mereka sengaja membiarkan aku berdua bersama Nino. Dasar!
Tak lama kemudian, Nino menyatakan perasaan sukanya padaku. Dan dia juga bertanya, apakah aku mau jadi pacarnya. Aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku butuh waktu. Tadinya aku pikir, aku akan bisa langsung menolak. Tapi, setelah melihat orangnya dan melihat wajah pasrahnya aku urungkan niatku untuk langsung menolak. Aku bilang pada Nino bahwa aku akan menjawab seminggu kemudian dan Nino menyetujuinya. Setelah itu, tampak Nino menelepon seseorang dan aku yakin pasti mereka semua. Karena selang beberapa menit terdengar suara motor datang. Lalu, mereka pamit pulang.
Hari sudah mulai gelap ketika mereka pulang. Setelah Shalat Isya, aku menekuri Pekerjaan Rumahku, Matematika. Aku melirik amplop biru langit yang berisi surat dari si inisial "A" tadi pagi di atas tumpukan novel. Aku kemudian meraihnya dan mulai membaca. Aku tinggalkan PR Matematikaku, yang membuat kepala mau pecah. Aku beralih ke surat cintaku, yang membuat aku ringan seperti bulu.
Rumpun mawar di halaman memang indah dan menawan. Sedang rumpun ilalang dalam kamar usang dan membosankan. Tapi, aku tidak mau mawar-mawar itu. Karena, semua orang dapat memandang dan memetik sesuka hati. Aku mau ilalang saja. Yang tiada orang dapat memandang dan memetik sesuka hati. Hanya aku yang memiliki.
From A
Kututup surat itu, aku tersenyum dan melayang. Aku terpejam, melupakan tiga puluh so'al PR matematikaku. Aku terlelap bersama surat dari Alfian Nino.
♔♔♔
020816.JKT.PM

0 komentar:
Posting Komentar