Sabtu, 23 Juli 2016

Pohon Itu Sekarat Separuh (Opini Tentang Jakarta)

Edit Posted by with No comments

 


Pohon Itu Sekarat Separuh


Versi 1

Aku melihat sebuah belantara, di mana salah satu pohon terbesarnya mengalami sekarat separuh. Daun-daunnya ranggas, bahkan tunas yang belum sempat menggeliat pun ikut tewas. Padahal, ranting-rantingnya terlihat sangat kokoh, berwarna cokelat gelap dengan lengan-lengan dahan yang mencuat gagah dan sedikit memberikan kesan pongah. Di bagian tertinggi pohon itu, tampak dedaunan yang hijau lestari. Banyak burung yang hinggap di sana, bersarang, beranak-pinak, hidup sentosa pada dahan-dahannya. Dan sebagian dedaunan sisanya menguap malas, mulai menguning warnanya dan sepertinya enggan untuk melanjutkan penunasan. Ironi, sangat ironi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada pohon itu? Tidakkah semestinya jika hijau berarti hijau keseluruhan? Atau jika memang hendak layu, layulah semuanya?

Suatu hari, datanglah sekawanan cacing padaku. Dengan suara parau, mereka terisak.

“Kami tak lagi sanggup hidup di sana,” kata salah satu cacing sembari menunjukkan pohon tadi.

“Kenapa?” tanyaku.

“Tanahnya terlalu padat, sesak dan kami hampir mati tercekik bau busuk dari akarnya,” timpal cacing yang paling kurus.

“Kenapa gerangan dengan akarnya?”

“Akarnya rusak, busuk hampir di semua bagian. Banyak ulat tanah yang bergerumul di sana. Memakan nutrisi untuk pohon itu,” terang cacing dengan perut buncit.

Tak lama berselang, datang pula ulat-ulat daun. Mereka menceritakan bahwa sumber makanannya kini sudah menipis. Jika mereka mau tetap makan, maka mereka harus menjangkau dedaunan paling tinggi. Tentunya dengan resiko yang tinggi pula.

“Kami tak akan tahan. Banyak burung yang siap memangsa kami. Dan dedaunan itu terlalu tinggi untuk dapat kami jangkau.” Begitulah penuturan mereka.

Kembali kuperhatikan pohon itu. Tanahnya memang sangat padat, sampai para cacing enggan untuk menggemburkannya kembali. Akarnya membusuk, tak dapat bergerak bebas mencari jalan untuk memanjangkan hidupnya dan juga hidup pohon yang berdiri di atasnya.

Begitulah sebuah pohon. Pada akarlah ia bergantung. Akankah ia hidup lestari atau mati mengenaskan, kering, rapuh dan binasa? Tunas-tunas yang tumbuh subur pada pucuk itu merupakan tunas dengan daya tahan luar biasa. Mereka tahan terhadap cuaca dan hama. Bahkan ada yang rela sampai menjadi parasit pada pohonnya sendiri. Demi mencari jalan agar hidupnya tetap berlanjut.

Padahal, tak ada yang luput dariku. Belantara itu terbuka, menghadap ke langit yang sama. Pepohonan itu juga selalu sama, mencari sumber di mana mereka dapat bergerak terus ke atas, menjadi pohon yang dewasa. Namun, tampaknya berbeda dengan pohon besar itu. Akarnya, sebagai penguasa utama, telah rusak, membusuk. Lambat laun, jika keadaannya terus begini, semua bagian pohon itu akan mati. Kecuali para parasit yang akan mencari inang-inang baru untuk melanjutkan hidupnya.

Sampai saat itu, aku akan tetap berlaku adil. Memberikan kebutuhan bagi pepohonan yang memang sangat membutuhkanku. Aku akan tetap menerangi semesta dengan seadil-adilnya. Keputusan akhir, ada pada pohon itu sendiri. Apakah ia sanggup bertahan dengan berbagai hama perusak atau menyerah dan mati.

PM, 140615
AlQueen


Versi 2

Bagai pohon dengan berjuta ranting. Itulah Jakarta bagiku. Kota di mana hampir semua segi kehidupan Indonesia ada di sana. Saling bertimbunan satu sama lainnya, bertumpuk-ruah dari berbagai aspek. Adakah yang salah dengan Ibukota negara kita ini? Seperti halnya 'capital city' di seluruh dunia, sudah menjadi hal yang mutlak jika Jakarta menjadi kota yang padat, sesak dan sibuk. Namun, di mataku, Jakarta adalah pohon besar yang berakar rapuh. Sebagian besar ranting-rantingnya sekarat. Hanya bagian atas dan juga parasit yang tumbuh pada inangnya yang masih terlihat hijau lestari.

Jakarta menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku. Semua hal hampir bisa kudapatkan di sini. Mungkin hanya satu yang sulit kudapatkan, yaitu udara bersih. Hampir di setiap sudut jalan Ibukota tercemar udara polusi.

Selain polusi, pemerataan kehidupan di Jakarta juga tak rata. Seperti pohon yang aku umpamakan tadi, Jakarta memiliki banyak aspek dan sisi kehidupan. Dari hal yang positif hingga yang negatif. Semuanya ada. Begitu pula dengan kasta masyarakatnya. Dari yang terbawah sampai para konglomerat sukses nangkring di Jakarta. Masyarakat dari berbagai daerah seolah tersugesti bahwa hanya di sinilah tempat mencari pekerjaan yang dapat membuat hidup lebih baik. Pohon besar memang selalu menjadi incaran banyak satwa untuk mencari tempat penghidupan dan makan, bukan? Maka dari itu, banyak warga kampung yang rela berdesakan, berlelah-lelah untuk sampai di Ibukota. Tak banyak yang didapatkan sesampainya di sini. Hanya sedikit yang mampu bertahan pada kerasnya Ibukota. Bak ulat daun yang siap termangsa burung. Yang mempunyai modal dan ketahanan lemah akan kalah dengan mereka yang mempunyai modal dan ketahanan lebih kuat, begitu seterusnya. Hukum rimba seolah sangat berlaku di Jakarta.

Tunas yang belum sempat menggeliat pun ikut tewas. Banyak aborsi terjadi di ibukota. 'Free sex' agaknya sudah menjadi 'lifestyle' anak muda Jakarta. Yang menurut sebagian orang, keren dan gaul. Sehingga, saat mereka 'kecelakaan' dan mereka belum siap, satu-satunya jalan yang akan mereka tempuh adalah aborsi. Mengerikan. Setiap tahunnya selalu meningkat.

“Kalau dari data yang kita pakai, Survei Demografidan Kesehatan Indonesia (SDKI), peningkatannya sekitar satu persen,” kata Kepala BKKBN, Fasli Djalal via CNN Indonesia (29/10/2014)

Selain itu, kehidupan religius mereka pun mulai tergerus budaya asing. Menyerang akar, langsung pada sasaran empuknya, anak muda. Banyaknya warga perantau, yang tidak hanya dari kalangan orang tua tetapi juga anak muda menjadikan mereka jauh dari keluarga, jauh dari orangtua, jauh dari bimbingan terpenting dalam kehidupan. Anak muda dipaksa dididik oleh lingkungan. Untung, jika lingkungannya menyajikan hal yang positif. Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Miris. Ditambah gaya hidup hedonisme. Yang menyulap segalanya menjadi halal. Hal apa pun akan dilakukan untuk memenuhi gaya hidup perlente itu.

Di mataku, Jakarta sudah terserang hama tingkat parah. Akarnya sudah mulai membusuk, tanahnya sudah padat dan sesak. Siapa yang harus bertanggung jawab dengan semua ini? Jangan tanya siapa? Jawabannya, mulailah dari diri kita sendiri. Jika kita cinta negeri ini, cintai pula Ibukotanya, yang merupakan sumber kekuatan dan harga diri di mata global. Berkaryalah! Dan kembali pada gaya hidup Indonesia yang disegani bangsa lain. Namun, tetap santun dan terhormat.

PM, 140615
AlQueen

Selesai

Tulisan ini dibuat untuk sebuah event 'Opini Jakarta'. Tapi, sayang nggak menang. Nggak apa-apalah, ya, tujuannya saya nulis ini juga bukan semata ingin menang dan dapat hadiah. Tapi juga menjadi semangat agar saya tetap menulis. Kalo menurut kalian Jakarta itu seperti apa, sih? Silakan curahkan opini kalian tentang Jakarta di kolom komentar. Berharap bisa saling share dan memajukan Bangsa kita, Indonesia. Terima kasih.

0 komentar:

Posting Komentar