Pohon
Itu Sekarat Separuh
Versi
1
Aku
melihat sebuah belantara, di mana salah satu pohon terbesarnya
mengalami sekarat separuh. Daun-daunnya ranggas, bahkan tunas yang
belum sempat menggeliat pun ikut tewas. Padahal, ranting-rantingnya
terlihat sangat kokoh, berwarna cokelat gelap dengan lengan-lengan
dahan yang mencuat gagah dan sedikit memberikan kesan pongah. Di
bagian tertinggi pohon itu, tampak dedaunan yang hijau lestari.
Banyak burung yang hinggap di sana, bersarang, beranak-pinak, hidup
sentosa pada dahan-dahannya. Dan sebagian dedaunan sisanya menguap
malas, mulai menguning warnanya dan sepertinya enggan untuk
melanjutkan penunasan. Ironi, sangat ironi. Apa yang sebenarnya
sedang terjadi pada pohon itu? Tidakkah semestinya jika hijau berarti
hijau keseluruhan? Atau jika memang hendak layu, layulah semuanya?
Suatu
hari, datanglah sekawanan cacing padaku. Dengan suara parau, mereka
terisak.
“Kami
tak lagi sanggup hidup di sana,” kata salah satu cacing sembari
menunjukkan pohon tadi.
“Kenapa?”
tanyaku.
“Tanahnya
terlalu padat, sesak dan kami hampir mati tercekik bau busuk dari
akarnya,” timpal cacing yang paling kurus.
“Kenapa
gerangan dengan akarnya?”
“Akarnya
rusak, busuk hampir di semua bagian. Banyak ulat tanah yang
bergerumul di sana. Memakan nutrisi untuk pohon itu,” terang cacing
dengan perut buncit.
Tak
lama berselang, datang pula ulat-ulat daun. Mereka menceritakan bahwa
sumber makanannya kini sudah menipis. Jika mereka mau tetap makan,
maka mereka harus menjangkau dedaunan paling tinggi. Tentunya dengan
resiko yang tinggi pula.
“Kami
tak akan tahan. Banyak burung yang siap memangsa kami. Dan dedaunan
itu terlalu tinggi untuk dapat kami jangkau.” Begitulah penuturan
mereka.
Kembali
kuperhatikan pohon itu. Tanahnya memang sangat padat, sampai para
cacing enggan untuk menggemburkannya kembali. Akarnya membusuk, tak
dapat bergerak bebas mencari jalan untuk memanjangkan hidupnya dan
juga hidup pohon yang berdiri di atasnya.
Begitulah
sebuah pohon. Pada akarlah ia bergantung. Akankah ia hidup lestari
atau mati mengenaskan, kering, rapuh dan binasa? Tunas-tunas yang
tumbuh subur pada pucuk itu merupakan tunas dengan daya tahan luar
biasa. Mereka tahan terhadap cuaca dan hama. Bahkan ada yang rela
sampai menjadi parasit pada pohonnya sendiri. Demi mencari jalan agar
hidupnya tetap berlanjut.
Padahal,
tak ada yang luput dariku. Belantara itu terbuka, menghadap ke langit
yang sama. Pepohonan itu juga selalu sama, mencari sumber di mana
mereka dapat bergerak terus ke atas, menjadi pohon yang dewasa.
Namun, tampaknya berbeda dengan pohon besar itu. Akarnya, sebagai
penguasa utama, telah rusak, membusuk. Lambat laun, jika keadaannya
terus begini, semua bagian pohon itu akan mati. Kecuali para parasit
yang akan mencari inang-inang baru untuk melanjutkan hidupnya.
Sampai
saat itu, aku akan tetap berlaku adil. Memberikan kebutuhan bagi
pepohonan yang memang sangat membutuhkanku. Aku akan tetap menerangi
semesta dengan seadil-adilnya. Keputusan akhir, ada pada pohon itu
sendiri. Apakah ia sanggup bertahan dengan berbagai hama perusak atau
menyerah dan mati.
PM,
140615
AlQueen
Versi
2
Bagai
pohon dengan berjuta ranting. Itulah Jakarta bagiku. Kota di mana
hampir semua segi kehidupan Indonesia ada di sana. Saling bertimbunan
satu sama lainnya, bertumpuk-ruah dari berbagai aspek. Adakah yang
salah dengan Ibukota negara kita ini? Seperti halnya 'capital city'
di seluruh dunia, sudah menjadi hal yang mutlak jika Jakarta menjadi
kota yang padat, sesak dan sibuk. Namun, di mataku, Jakarta adalah
pohon besar yang berakar rapuh. Sebagian besar ranting-rantingnya
sekarat. Hanya bagian atas dan juga parasit yang tumbuh pada inangnya
yang masih terlihat hijau lestari.
Jakarta
menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku. Semua hal hampir bisa
kudapatkan di sini. Mungkin hanya satu yang sulit kudapatkan, yaitu
udara bersih. Hampir di setiap sudut jalan Ibukota tercemar udara
polusi.
Selain
polusi, pemerataan kehidupan di Jakarta juga tak rata. Seperti pohon
yang aku umpamakan tadi, Jakarta memiliki banyak aspek dan sisi
kehidupan. Dari hal yang positif hingga yang negatif. Semuanya ada.
Begitu pula dengan kasta masyarakatnya. Dari yang terbawah sampai
para konglomerat sukses nangkring di Jakarta. Masyarakat dari
berbagai daerah seolah tersugesti bahwa hanya di sinilah tempat
mencari pekerjaan yang dapat membuat hidup lebih baik. Pohon besar
memang selalu menjadi incaran banyak satwa untuk mencari tempat
penghidupan dan makan, bukan? Maka dari itu, banyak warga kampung
yang rela berdesakan, berlelah-lelah untuk sampai di Ibukota. Tak
banyak yang didapatkan sesampainya di sini. Hanya sedikit yang mampu
bertahan pada kerasnya Ibukota. Bak ulat daun yang siap termangsa
burung. Yang mempunyai modal dan ketahanan lemah akan kalah dengan
mereka yang mempunyai modal dan ketahanan lebih kuat, begitu
seterusnya. Hukum rimba seolah sangat berlaku di Jakarta.
Tunas
yang belum sempat menggeliat pun ikut tewas. Banyak aborsi terjadi di
ibukota. 'Free sex' agaknya sudah menjadi 'lifestyle' anak muda
Jakarta. Yang menurut sebagian orang, keren dan gaul. Sehingga, saat
mereka 'kecelakaan' dan mereka belum siap, satu-satunya jalan yang
akan mereka tempuh adalah aborsi. Mengerikan. Setiap tahunnya selalu
meningkat.
“Kalau
dari data yang kita pakai, Survei Demografidan Kesehatan Indonesia
(SDKI), peningkatannya sekitar satu persen,” kata Kepala BKKBN,
Fasli Djalal via CNN Indonesia (29/10/2014)
Selain
itu, kehidupan religius mereka pun mulai tergerus budaya asing.
Menyerang akar, langsung pada sasaran empuknya, anak muda. Banyaknya
warga perantau, yang tidak hanya dari kalangan orang tua tetapi juga
anak muda menjadikan mereka jauh dari keluarga, jauh dari orangtua,
jauh dari bimbingan terpenting dalam kehidupan. Anak muda dipaksa
dididik oleh lingkungan. Untung, jika lingkungannya menyajikan hal
yang positif. Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Miris.
Ditambah gaya hidup hedonisme. Yang menyulap segalanya menjadi halal.
Hal apa pun akan dilakukan untuk memenuhi gaya hidup perlente itu.
Di
mataku, Jakarta sudah terserang hama tingkat parah. Akarnya sudah
mulai membusuk, tanahnya sudah padat dan sesak. Siapa yang harus
bertanggung jawab dengan semua ini? Jangan tanya siapa? Jawabannya,
mulailah dari diri kita sendiri. Jika kita cinta negeri ini, cintai
pula Ibukotanya, yang merupakan sumber kekuatan dan harga diri di
mata global. Berkaryalah! Dan kembali pada gaya hidup Indonesia yang
disegani bangsa lain. Namun, tetap santun dan terhormat.
PM,
140615
AlQueen
Selesai
Tulisan ini dibuat untuk sebuah event 'Opini Jakarta'. Tapi, sayang nggak menang. Nggak apa-apalah, ya, tujuannya saya nulis ini juga bukan semata ingin menang dan dapat hadiah. Tapi juga menjadi semangat agar saya tetap menulis. Kalo menurut kalian Jakarta itu seperti apa, sih? Silakan curahkan opini kalian tentang Jakarta di kolom komentar. Berharap bisa saling share dan memajukan Bangsa kita, Indonesia. Terima kasih.

0 komentar:
Posting Komentar