A[RM]A
2015
Siapa
pemuda itu? Pemuda yang pada sorot matanya membuat jantungku berdegup
sangat kencang. Pemuda yang setiap langkahnya menggemakan derap di
jantungku, membuatnya semakin kelabakan menahan rasa yang entah.
“Dia
anak baru,” terang Leysa.
“Dari?”
Leysa
mengedikka bahu, tanda dia tak tahu.
Fiuuuhhh....
Rasa
sesak kembali menyelimutiku ketika dia tersenyum padaku saat kami
berpapasan di beranda kantor. Disambut bisik-bisik heboh karyawati
yang juga disenyumi olehnya.
“Arma
namanya, Jeng Allice. Serius amat ngelihatinnya,” sambar Leysa lagi
saat mendapati aku terbengong menatap langkahnya.
“Oooh.”
Perlu
bermenit-menit aku menyadarkan diri. Semakin aku menatapnya dadaku
semakin sakit. Sampai sesak napas dan hampir pingsan dibuatnya.
“Arma...
Arma... Arma...,” gumamku tiada henti sepanjang 'meeting'
berlangsung.
Sampai
pada akhirnya... gelap!
***
Mataku
sayup-sayup terbuka. Mendapati sebuah gembok berwarna silver yang
sudah hampir tak berwarna karena karat menjalari seluruh permukaannya
di tanganku. Ada sebuah nama terukir di sana, Allice, dengan 'font'
klasik yang sangat aku sukai. Mengesankan gembok itu semakin tua. Dan
di tanganku yang satunya tergeletak sebuah amplop biru kusam, tertera
di permukaannya; 'Dear Allice'.
Kubuka
perlahan amplop itu sambil memegangi dada kiriku yang terasa ngilu.
'Ini
dariku, surat ini kutulis hari ini, 7 September 2004. Tapi, entah
hingga kapan akan sampai di genggaman jemarimu yang sulit kujamah.
Bersamaan dengan selesainya surat ini ditulis, kugantungkan sebuah
gembok berukir namamu, Allice, pada pintu kamarku yang juga berwarna
biru langit, warna kesukaanmu. Aku mencintaimu, hingga Tuhan
menghabiskan masa kontrakku di bumi ini.'
Terselip
juga sebuah potongan kertas berbentuk hati, di sana tertulis; '2010.
Aku telah bersamamu, aku akan merasakan segala yang kaurasa karena
aku ada dalam dirimu, selamanya.'
DEGGG!!!
Kurasakan
ada yang tersekat di antara pembuluh darah dari otak ke jantungku,
saat kubaca sang penulis, R. A.
“Operasi
berjalan lancar, transplantasi jantungnya berhasil dengan sangat
baik.” Derap langkah semakin mendekati ruangan di mana aku
terbaring. Pintu dibuka. Wajah Ibu dan ayahku terihat lega, meski
mata mereka sembab. Dokter menyalami Ibu dan Ayah bergantian, lalu
menoleh ke arahku dan tersenyum hangat.
“Itu
dari pendonor jantungmu, Nak,” ujar Ibu menunjuk ke arah
benda-benda di atas bangsalku.
“APA???”
Gembok terjatuh dari genggamanku dan tautannya terbuka. Serpihan
karatnya terserak di lantai putih bersih.
“Ronald?
Bukannya dia pindah ke Belanda sejak lulus SMP? Lalu?” Aku meracau
tiada henti.
“Jadi,
Ronald namanya, bukan Arma, ya?” Ayah tampak bingung.
“Ronald
Armadi, Ayah,” terang Ibu dan Ayah mengangguk paham.
***
2015
Mataku
terbuka perlahan. Sakit di dada kiriku sudah mereda.
“Arma...
di mana dia?” Aku celingukan mencari sosoknya.
“Entahlah,
dia nggak kelihatan dari tadi, sejak kamu pingsan.”
Suasana
rumah sakit ini sangat menusuk jantungku. Mengingatkan kembali pada
mimpi tadi dan kejadian betahun-tahun silam. Dia Arma, Ronald Armadi
yang sama. Hanya saja dia tampak lebih tinggi dan semakin tampan.
Tapi??? Bukankah dia sudah meningal dan merelakan jantungnya untukku.
Kusapu
pandang, lalu, mendapati sosok Arma di sebalik pintu, tersenyum
hangat. Sedetik kemudian, dia lenyap bagai kabut pagi.
SELESAI
IM,
150415
alQueen
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 20 Juli 2016

0 komentar:
Posting Komentar