Rabu, 20 Juli 2016

A[RM]A

Edit Posted by with No comments

 





A[RM]A

 
2015

Siapa pemuda itu? Pemuda yang pada sorot matanya membuat jantungku berdegup sangat kencang. Pemuda yang setiap langkahnya menggemakan derap di jantungku, membuatnya semakin kelabakan menahan rasa yang entah.

“Dia anak baru,” terang Leysa.

“Dari?”

Leysa mengedikka bahu, tanda dia tak tahu.

Fiuuuhhh....
Rasa sesak kembali menyelimutiku ketika dia tersenyum padaku saat kami berpapasan di beranda kantor. Disambut bisik-bisik heboh karyawati yang juga disenyumi olehnya.

“Arma namanya, Jeng Allice. Serius amat ngelihatinnya,” sambar Leysa lagi saat mendapati aku terbengong menatap langkahnya.

“Oooh.”

Perlu bermenit-menit aku menyadarkan diri. Semakin aku menatapnya dadaku semakin sakit. Sampai sesak napas dan hampir pingsan dibuatnya.

“Arma... Arma... Arma...,” gumamku tiada henti sepanjang 'meeting' berlangsung.

Sampai pada akhirnya... gelap!

***

Mataku sayup-sayup terbuka. Mendapati sebuah gembok berwarna silver yang sudah hampir tak berwarna karena karat menjalari seluruh permukaannya di tanganku. Ada sebuah nama terukir di sana, Allice, dengan 'font' klasik yang sangat aku sukai. Mengesankan gembok itu semakin tua. Dan di tanganku yang satunya tergeletak sebuah amplop biru kusam, tertera di permukaannya; 'Dear Allice'.

Kubuka perlahan amplop itu sambil memegangi dada kiriku yang terasa ngilu.

'Ini dariku, surat ini kutulis hari ini, 7 September 2004. Tapi, entah hingga kapan akan sampai di genggaman jemarimu yang sulit kujamah. Bersamaan dengan selesainya surat ini ditulis, kugantungkan sebuah gembok berukir namamu, Allice, pada pintu kamarku yang juga berwarna biru langit, warna kesukaanmu. Aku mencintaimu, hingga Tuhan menghabiskan masa kontrakku di bumi ini.'

Terselip juga sebuah potongan kertas berbentuk hati, di sana tertulis; '2010. Aku telah bersamamu, aku akan merasakan segala yang kaurasa karena aku ada dalam dirimu, selamanya.'

DEGGG!!!
Kurasakan ada yang tersekat di antara pembuluh darah dari otak ke jantungku, saat kubaca sang penulis, R. A.

“Operasi berjalan lancar, transplantasi jantungnya berhasil dengan sangat baik.” Derap langkah semakin mendekati ruangan di mana aku terbaring. Pintu dibuka. Wajah Ibu dan ayahku terihat lega, meski mata mereka sembab. Dokter menyalami Ibu dan Ayah bergantian, lalu menoleh ke arahku dan tersenyum hangat.

“Itu dari pendonor jantungmu, Nak,” ujar Ibu menunjuk ke arah benda-benda di atas bangsalku.

“APA???” Gembok terjatuh dari genggamanku dan tautannya terbuka. Serpihan karatnya terserak di lantai putih bersih.

“Ronald? Bukannya dia pindah ke Belanda sejak lulus SMP? Lalu?” Aku meracau tiada henti.

“Jadi, Ronald namanya, bukan Arma, ya?” Ayah tampak bingung.

“Ronald Armadi, Ayah,” terang Ibu dan Ayah mengangguk paham.

***

2015

Mataku terbuka perlahan. Sakit di dada kiriku sudah mereda.

“Arma... di mana dia?” Aku celingukan mencari sosoknya.

“Entahlah, dia nggak kelihatan dari tadi, sejak kamu pingsan.”

Suasana rumah sakit ini sangat menusuk jantungku. Mengingatkan kembali pada mimpi tadi dan kejadian betahun-tahun silam. Dia Arma, Ronald Armadi yang sama. Hanya saja dia tampak lebih tinggi dan semakin tampan. Tapi??? Bukankah dia sudah meningal dan merelakan jantungnya untukku.

Kusapu pandang, lalu, mendapati sosok Arma di sebalik pintu, tersenyum hangat. Sedetik kemudian, dia lenyap bagai kabut pagi.

SELESAI

IM, 150415
alQueen
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 20 Juli 2016

0 komentar:

Posting Komentar