Sabtu, 16 Juli 2016

Saus Bening dari Prancis (A Flash Fiction)

Edit Posted by with No comments

 Saus Bening Dari Prancis
      Picture by Google - diedit by saya

Cerita ini saya garap untuk sebuah event menulis di FB. Yang mendeskripsikan sebuah gambar (jendela terbuka lebar, hordeng melambai-lambai, pemandangan kota dan hujan uang -kalo gak salah, sih, gitu. hihihi). Dan alhamdulillah menang. Yay! Dapat pulsa cuma-cuma.
Oki doki, silakan dibaca! Enjoy! Kritik dan saran silakan ditulis di kolom komentar. Terima kasih.


###


 SAUS BENING DARI PRANCIS

Sayup-sayup kudengar rintik hujan. Angin berembus menggigilkan daun jendela dan mengibarkan gorden sutra kondominiumku. Kulirik samping, empat bocah kecil tidur dengan damai. Rupanya, mereka kekenyangan makan pizza lima menit lalu.

Lalu, samar-samar kulihat sekelebat bayang, semakin lama semakin nyata, Ayah. Beliau tersenyum dan aku membalas senyumannya.
Di dekat pintu sana, ada ibuku yang sedang menangis sendu. Tas mahalnya dicampakkan di lantai, sehingga berserakan berbagai macam benda. Kaca mata, ponsel keluaran terbaru dan benda 'luxury' lainnya.

Mataku semakin lama semakin berat, tak kuat lagi menahannya. Aku ingin segera tidur nyenyak. Namun, aku ingat sekitar sepuluh menit lalu saat pengantar pizza datang, keempat adikku girang sekali. Mereka sudah tidak sabar untuk menyantapnya. Dua kotak pizza paling mahal kupesankan untuk mengenyangkan perut-perut mungil mereka. Namun, kutahan tangan-tangan mereka saat hendak mencomot pizza itu.

"Tunggu, ya, Dek," ucapku.

"Mbak tambahin saus biar makin enak, ya?" Mereka hanya mengangguk.

"Tapi, Mbak, kenapa sausnya bening?" tanya Laksmi setengah curiga.

"Ini saus mahal. Mbak beli ini waktu kita jalan-jalan ke Prancis." Laksmi mengangguk-angguk.

Kutumpahkan setengah botol kecil cairan itu di atas dua lembaran pizza. Setelahnya, aku suruh adik-adikku ganti baju dengan pakaian yang paling bagus.

"Sudah, Mbak. Ayo makan! Ayo makan!"
Mereka makan dengan lahapnya sambil tertawa riang memecah angin pagi ini. Aku tersenyum dengan butiran bening mengalir di pipiku. “Maafkan Mbak, adik-adikku”.

Selesai makan kusuruh mereka tidur beriringan. Aku menyusul mereka setelah menenggak habis sisa cairan tadi. Beberapa detik kemudian, panas menjalar di seluruh organ dalam tubuhku dan membuat mataku terasa berat untuk dibuka. Di saat aku menanti ajal, kuperhatikan sekeliling.

Jendela itu tempatku menyaksikan orkestra kehidupan, manusia berbagai topeng berlalu-lalang di luar sana. Mereka mengais harapan, mengejar impian. Waktu begitu cepat kulewati. Saat terakhir kali aku merasakan kelaparan, baju lusuh dan rumah bocor karena hujan. Sebelum akhirnya Ibu menikah, lebih tepatnya menjualku dan adik-adik perempuanku pada orang Prancis, seorang lelaki tua kaya raya yang memiliki kelainan seksual. Dia penyuka anak-anak, pedophilia. Pernikahan mereka hanya kedok busuk.
Duniaku berubah. Kondominium, mobil, baju, makanan dan apapun itu pastilah barang mewah. Namun, aku tidak tahan setiap kali melihat keempat adikku merintih kesakitan setelah lelaki itu memuaskan nafsu iblisnya. Sungguh! Aku tak tahan.

Kuputuskan membeli racun terbaik untuk menidurkan kami selamanya. Agar tak lagi merasa kesakitan, agar kami segera bertemu Ayah di surga.
"Ayah, kami datang. Kami sangat merindukanmu."
Kututup mata. Tidur untuk selamanya.

"Selamat tinggal, Ibu, semoga engkau bahagia dengan segala kemewahanmu!"


END

alQueen

HK, 24o92o14
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 16 Juli 2016

Link: https://www.wattpad.com/myworks/23823390-saus-bening-dari-prancis

0 komentar:

Posting Komentar