
Picture by Google - diedit by saya
Cerita ini saya garap untuk sebuah event menulis di FB. Yang mendeskripsikan sebuah gambar (jendela terbuka lebar, hordeng melambai-lambai, pemandangan kota dan hujan uang -kalo gak salah, sih, gitu. hihihi). Dan alhamdulillah menang. Yay! Dapat pulsa cuma-cuma.
Oki doki, silakan dibaca! Enjoy! Kritik dan saran silakan ditulis di kolom komentar. Terima kasih.
###
SAUS BENING DARI PRANCIS
Lalu, samar-samar kulihat sekelebat bayang, semakin lama semakin nyata, Ayah. Beliau tersenyum dan aku membalas senyumannya.
Di dekat pintu sana, ada
ibuku yang sedang menangis sendu. Tas mahalnya dicampakkan di lantai,
sehingga berserakan berbagai macam benda. Kaca mata, ponsel keluaran
terbaru dan benda 'luxury' lainnya.
Mataku semakin lama
semakin berat, tak kuat lagi menahannya. Aku ingin segera tidur nyenyak.
Namun, aku ingat sekitar sepuluh menit lalu saat pengantar pizza
datang, keempat adikku girang sekali. Mereka sudah tidak sabar untuk
menyantapnya. Dua kotak pizza paling mahal kupesankan untuk
mengenyangkan perut-perut mungil mereka. Namun, kutahan tangan-tangan
mereka saat hendak mencomot pizza itu.
"Tunggu, ya, Dek," ucapku.
"Mbak tambahin saus biar makin enak, ya?" Mereka hanya mengangguk.
"Tapi, Mbak, kenapa sausnya bening?" tanya Laksmi setengah curiga.
"Ini saus mahal. Mbak beli ini waktu kita jalan-jalan ke Prancis." Laksmi mengangguk-angguk.
Kutumpahkan setengah
botol kecil cairan itu di atas dua lembaran pizza. Setelahnya, aku suruh
adik-adikku ganti baju dengan pakaian yang paling bagus.
"Sudah, Mbak. Ayo makan! Ayo makan!"
Mereka makan dengan
lahapnya sambil tertawa riang memecah angin pagi ini. Aku tersenyum
dengan butiran bening mengalir di pipiku. “Maafkan Mbak, adik-adikku”.
Selesai makan kusuruh
mereka tidur beriringan. Aku menyusul mereka setelah menenggak habis
sisa cairan tadi. Beberapa detik kemudian, panas menjalar di seluruh
organ dalam tubuhku dan membuat mataku terasa berat untuk dibuka. Di
saat aku menanti ajal, kuperhatikan sekeliling.
Jendela itu tempatku
menyaksikan orkestra kehidupan, manusia berbagai topeng berlalu-lalang
di luar sana. Mereka mengais harapan, mengejar impian. Waktu begitu
cepat kulewati. Saat terakhir kali aku merasakan kelaparan, baju lusuh
dan rumah bocor karena hujan. Sebelum akhirnya Ibu menikah, lebih
tepatnya menjualku dan adik-adik perempuanku pada orang Prancis, seorang
lelaki tua kaya raya yang memiliki kelainan seksual. Dia penyuka
anak-anak, pedophilia. Pernikahan mereka hanya kedok busuk.
Duniaku berubah.
Kondominium, mobil, baju, makanan dan apapun itu pastilah barang mewah.
Namun, aku tidak tahan setiap kali melihat keempat adikku merintih
kesakitan setelah lelaki itu memuaskan nafsu iblisnya. Sungguh! Aku tak
tahan.
Kuputuskan membeli racun
terbaik untuk menidurkan kami selamanya. Agar tak lagi merasa
kesakitan, agar kami segera bertemu Ayah di surga.
"Ayah, kami datang. Kami sangat merindukanmu."
Kututup mata. Tidur untuk selamanya.
"Selamat tinggal, Ibu, semoga engkau bahagia dengan segala kemewahanmu!"
END
alQueen
HK, 24o92o14
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 16 Juli 2016
Link: https://www.wattpad.com/myworks/23823390-saus-bening-dari-prancis
0 komentar:
Posting Komentar