
Picture by Google - diedit by saya
Jujur! Saya suka cerita garapan saya sendiri yang satu ini. Entah kenapa, kok, ya, saya bisa gitu nulis cerita sekeren ini (menurut saya, lho, ya). Ada twist ceritanya segala. Kan, bikin yang baca jadi gimanaaa gitu. Hehehehe.
Ya syudahlah, saya mau ajak para reader buat berpetualang ke Fujinomiya, Jepang sejenak. Untuk jadi saksi sebuah peristiwa di Festival Hanabi. MONGGOOO...!
Paket Merah di Festival Musim Panas
Fujinomiya, musim panas 2014
Jarum jam menunjukan
waktu hampir tengah malam. Di kaki Gunung Fuji sana masih terdengar
suara kembang api dan hiruk pikuk warga yang sedang merayakan Festival
Hanabi[1]. Rumahku yang berada di Fujinomiya---Perfektur Shizuoka---
memang dekat dengan Gunung Fuji dan Gunung Akaishi.
Seperti biasanya setiap
malam Festival Hanabi, Ayah dan ibuku akan membuka satu kotak besar.
Kotak yang sangat cantik dengan ukiran bunga sakura. Tahun ini aku
pulang dan ikut merayakan festival musim panas setelah lima tahun tidak
pulang. Kami membukanya lalu berdoa dengan sepenuh hati.
"Semoga aku selalu panjang umur, Tuhan," pintaku yang selalu sama dari tahun ke tahun.
Kotak besar itu adalah
benda istimewa keluarga kami, isinya sangat berharga untuk Ayah dan
ibuku. Maka dari itu, mereka selalu meneteskan air mata setiap kali
membukanya. Aku pun ikut menangis melihat mereka menangis.
Namaku Aya, Satoushi
Aya. Penyuka kembang api dan warna merah. Yukata[2] yang kukenakan
setiap tahunnya selalu sama. Berwarna merah dengan obi[3] besar warna
emas dan tali geta[4] juga berwarna merah. Kotak besar tadi pun berwana
merah.
Hidangan telah tertata
rapi di meja makan. Onigiri[5] berisi daging lobster kesukaanku sudah
bertengger manis di atas piring panjang berwarna merah. Ah! Hampir semua
benda di atas meja juga berwarna merah. Ibu selalu saja tahu
kesukaanku.
Ayah menuangkan jus plum
ke cangkirku. Ibu menyumpitkan onigiri dan tempura[6] ke mangkukku.
Mereka berusaha tersenyum dengan bulir-bulir bening mengalir di pipi
mereka.
"Itadakimasu[7]. Tabemashou[8]," ujar ibuku hampir bersamaan dengan Ayah.
Namun, pandangan mereka
bukan ke arahku. Melainkan ke isi kotak besar tadi. Di sana terbaring
sesosok tubuh pucat berbalut yukata merah persis dengan yang kupakai.
Obi dan getanya pun serupa. Aku mendekati kotak itu, seribu zuru[9]
masih tertata apik di sisi-sisinya. Aku tersenyum melihatnya.
Lalu, pikiranku melesat
ke lima tahun lalu, saat Ayah dan Ibu menerima paket besar dari
kepolisian. Duka merundung hati mereka, salah satu anggota keluarga kami
tewas mengenaskan.
"Korban baru ditemukan
hari ini. Kami menduga kemarin saat menyaksikan festival kembang api di
dekat Danau Hamana, ia diculik ke Perfektur Yamanashi, diperkosa dan
dibunuh. Lalu, mayatnya ditenggelamkan di Danau Yamanaka," jelas polisi
saat itu.
Ayah dan Ibu yang tidak
mau kehilangan, akhirnya memutuskan mengawetkan jasad itu dan
membaringkannya dalam peti berwarna merah. Sebelumnya, luka di wajahnya
dijahit sendiri oleh Ibu dan didandani.
"Mada kirei, deshou[10]?" ucap ibuku.
Aku lebih mendekat ke jasad itu, lalu kucoba memegang tangannya. Namun, tidak bisa. Aku tembus, tidak dapat memegangnya.
"Ibu, Ayah?" Mereka bergeming.
Kuraih sumpit di atas meja, nihil. Aku terduduk lemas tanpa menyentuh tatami[11]---melayang.
Sepintas kubaca sebuah nama yang terukir di atas penutupnya, Satoushi Aya.
#SELESAI#
Antah berantah, 23 Januari 2015
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 16 Juli 2016
Glosarium:
1) Festival Hanabi; Festival Kembang Api
2) Yukata; Pakaian tradisional Jepang mirip dengan kimono. Hanya saja yukata lebih sederhana.
3) Obi; Ikat pinggang lebar, biasa dikenakan sebagai pelengkap kimono/yukata/yudo
4) Geta; Sandal/bakiak khas Jepang
5) Onigiri; Nasi kepal, biasanya berbentuk segitiga dengan potongan rumput laut di bagian bawahnya.
6) Tempura; Seafood atau sayuran yang dimasak dengan cara melumuri dengan tepung lalu digoreng.
7) Itadakimasu; Selamat makan
8) Tabemashou; Mari makan!
9) Zuru; Origami; Kertas lipat yang dibentuk menyerupai bangau.
10) Mada kirei, deshou?; Masih cantik, kan?
11) Tatami; Tikar anyaman bambu khas Jepang
Link: https://www.wattpad.com/myworks/31258133-paket-merah-di-festival-musim-panas
0 komentar:
Posting Komentar