Rabu, 20 Juli 2016

Hutan yang Dijanjikan Pembual Warung Tuak

Edit Posted by with No comments






Hutan yang Dijanjikan Pembual Warung Tuak


Sejauh mata memandang hanya ada savana. Tak ada yang lain. Jika mata ini hendak tertutup, maka hanya itulah yang ada. Namun, tidak demikian untuknya. Di sana ada sebidang punggung, sekotak asa, setangkup harap dan sekoper butut kesendirian. Tertunduk, menyusuri jalan selebar hasta manusia dewasa. Mengharap takdir bisa berubah, seperti padang savana yang diimpikan berubah menjadi hutan selebat Amazon. Mungkin. Tak mungkin. Mungkin.

Ia siapa? Aku? Mungkin bukan. Ia hanya seseorang dengan baju lusuh tahun 60-an, celana yang mengatung sampai betis, tak layak disebut celana borju. Topi dan segenap yang terpakai adalah barang lama. Sudah kolot, sepuh dan hampir tak bernyawa.

“Mau ke mana, kau, Dawan?” tanya seorang wanita dengan encim melekat tanpa kancing. Hanya peniti saja yang sanggup ia sematkan.

“Ke masa depan.”

“Masa depan di mana yang kaumaksudkan?” tanyanya lagi, dengan sirih menyembul dari sela-sela geraham.

“Yang dijanjikan Tuhan, dan para penguasa. Masa depan yang tak segersang padang rumput kering dan jalan penuh debu, berkerikil tajam. Ah! Sama seperti titah penguasa. Selalu saja tajam, kejam.”

Diliriknya wanita tadi, ia hanya menggeleng sambil melenggang. Lalu, mengambil biji-biji jagung yang telah ditumbuk. Yang kelak akan berubah menjadi makanan super lezat. Setidaknya itu menurutnya, karena telah seumur hidup menjadi hidangan utama dan satu-satunya.

'Ada pekerjaan di kota, Dawan. Apa kau tak mau bergabung? Tak kaulihat si Manto, dia kini sukses. Punya toko sendiri di kota sana.' Itulah sepenggal celoteh sore para pengangguran seperti Dawan. Yang kerjanya berjudi ayam dan meminum tuak yang sebagian besar dari hasil mengutang.

Dawan menatap cermin yang retak-retak, dipandanginya wajah penuh kesengsaraan. Wajah penuh luka tak tampak. Kotak usang, yang ia sebut koper bertengger lesu di atas dipan tak bertilam. Namun, selalu saja penuh kutu kupret yang menjijikan.

“Semoga kau sukses di rantau kelak, Dawan,” ujar wanita tadi meletakan kemeja putih yang sudah tak putih lagi, yang telah disetrika arang olehnya.

Bau pandan bercampur 'sereh' menyeruak saat lipatan demi lipatan dibukanya.

“Saya siap!”

***

“Hei, Kau! Jangan diam saja di situ. Langgananmu sudah panjang mengantri, sudah mirip gerbong kereta.”

Lamunan buyar seketika. Dengan malas dilangkahkan kaki. Dituntaskannya pekerjaan hari ini demi bisa membelikan Amaknya kancing dan sirih baru. Pekerjaan yang membuatnya muntah-muntah setelah menyelesaikannya. Bagaimana tidak? Sebaris langganan, yang tak lain adalah wanita-wanita Tionghoa yang kadang sudah tak mempunyai gigi, yang tetap saja rindu pada belaian suaminya yang mati perang itu, menjijikan! Kau tahu maksudnya, hah?! Dengan dihujani uang beberapa rupiah, siapa pun tak menolak. Apalagi untuk lelaki sekelas Dawan, pemilik kasta terendah. Hidup miskin dan kelak mati juga mungkin dalam keadaan miskin.

Itu hutan yang dijanjikan, entah oleh siapa. Tuhan? Atau penguasa yang tak mau tahu nasib rakyatnya. Atau para pembual warung tuak? Akankah selebat belantara, atau akan mati kekeringan dan kembali ke ladang savana?

Selesai

alQueen
PM, 260615
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 20 Juli 2016

0 komentar:

Posting Komentar