Hutan
yang Dijanjikan Pembual Warung Tuak
Sejauh
mata memandang hanya ada savana. Tak ada yang lain. Jika mata ini
hendak tertutup, maka hanya itulah yang ada. Namun, tidak demikian
untuknya. Di sana ada sebidang punggung, sekotak asa, setangkup harap
dan sekoper butut kesendirian. Tertunduk, menyusuri jalan selebar
hasta manusia dewasa. Mengharap takdir bisa berubah, seperti padang
savana yang diimpikan berubah menjadi hutan selebat Amazon. Mungkin.
Tak mungkin. Mungkin.
Ia
siapa? Aku? Mungkin bukan. Ia hanya seseorang dengan baju lusuh tahun
60-an, celana yang mengatung sampai betis, tak layak disebut celana
borju. Topi dan segenap yang terpakai adalah barang lama. Sudah
kolot, sepuh dan hampir tak bernyawa.
“Mau
ke mana, kau, Dawan?” tanya seorang wanita dengan encim melekat
tanpa kancing. Hanya peniti saja yang sanggup ia sematkan.
“Ke
masa depan.”
“Masa
depan di mana yang kaumaksudkan?” tanyanya lagi, dengan sirih
menyembul dari sela-sela geraham.
“Yang
dijanjikan Tuhan, dan para penguasa. Masa depan yang tak segersang
padang rumput kering dan jalan penuh debu, berkerikil tajam. Ah! Sama
seperti titah penguasa. Selalu saja tajam, kejam.”
Diliriknya
wanita tadi, ia hanya menggeleng sambil melenggang. Lalu, mengambil
biji-biji jagung yang telah ditumbuk. Yang kelak akan berubah menjadi
makanan super lezat. Setidaknya itu menurutnya, karena telah seumur
hidup menjadi hidangan utama dan satu-satunya.
'Ada
pekerjaan di kota, Dawan. Apa kau tak mau bergabung? Tak kaulihat si
Manto, dia kini sukses. Punya toko sendiri di kota sana.' Itulah
sepenggal celoteh sore para pengangguran seperti Dawan. Yang kerjanya
berjudi ayam dan meminum tuak yang sebagian besar dari hasil
mengutang.
Dawan
menatap cermin yang retak-retak, dipandanginya wajah penuh
kesengsaraan. Wajah penuh luka tak tampak. Kotak usang, yang ia sebut
koper bertengger lesu di atas dipan tak bertilam. Namun, selalu saja
penuh kutu kupret yang menjijikan.
“Semoga
kau sukses di rantau kelak, Dawan,” ujar wanita tadi meletakan
kemeja putih yang sudah tak putih lagi, yang telah disetrika arang
olehnya.
Bau
pandan bercampur 'sereh' menyeruak saat lipatan demi lipatan
dibukanya.
“Saya
siap!”
***
“Hei,
Kau! Jangan diam saja di situ. Langgananmu sudah panjang mengantri,
sudah mirip gerbong kereta.”
Lamunan
buyar seketika. Dengan malas dilangkahkan kaki. Dituntaskannya
pekerjaan hari ini demi bisa membelikan Amaknya kancing dan sirih
baru. Pekerjaan yang membuatnya muntah-muntah setelah
menyelesaikannya. Bagaimana tidak? Sebaris langganan, yang tak lain
adalah wanita-wanita Tionghoa yang kadang sudah tak mempunyai gigi,
yang tetap saja rindu pada belaian suaminya yang mati perang itu,
menjijikan! Kau tahu maksudnya, hah?! Dengan dihujani uang beberapa
rupiah, siapa pun tak menolak. Apalagi untuk lelaki sekelas Dawan,
pemilik kasta terendah. Hidup miskin dan kelak mati juga mungkin
dalam keadaan miskin.
Itu
hutan yang dijanjikan, entah oleh siapa. Tuhan? Atau penguasa yang
tak mau tahu nasib rakyatnya. Atau para pembual warung tuak? Akankah
selebat belantara, atau akan mati kekeringan dan kembali ke ladang
savana?
Selesai
alQueen
PM,
260615
Dipublikasikan ulang di blog ini: PM-JakSel, 20 Juli 2016

0 komentar:
Posting Komentar