Sabtu, 16 Juli 2016

Fa'Al (Kamu yang Sudah Bertemu Tuhan)

Edit Posted by with No comments

 Fa'Al (Kamu, yang sudah bertemu Tuhan)
 Picture by Google plus Foto Fa'Al (Alm)-diedit by saya

Terinspirasi dari kisah nyata. Yang tentu saja difiksikan. ^.^

"Fa'Al (Kamu, yang sudah bertemu Tuhan)" adalah tulisan kedua cerita pendek saya. Saya dedikasikan buat sahabat saya yang sudah lebih dulu pergi menemui Allah (Fahmi Allimuddin).. "Saya tuliskan ini dengan menahan tangis. Melihat pusara dan nisan bertuliskan namamu, sungguh membuat saya linglung. Seperti hilang. Terimakasih sudah mampir di halaman hidup saya. Saya tidak akan pernah melupakannya." 

 ________________________________________ 

_D'shortstory#2_

Semoga pembaca ikut merasakan kehilangan yang saya rasakan. Agar tahu arti kepemilikan. 


Lana terbangun dari tidur siangnya. Lima belas menit terasa sangat lama. Air matanya meleleh. Semakin lama semakin deras. Kemudian isaknya mulai terdengar. Semakin lama semakin kencang.

"Ada apa Lana? Kenapa bangun tidur kamu menangis?"

Ibunya yang sedari tadi sibuk di dapur langsung menghampiri Lana yang sedang terisak.

"Fa'Al bu. Fa'Al tadi dateng di mimpi Lana."

"Lana sih. Katanya mau mengunjungi makamnya. Kenapa nggak jadi?"

"Temen-temen pada repot. Lana gak tau lokasi makamnya."

"Ya sudah tanya saja sama temanmu yang lain. Mungkin ada yang tau."

"Iya bu."

Segera Lana mengambil poselnya di atas meja. Diketiknya sebuah pesan singkat.

"Assalaamu'alaikum. Di, kmu tau kan makam Fa'Al? Kalo kmu ada wktu, anterin aku, ya."

Lima menit kemudian balasan muncul.

"Ok. Tp, skrg aku sibuk. Ntr, klo ada wktu, dikabarin lg. oke??"

"Ok." Ada rasa kecewa di hati Lana. Tapi, cuma Dodi satu-satunya orang yang bisa mengantar Lana ke makam Fa'Al. Randy, keponakan Fa'Al sudah kembali ke Jogjakarta, kuliah.

###
Seminggu yang lalu....

 "Ada kabar duka nih dari temen kita." Angga membuka percakapan.
Sore itu Angga mengunjungi rumah Lana.

"Kabar duka dari siapa, Ngga?"

"Temen kita Cahyo meninggal dunia."

"Innalillahi..."

"Emmmm.. Ada satu lagi."

"Satu lagi? Siapa?"

"Fa'Al."

Mendengar nama itu disebut telinga Lana langsung terbuka lebar.

"Fa'Al... Fa'Al temen lana sekelas waktu di kelas satu?"

"Iya, yang pernah suka sama Lana itu loh."

DEGG! Desiran darah Lana tiba-tiba menjadi deras. Hatinya, jantungnya berdegup kencang. Matanya nanar. Namun, Lana tidak menangis. Lana hanya kaget, sangat kaget.

Lana berusaha mengklarifikasi kabar tersebut. Dia menyuruh Angga menanyakan kepada Dodi perihal ini semua. Dan ternyata benar. Fa'Al sudah tidak ada. Kecelakaan telah merenggut nyawanya.
Angga mengelus-elus punggung Lana. Mencoba menenangkan. Angga tahu, Lana tidak pernah mencintai Fa'Al. Karena kalaulah Lana mencintai Fa'Al, tentunya Lana kini tidak bersamanya. Tapi, sedang menangis dan mengurung diri atas kepergian Fa'Al. Tapi, Lana tidak melakukan itu. Lana ada di sampingnya, menyayanginya. Angga mulai dekat dengan Lana sekitar satu tahun lalu. Ketika Lana baru putus dengan pacarnya yang dulu. Angga begitu mencintai Lana. Angga tidak akan sanggup bila harus berpisah dengan Lana.
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun.

-------

Lana memberi kabar duka ini kepada teman-temannya lewat jejaring sosial. Pasalnya lusa akan diadakan reuni sekolah. Lana berharap dia beserta teman-teman yang lain bisa mengunjungi keluarga dan makam Fa'Al. Lebih penting lagi, Lana ingin lebih meyakinkan diri apakah Fa'Al benar-benar telah tiada.
Dua hari berselang..
Sangat disayangkan. Reuni memang berjalan baik. Tapi, sepertinya tidak ada rasa antusias dari teman-temannya untuk berkunjung ke rumah duka dan makam Fa'Al. Mereka bubar jalan. Tak ada yang bisa menyempatkan diri. Lana kecewa, sangat kecewa. Tapi, apa yang bisa Lana perbuat? Tidak ada.

*****

Hari-hari Lana berjalan normal setelah kabar duka tersebut. Aktifitasnya lancar seperti biasa. Sampai seminggu kemudian mimpi itu datang.

###

Ponsel Lana bergetar tanda ada pesan singkat masuk.

"Lana, hri ni aku bisa anter km k mkam Fa'Al. Jam dua siang mpe mlem aku ada di rumah."

"Ok."

Lana bergegas mengganti pakaian dan segera pergi ke tempat Dodi.
Sebelum sampai di tempat Dodi, Lana mengirimkan pesan singkat yang berisi Lana sudah hampir sampai dan meminta Dodi menjemputnya di depan Masjid. Lima menit kemudian Lana sampai. Ponsel Lana bergetar. Ada pesan masuk dari Dodi. Dodi bilang ban motornya bocor, dia harus pergi ke bengkel dulu. Lana akhirnya masuk ke Masjid dan mendirikan sholat Ashar terlebih dahulu sambil menunggu Dodi datang. Sepuluh menit setelah Lana selesai sholat, Dodi datang.

"Maaf nunggu lama. Ini ban motornya bocor. Jadi, harus dibengkel dulu."

"Nggak apa-apa."

"Oke. Ya udah, hayu kita pergi."

"Hayu."

Dodi membonceng Lana meninggalkan pelataran Masjid menuju lokasi Fa'Al dimakamkan.
Suasana pemakaman sore itu sangat lengang. Angin menerpa wajah Lana dengan lembut. Seperti sapaan halus dari yang tak terlihat mata. 

"Assalaamu'alaikum." Ucap Lana lirih.

Lokasi makam Fa'Al agak jauh ke dalam. Kata Dodi, tempat pemakaman ini untuk dua desa. Jadi, banyak sekali makam-makam di sini. Setelah sampai, Dodi memarkir motornya. Kami berjalan menuju makam Fa'Al. Dari kejauhan, Lana melihat gundukan tanah baru. Penuh bunga yang juga terlihat masih baru. Ada bendera-bendera kecil di atas gundukan tanah tersebut. Tanda yang punya makam masih belum menikah. Hati Lana kembali berdegup.

"Apakah benar itu makan Fa'Al?" Bathinnya. Lana masih saja tidak percaya kalau Fa'Al telah tiada. Pikirnya, mungkin salah orang.

"Ini makamnya." Kata Dodi membuyarkan lamunan Lana.
Dodi maju mendekati makam, Lana turut serta di belakangnya. Diejanya deretan huruf di atas permukaan nisan. Lana serasa diguyur air es yang sangat dingin. Benar! Ternyata itu makam Fa'Al.
Lana hanya memandang dengan pandangan sendu dan kosong.

"Tinggal kita menunggu giliran." Hanya itu yang diucapkan Lana kepada Dodi sebelum ia pergi meninggalkan makam tersebut.

###

Kini, sudah hampir satu tahun Fa'Al pulang ke hadapan Ilahi. Terkadang Lana masih tiba-tiba teringat tentang Fa'Al. Ketika Lana berada di tampat yang ramai, Lana menginginkan ada Fa'Al di sana. Sebentar saja, hanya untuk melemparkan senyum padanya. Tapi, Fa'Al tak pernah muncul. Dia tak pernah kembali.

Lana selalu merasa bersalah karena berkali-kali mengacuhkan Fa'Al ketika dia masih hidup. Lana masih sangat ingat ketika kelulusan SMP ada teman perempuannya yang memberikan sesuatu kepada Lana. Sebuah kado dan sebuah surat. Lana tidak langsung membacanya. Sesampainya di rumah, dia baru membuka kado dan membaca suratnya. Lana lupa isi suratnya. Tapi, yang tidak pernah Lana lupa adalah sang penulis surat itu, Fa'Al.
Setelah membaca isi suratnya, Lana memandangi kado itu. Sebuah hiasan meja berbentuk hati. Di dalamnya terdapat cairan berwarna biru dan ada teddy bear di dalamnya. Manis sekali. Senyum Lana mengembang. Tapi, Lana tidak bisa membalas isi surat itu, isi perasaan Fa'Al. Tidak sedikitpun Lana menyukai Fa'Al. Lana hanya menyimpan pemberiannya.
Lana juga masih ingat ketika dia iseng meminta Fa'Al membelikan miniatur biola. Karena dia tahu Fa'Al kuliah di Jogjakarta dan di sana banyak yang menjual kerajinan-kerajinan tangan, termasuk miniatur biola. Tanpa pernah Lana mengharapkan dengan serius, Fa'Al ternyata benar-benar membelikannya. Sebuah meniatur walaupun bukan biola. Tapi, cello. Fa'Al sepertinya tidak mengerti. Tapi, Lana tetap senang. Lana pun menyimpannya dengan sangat hati-hati.

Ada perasaan tidak enak ketika Lana menerima miniatur itu. Walaupun Fa'Al sudah begitu baik padanya, Lana tetap tidak bisa menyukainya. Lana hanya terkesan mempermainkan perasaanya. Tapi, sungguh Lana tidak bermaksud demikian. Lana bingung. Lana yakin Fa'Al sangat menyukainya, bahkan mungkin sangat menyayanginya. Tapi, Fa'Al tidak pernah mengungkapakan perasaannya secara jelas. Hanya bentuk perhatian seperti ini yang Fa'Al berikan. Lana pun tak lantas bertanya secara terang-terangan. Lana hanya menunggu tanpa berharap. Karena Lana takut kalau sampai Fa'Al mengutarakan isi hatinya langsung, Lana justru akan menyakitinya. Jadi, Lana berdo'a agar Fa'Al tidak akan pernah mengutarakan secara langsung. Tersirat saja. Sudah cukup.

###

"Tuhan, bolehkah aku memimpikannya sekali lagi? Aku sudah hampir melupakan caranya berbicara."

Rasa bersalahnya masih sering menggelayuti pikirannya. Lana tahu, Fa'Al adalah lelaki paling setia yang pernah dia kenal. Yang Lana tahu, Fa'Al tidak pernah berpacaran dengan perempuan lain. Fa'Al hanya menunggu Lana. Fa'Al pun tak pernah memaksa Lana untuk mencintainya. Fa'Al hanya diam dengan rasanya. Tapi, Lana justru terus menyakiti hati Fa'Al. Disaat Fa'Al setia menunggunya, Lana malah jadian dengan orang lain. Pasti hati Fa'Al sakit sekali. Tapi, Lana tidak peduli bahwa ada hati yang tersakiti. Dia hanya menikmati masa-masa indah dengan pacarnya. Bahkan setelah Lana putuspun Fa'Al masih setia padanya. Tak ada kabar bahwa Fa'Al memiliki seorang pacar. Setidaknya itu yang Lana tahu. Tapi, Lana kembali menyakiti hati Fa'Al. Lana Jadian dengan Angga. Apa Fa'Al sakit? Mungkin. Lana tak pernah mau ambil pusing. Dia hanya menikmati yang ada. Tidak mengetahui ada hati yang terluka lagi.

###

Ketika pada akhirnya duka itu datang. Lana tidak mengerti tentang perasaannya. Dia sadar, sangat sadar bahwa dia tidak mencintai Fa'Al. Tapi, mengapa dia sering tiba-tiba teringat? Dan rasanya sedih sekali. Lanapun tidak menyesal karena tidak kunjung menerima cinta Fa'Al. Tapi, ketika bayangan Fa'Al muncul di otaknya. Dia tidak bisa berhenti memikirkannya. Rekaman-rekaman memorinya bersama Fa'Al kembali muncul, berulang-ulang. Mambuatnya semakin sedih. Walaupun sebenarnya tidak banyak memori kebersamaannya dengan Fa'Al.

****

"Fa'Al, apakah kamu membawa cintamu untukku sampai bertemu Tuhan. Apa yang kamu utarakan pada Tuhan? Bolehkah aku mengetahuinya? Begitu lama aku menyakitimu sampai kamu akhirnya menyerah pada usia. Berapa tahun kamu menahan rasa, Fa'Al? Berapa? Setahun? Dua tahun? Tidak! Tentunya lebih lama dari itu.
Sampai pindah SMA ke sekolah yang dekat dengan rumahku. Apa kamu sengaja agar kamu bisa sering-sering melihatku? Tidak Fa'Al, aku tidak di rumah. Sekolahku jauh. Kamu tidak tahu, ya? Sekarang aku beritahu.
Hiasan meja dan miniatur cellonya masih aku simpan. Tapi, suratnya sudah hilang sejak lama. Maaf, ya.."

Air mata Lana tak kunjung berhenti. Sesal mencekat tenggorokannya.
Rasanya Lana ingin bertemu sekali lagi dan meminta maaf secara langsung.

"Lihat Fa'Al!! Banyak temanmu yang merasa kehilangn. Aku membacanya di dinding FB kamu. Kata Rommy, dia rindu sama kamu. Dan masih banyak teman kamu yang mengisi dinding FB kamu. Betapa mereka sangat merindukan kamu. Mereka juga upload foto-foto kamu. Aku mengambil satu. Bolehkan? Pasti boleh. Kamu kan orang baik."
Lana semakin terisak.
"Biarkan aku bahagia, ya... Kamu utarakan saja rasamu pada Tuhan. Nanti Tuhan tahu harus bertindak apa. Jangan merasa sakit lagi. Rasa sakitmu sudah melebur jadi satu dengan tanah. Bahagialah."

Terpekur Lana dalam kenangan. Sampai akhirnya dia tertidur pulas.

________________________________________

Dear kamu, yang sudah bertemu Tuhan....

Rasanya masih ingat saat mendengar kabar kamu telah berpulang.
Rasanya biasa saja, tak ada yang hilang.
Tapi, seminggu berselang kamu datang.
Tersenyum riang tanpa perkataan.
Hanya maaf yang bisa aku ucapkan.

Pusara tanah merah penuh kembang.
Aku terpaku hanya memandang.
Cintamu terbang bagai layang-layang tak berbenang.
Gundukan tanah menjulang.

Terukir jelas namamu di permukaan nisan.
Kamukah sang pemilik nisan??
Aku ragu, gemetar hatiku mengeja satu-satu huruf yang terbilang.

Ternyata kamu!!
Yaa!! Kamu! Kamu yang berbaring disitu..
Tubuhmu kaku, nafasmu beku..
Kamu sudah pergi.. Takkan kembali..
Cintamu kini dimakan cacing, ulat tanah, hilang sudah..!!
Semoga kamu tenang disana. Menunggu bidadari menyapa.
Kini kamu sudah tahu apa yang belum aku tahu.

Selamat tinggal..."

Lana meninggalkan secarik kertas di atas pusara Fa'Al. Membiarkannya basah karena hujan dan terbakar sinar mentari.
Agar melebur bersama tanah pusara dan segera sampai ke tujuannya, Fa'Al.

Selamat tinggal Fa'Al. Selamat tinggal cinta sejati.
Terimakasih sudah mampir di halaman hidupku. Kamu bermakna, kamu berarti, kamu berharga.
_____________________________________
Diselesaikan 26Maret2014 : 11:38pm di Hongkong.
#Signature_alQuee_For_Fa'Al#
Dipublikasi ulang di blog ini: PM-JakSel 16 Juli 2016

Link: https://www.wattpad.com/myworks/14088135-fa%27al-kamu-yang-sudah-bertemu-tuhan

0 komentar:

Posting Komentar