
Picture by Google plus Foto Fa'Al (Alm)-diedit by saya
Terinspirasi dari kisah nyata. Yang tentu saja difiksikan. ^.^
"Fa'Al (Kamu, yang sudah bertemu Tuhan)"
adalah tulisan kedua cerita pendek saya. Saya dedikasikan buat sahabat
saya yang sudah lebih dulu pergi menemui Allah (Fahmi Allimuddin)..
"Saya tuliskan ini dengan menahan tangis. Melihat pusara dan nisan
bertuliskan namamu, sungguh membuat saya linglung. Seperti hilang.
Terimakasih sudah mampir di halaman hidup saya. Saya tidak akan pernah
melupakannya."
________________________________________
_D'shortstory#2_
Semoga pembaca ikut merasakan kehilangan yang saya rasakan. Agar tahu arti kepemilikan.
________________________________________
_D'shortstory#2_
Semoga pembaca ikut merasakan kehilangan yang saya rasakan. Agar tahu arti kepemilikan.
Lana terbangun dari
tidur siangnya. Lima belas menit terasa sangat lama. Air matanya
meleleh. Semakin lama semakin deras. Kemudian isaknya mulai terdengar.
Semakin lama semakin kencang.
"Ada apa Lana? Kenapa bangun tidur kamu menangis?"
Ibunya yang sedari tadi sibuk di dapur langsung menghampiri Lana yang sedang terisak.
"Fa'Al bu. Fa'Al tadi dateng di mimpi Lana."
"Lana sih. Katanya mau mengunjungi makamnya. Kenapa nggak jadi?"
"Temen-temen pada repot. Lana gak tau lokasi makamnya."
"Ya sudah tanya saja sama temanmu yang lain. Mungkin ada yang tau."
"Iya bu."
Segera Lana mengambil poselnya di atas meja. Diketiknya sebuah pesan singkat.
"Assalaamu'alaikum. Di, kmu tau kan makam Fa'Al? Kalo kmu ada wktu, anterin aku, ya."
Lima menit kemudian balasan muncul.
"Ok. Tp, skrg aku sibuk. Ntr, klo ada wktu, dikabarin lg. oke??"
"Ok." Ada rasa kecewa di
hati Lana. Tapi, cuma Dodi satu-satunya orang yang bisa mengantar Lana
ke makam Fa'Al. Randy, keponakan Fa'Al sudah kembali ke Jogjakarta,
kuliah.
###
Seminggu yang lalu....
"Ada kabar duka nih dari temen kita." Angga membuka percakapan.
Sore itu Angga mengunjungi rumah Lana.
"Kabar duka dari siapa, Ngga?"
"Temen kita Cahyo meninggal dunia."
"Innalillahi..."
"Emmmm.. Ada satu lagi."
"Satu lagi? Siapa?"
"Fa'Al."
Mendengar nama itu disebut telinga Lana langsung terbuka lebar.
"Fa'Al... Fa'Al temen lana sekelas waktu di kelas satu?"
"Iya, yang pernah suka sama Lana itu loh."
DEGG! Desiran darah Lana
tiba-tiba menjadi deras. Hatinya, jantungnya berdegup kencang. Matanya
nanar. Namun, Lana tidak menangis. Lana hanya kaget, sangat kaget.
Lana berusaha
mengklarifikasi kabar tersebut. Dia menyuruh Angga menanyakan kepada
Dodi perihal ini semua. Dan ternyata benar. Fa'Al sudah tidak ada.
Kecelakaan telah merenggut nyawanya.
Angga
mengelus-elus punggung Lana. Mencoba menenangkan. Angga tahu, Lana tidak
pernah mencintai Fa'Al. Karena kalaulah Lana mencintai Fa'Al, tentunya
Lana kini tidak bersamanya. Tapi, sedang menangis dan mengurung diri
atas kepergian Fa'Al. Tapi, Lana tidak melakukan itu. Lana ada di
sampingnya, menyayanginya. Angga mulai dekat dengan Lana sekitar satu
tahun lalu. Ketika Lana baru putus dengan pacarnya yang dulu. Angga
begitu mencintai Lana. Angga tidak akan sanggup bila harus berpisah
dengan Lana.
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun.
-------
Lana
memberi kabar duka ini kepada teman-temannya lewat jejaring sosial.
Pasalnya lusa akan diadakan reuni sekolah. Lana berharap dia beserta
teman-teman yang lain bisa mengunjungi keluarga dan makam Fa'Al. Lebih
penting lagi, Lana ingin lebih meyakinkan diri apakah Fa'Al benar-benar
telah tiada.
Dua hari berselang..
Sangat
disayangkan. Reuni memang berjalan baik. Tapi, sepertinya tidak ada rasa
antusias dari teman-temannya untuk berkunjung ke rumah duka dan makam
Fa'Al. Mereka bubar jalan. Tak ada yang bisa menyempatkan diri. Lana
kecewa, sangat kecewa. Tapi, apa yang bisa Lana perbuat? Tidak ada.
*****
Hari-hari Lana berjalan
normal setelah kabar duka tersebut. Aktifitasnya lancar seperti biasa.
Sampai seminggu kemudian mimpi itu datang.
###
Ponsel Lana bergetar tanda ada pesan singkat masuk.
"Lana, hri ni aku bisa anter km k mkam Fa'Al. Jam dua siang mpe mlem aku ada di rumah."
"Ok."
Lana bergegas mengganti pakaian dan segera pergi ke tempat Dodi.
Sebelum sampai di tempat
Dodi, Lana mengirimkan pesan singkat yang berisi Lana sudah hampir
sampai dan meminta Dodi menjemputnya di depan Masjid. Lima menit
kemudian Lana sampai. Ponsel Lana bergetar. Ada pesan masuk dari Dodi.
Dodi bilang ban motornya bocor, dia harus pergi ke bengkel dulu. Lana
akhirnya masuk ke Masjid dan mendirikan sholat Ashar terlebih dahulu
sambil menunggu Dodi datang. Sepuluh menit setelah Lana selesai sholat,
Dodi datang.
"Maaf nunggu lama. Ini ban motornya bocor. Jadi, harus dibengkel dulu."
"Nggak apa-apa."
"Oke. Ya udah, hayu kita pergi."
"Hayu."
Dodi membonceng Lana meninggalkan pelataran Masjid menuju lokasi Fa'Al dimakamkan.
Suasana
pemakaman sore itu sangat lengang. Angin menerpa wajah Lana dengan
lembut. Seperti sapaan halus dari yang tak terlihat mata.
"Assalaamu'alaikum." Ucap Lana lirih.
Lokasi makam Fa'Al agak
jauh ke dalam. Kata Dodi, tempat pemakaman ini untuk dua desa. Jadi,
banyak sekali makam-makam di sini. Setelah sampai, Dodi memarkir
motornya. Kami berjalan menuju makam Fa'Al. Dari kejauhan, Lana melihat
gundukan tanah baru. Penuh bunga yang juga terlihat masih baru. Ada
bendera-bendera kecil di atas gundukan tanah tersebut. Tanda yang punya
makam masih belum menikah. Hati Lana kembali berdegup.
"Apakah benar itu makan Fa'Al?" Bathinnya. Lana masih saja tidak percaya kalau Fa'Al telah tiada. Pikirnya, mungkin salah orang.
"Ini makamnya." Kata Dodi membuyarkan lamunan Lana.
Dodi maju mendekati
makam, Lana turut serta di belakangnya. Diejanya deretan huruf di atas
permukaan nisan. Lana serasa diguyur air es yang sangat dingin. Benar!
Ternyata itu makam Fa'Al.
Lana hanya memandang dengan pandangan sendu dan kosong.
"Tinggal kita menunggu giliran." Hanya itu yang diucapkan Lana kepada Dodi sebelum ia pergi meninggalkan makam tersebut.
###
Kini, sudah
hampir satu tahun Fa'Al pulang ke hadapan Ilahi. Terkadang Lana masih
tiba-tiba teringat tentang Fa'Al. Ketika Lana berada di tampat yang
ramai, Lana menginginkan ada Fa'Al di sana. Sebentar saja, hanya untuk
melemparkan senyum padanya. Tapi, Fa'Al tak pernah muncul. Dia tak
pernah kembali.
Lana selalu
merasa bersalah karena berkali-kali mengacuhkan Fa'Al ketika dia masih
hidup. Lana masih sangat ingat ketika kelulusan SMP ada teman
perempuannya yang memberikan sesuatu kepada Lana. Sebuah kado dan sebuah
surat. Lana tidak langsung membacanya. Sesampainya di rumah, dia baru
membuka kado dan membaca suratnya. Lana lupa isi suratnya. Tapi, yang
tidak pernah Lana lupa adalah sang penulis surat itu, Fa'Al.
Setelah membaca isi
suratnya, Lana memandangi kado itu. Sebuah hiasan meja berbentuk hati.
Di dalamnya terdapat cairan berwarna biru dan ada teddy bear di
dalamnya. Manis sekali. Senyum Lana mengembang. Tapi, Lana tidak bisa
membalas isi surat itu, isi perasaan Fa'Al. Tidak sedikitpun Lana
menyukai Fa'Al. Lana hanya menyimpan pemberiannya.
Lana juga masih ingat
ketika dia iseng meminta Fa'Al membelikan miniatur biola. Karena dia
tahu Fa'Al kuliah di Jogjakarta dan di sana banyak yang menjual
kerajinan-kerajinan tangan, termasuk miniatur biola. Tanpa pernah Lana
mengharapkan dengan serius, Fa'Al ternyata benar-benar membelikannya.
Sebuah meniatur walaupun bukan biola. Tapi, cello. Fa'Al sepertinya
tidak mengerti. Tapi, Lana tetap senang. Lana pun menyimpannya dengan
sangat hati-hati.
Ada perasaan tidak enak
ketika Lana menerima miniatur itu. Walaupun Fa'Al sudah begitu baik
padanya, Lana tetap tidak bisa menyukainya. Lana hanya terkesan
mempermainkan perasaanya. Tapi, sungguh Lana tidak bermaksud demikian.
Lana bingung. Lana yakin Fa'Al sangat menyukainya, bahkan mungkin sangat
menyayanginya. Tapi, Fa'Al tidak pernah mengungkapakan perasaannya
secara jelas. Hanya bentuk perhatian seperti ini yang Fa'Al berikan.
Lana pun tak lantas bertanya secara terang-terangan. Lana hanya menunggu
tanpa berharap. Karena Lana takut kalau sampai Fa'Al mengutarakan isi
hatinya langsung, Lana justru akan menyakitinya. Jadi, Lana berdo'a agar
Fa'Al tidak akan pernah mengutarakan secara langsung. Tersirat saja.
Sudah cukup.
###
"Tuhan, bolehkah aku memimpikannya sekali lagi? Aku sudah hampir melupakan caranya berbicara."
Rasa bersalahnya masih
sering menggelayuti pikirannya. Lana tahu, Fa'Al adalah lelaki paling
setia yang pernah dia kenal. Yang Lana tahu, Fa'Al tidak pernah
berpacaran dengan perempuan lain. Fa'Al hanya menunggu Lana. Fa'Al pun
tak pernah memaksa Lana untuk mencintainya. Fa'Al hanya diam dengan
rasanya. Tapi, Lana justru terus menyakiti hati Fa'Al. Disaat Fa'Al
setia menunggunya, Lana malah jadian dengan orang lain. Pasti hati Fa'Al
sakit sekali. Tapi, Lana tidak peduli bahwa ada hati yang tersakiti.
Dia hanya menikmati masa-masa indah dengan pacarnya. Bahkan setelah Lana
putuspun Fa'Al masih setia padanya. Tak ada kabar bahwa Fa'Al memiliki
seorang pacar. Setidaknya itu yang Lana tahu. Tapi, Lana kembali
menyakiti hati Fa'Al. Lana Jadian dengan Angga. Apa Fa'Al sakit?
Mungkin. Lana tak pernah mau ambil pusing. Dia hanya menikmati yang ada.
Tidak mengetahui ada hati yang terluka lagi.
###
Ketika pada
akhirnya duka itu datang. Lana tidak mengerti tentang perasaannya. Dia
sadar, sangat sadar bahwa dia tidak mencintai Fa'Al. Tapi, mengapa dia
sering tiba-tiba teringat? Dan rasanya sedih sekali. Lanapun tidak
menyesal karena tidak kunjung menerima cinta Fa'Al. Tapi, ketika
bayangan Fa'Al muncul di otaknya. Dia tidak bisa berhenti memikirkannya.
Rekaman-rekaman memorinya bersama Fa'Al kembali muncul, berulang-ulang.
Mambuatnya semakin sedih. Walaupun sebenarnya tidak banyak memori
kebersamaannya dengan Fa'Al.
****
"Fa'Al, apakah kamu
membawa cintamu untukku sampai bertemu Tuhan. Apa yang kamu utarakan
pada Tuhan? Bolehkah aku mengetahuinya? Begitu lama aku menyakitimu
sampai kamu akhirnya menyerah pada usia. Berapa tahun kamu menahan rasa,
Fa'Al? Berapa? Setahun? Dua tahun? Tidak! Tentunya lebih lama dari itu.
Sampai pindah SMA ke
sekolah yang dekat dengan rumahku. Apa kamu sengaja agar kamu bisa
sering-sering melihatku? Tidak Fa'Al, aku tidak di rumah. Sekolahku
jauh. Kamu tidak tahu, ya? Sekarang aku beritahu.
Hiasan meja dan miniatur cellonya masih aku simpan. Tapi, suratnya sudah hilang sejak lama. Maaf, ya.."
Air mata Lana tak kunjung berhenti. Sesal mencekat tenggorokannya.
Rasanya Lana ingin bertemu sekali lagi dan meminta maaf secara langsung.
"Lihat Fa'Al!! Banyak
temanmu yang merasa kehilangn. Aku membacanya di dinding FB kamu. Kata
Rommy, dia rindu sama kamu. Dan masih banyak teman kamu yang mengisi
dinding FB kamu. Betapa mereka sangat merindukan kamu. Mereka juga
upload foto-foto kamu. Aku mengambil satu. Bolehkan? Pasti boleh. Kamu
kan orang baik."
Lana semakin terisak.
"Biarkan aku bahagia,
ya... Kamu utarakan saja rasamu pada Tuhan. Nanti Tuhan tahu harus
bertindak apa. Jangan merasa sakit lagi. Rasa sakitmu sudah melebur jadi
satu dengan tanah. Bahagialah."
Terpekur Lana dalam kenangan. Sampai akhirnya dia tertidur pulas.
________________________________________
Dear kamu, yang sudah bertemu Tuhan....
Rasanya masih ingat saat mendengar kabar kamu telah berpulang.
Rasanya biasa saja, tak ada yang hilang.
Tapi, seminggu berselang kamu datang.
Tersenyum riang tanpa perkataan.
Hanya maaf yang bisa aku ucapkan.
Pusara tanah merah penuh kembang.
Aku terpaku hanya memandang.
Cintamu terbang bagai layang-layang tak berbenang.
Gundukan tanah menjulang.
Terukir jelas namamu di permukaan nisan.
Kamukah sang pemilik nisan??
Aku ragu, gemetar hatiku mengeja satu-satu huruf yang terbilang.
Ternyata kamu!!
Yaa!! Kamu! Kamu yang berbaring disitu..
Tubuhmu kaku, nafasmu beku..
Kamu sudah pergi.. Takkan kembali..
Cintamu kini dimakan cacing, ulat tanah, hilang sudah..!!
Semoga kamu tenang disana. Menunggu bidadari menyapa.
Kini kamu sudah tahu apa yang belum aku tahu.
Selamat tinggal..."
Lana meninggalkan secarik kertas di atas pusara Fa'Al. Membiarkannya basah karena hujan dan terbakar sinar mentari.
Agar melebur bersama tanah pusara dan segera sampai ke tujuannya, Fa'Al.
Selamat tinggal Fa'Al. Selamat tinggal cinta sejati.
Terimakasih sudah mampir di halaman hidupku. Kamu bermakna, kamu berarti, kamu berharga.
_____________________________________
Diselesaikan 26Maret2014 : 11:38pm di Hongkong.
#Signature_alQuee_For_Fa'Al#
Dipublikasi ulang di blog ini: PM-JakSel 16 Juli 2016
Link: https://www.wattpad.com/myworks/14088135-fa%27al-kamu-yang-sudah-bertemu-tuhan
0 komentar:
Posting Komentar