Satu
Mulai
hari ini, aku resmi menjadi siswi SMP. Selain merasa lebih dewasa,
rasanya aneh bertemu dengan orang-orang baru yang sebagian besar
tidak pernah aku kenal sebelumnya. Aku
lulus tes masuk SMP ini dan masuk di kelas A, yang kata orang
merupakan kelas unggulan. Namun, bagiku masuk kelas mana pun tidak
masalah selama
aku bisa sekolah. Suasana di
sini tidak jauh berbeda dengan SDku dulu, yang membedakan hanya
seragam, dari putih-merah menjadi putih-biru dan
tentunya teman-teman baru.
“Hey!
Boleh aku duduk di sebelahmu?” Suara itu membuyarkan lamunanku.
“Ehmmm...,
boleh. Silakan!”
“Aku
Sasa. Kamu?” tanyanya sembari mengulurkan tangannya. Aku bingung.
Tapi, pada akhirnya aku balas uluran tangannya.
“Akuuu...
Ajeng.”
Mulai
sekarang, Sasa akan menjadi teman sebangkuku. Teman pertama yang
mengajakku berkenalan dan mengobrol. Aku merasa kalau Sasa adalah
anak yang baik, asyik diajak berbicara, manis dan lucu. Tapi, kalau
urusan cerewet, tentu saja aku ahlinya. Perkenalan dan obrolanku
dengan Sasa harus terhenti karena aku melihat satu sosok yang tidak
asing lagi menutupi pandanganku.
“EGIII?!!!”
♔♔♔
Semangatku
tak pernah pudar untuk tetap berangkat sekolah. Walaupun pada
kenyataannya, sikap Egi benar-benar tidak sejalan dengan pikiranku.
Egi yang dulu aku harapkan akan manis padaku, ternyata dia berbeda
180 derajat. Kami sangat tidak bisa akur. Ya, sudahlah, mau diapakan
lagi kalau yang terjadi justru sebaliknya. Setiap hari perang mulut
selalau saja terjadi. Egi semakin bertambah usil tiap harinya,
menyebalkan dan selalu menggerutu tiap kali aku maju menjawab
pertanyaan yang diajukan guru.
“Orang,
tuh, ya, ada malunya dikit napa? Masa setiap pertanyaan guru maunya
kamu doang yang jawab. Emangnya di kelas ini siswanya cuma kamu?”
ejek Egi.
“Ya
biarin aja. Kalau kamu emang bisa jawab pertanyaan guru, ya, yinggal
jawab aja. Gitu aja, kok, repot!” Suaraku meninggi, aku kesal bukan
main.
“Ilmu
itu seperti pakaian dalam. Semua orang memilikinya. Tapi, nggak bisa
dipamerin sesuka hati, seenak jidat.” Dia kembali berteori.
Membuatku semakin kesal.
“Apa?!
Terserah aja, deh. Lagian menjawab peratanyaan guru itu adalah hak
semua siswa, termasuk aku. Dan... WHAT I WANNA DO, JUST DO WHAT I
WANT!” Kutinggikan nada bicaraku.
“Dasar
pamer! Pergi sana ke galeri atau pameran!” ucap Egi sebelum akhir
dia pergi keluar kelas.
“Usil
banget, sih, tuh, anak!” gerutuku sambil mencari-cari dompetku
dalam tas. “Ke mana, sih, dompet? Ya ampuuunnn....”
Ternyata
dompetku tertinggal di ruang tamu rumah. Aku lupa membawanya karena
terlalu sibuk menyiapkan bahan diskusi hari ini. Dan parahnya, ketika
aku merogoh saku baju, yang tersisa hanya lima ratus rupiah. Mampus!
Pulang pake apaan? Aku akhirnya
pasrah dan terduduk di kursi sambil menahan kesal. Kesal karena
pertengkaranku denga Egii dan kesal karena kecerobohanku, sehingga
dompet tertinngal.
“Kenapa,
Jeng? Kok manyun gitu?” Sasa datang memergokiku tengan
memmonyongkan bibir.
“Dompetku
ketinggalan di rumah. Gimana pulangnya?” Setengha menangis aku
bercerita.
“Mau
pinjam punyaku?” tawar Sasa.
“Nggak
usah, Sa. Kalo kamu minjemin aku, kamu sendiri gimana baliknya?”
“Eeemmm...,
iya juga, sih.”
Aku
hanya tersenyum kecut atas kebodohanku. Aku tahu benar, bahwa
kehidupanku tidak terlalu berada. Namun, jika dibandingkan dengan
kehidupan Sasa, aku jauh lebih beruntung. Tidak lama setelah ibunya
meninngal, ayahnya kabur entah ke mana. Dia harus rela melenyapkan
waktu bermainnya dengan bekerja setelah pulang sekolah. Semua itu
demi mencukupi hidup dirinya dan kedua orang adiknya yang masih
kecil. Saat Sasa berangkat sekolah, kedua adiknya dititipkan di
tetangga. Sasa rela bekerja apa saja agar dia dan adik-adiknya dapat
makan dengan layak.
Sekali
pun hidupnya sangat berat dijalani, Sasa tak pernah mengeluh kepada
teman-teman. Hanya sesekali saja kepadaku. Munkin, karena aku sudah
dianggap sebagai sahabatnya.Ketika ingat semua tentang Sasa, aku
merasa sangat tidak berguna. Aku merasa terpojok dan keci sekali.
Sasa, tanpa dia menggerutuiku yang kadang masih suka protes jika
diberi uang saku sedikit, tanpa dia sadari, aku belajar banyak hal
dari sikap dan sifatnya. Terima kasih, Sasa. Aku
melihat Egi masuk ke kelas dengan wajah sok cuek. Dia melihatku
sebentar, lalu membuang pandangannya ke depan.
“Kalian
itu cocok.” Sasa terkekeh melihatku cemberut.
“COCOK?!
Cocok dilihat dari Monas menggunakan sedotan dan kemudian jatuh
telungkup ke tanah?” timpalku sambil ikut tertawa.
♔♔♔
Bel
tanda pulang sekolah berbunyi, aku masih duduk di dalam kelas. Satu
per satu teman-temanku meningalkan kelas untuk pulang ke rumah
masing-masing. Aku melihat Egi tengah membereskan peralatan
tulis-menulisnya. Aku memerhatikan punggungnya dari bangkuku.
Berharap ada keajaiban, Egi menghampiriku dan bertanya dengan manis.
Lalu, mengantarkanku pulang. Tapi, kenyataan yang terjadi padaku,
apalagi yang berkenaan dengan Egi selalu saja pahit. Boro-boro Egi
menghampiri dan mengantarku pulang, menengok saja tidak. Dia ngeloyor
pergi tanpa menoleh ke arahku. Sadis!
Aku
melihat sekeliling sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Aku sendirian.
Aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. Tentang hantu, dan sebagainya.
Hantu di lingkungan sekolah selalu lebih menyeramkan dibanding hantu
yang berkeliaran di area makam, bagiku. Hiiiy. Aku begidik.
Lalu, segera keluar dari kelas dengan langkah lebar-lebar.
“Kok,
baru keluar kelas?”
Sungguh,
aku hampir pingsan dengan jantung melompat sempurna melalui mulut,
lalu, berguling ke lantai, lalu, mendebam tanah dan kembali
terguling-guling sampai akhinya masuk ke dalam got berisi air 'super
jernih' itu, kalau saja orang yang mengagetkaku barusan tidak
menopangku.
“Ada
tugas yang harus diselesaikan dulu? Atau merapikan catatan?”
Ternyata itu Kak Doni, kakak kelas dari kelas tiga. Dia adalah
sahabat dari Kak Beno, orang yang aku sukai sejak MOS.
“Eh,
nggak,” jawabku tergagap.
Kami
berjalan menuju gerbang sekolah bersama. Dalam perjalanan, Kak Doni
masih saja menanyaiku ini dan itu. Kadang, dia juga menyebut nama Kak
Beno. Ah! Pipiku memanas setiap kali nama Kak Beno disebut.
“Wah,
pipimu memerah. Lucu. Pantesan aja Beno selalu bilang kamu mirip
boneka Jepang?” Hah?! Boneka Jepang?
“Mungkin
karena panas saja,” kataku sekenanya.
“Iya
juga, sih. Hari ini panas. Padahal udah agak sore, ya?”
“Eh,
iya.”
Kak
Doni celingukan mencari sesuatu.
“Kalo
ada angkot, langsung naik aja, ya?! Panas banget. Nanti, bukan cuma
wajahmu yang memerah, tapi juga semua kulitmu memerah dan itu tak
akan lucu lagi.” Kak Doni terkekeh atas perkataannya sendiri. Sial!
Sekitar lima menit menunggu, akhirnya angkot datang juga. Aku
belingsatan. Rasanya aku mau lari saja dari Kak Doni. Tapi, tanganku
ditariknya dan aku dipaksa masuk ke dalam angkot. Apa-apaan
ini?Hadeeeh!
“Pak,
ini bayarnya dia.” kata Kak Doni menyodorkan lembaran uang ke sopir
sambil menyiratkan bahwa ongkos itu untukku.
Aku
salah tingkah, di satu sisi aku malu bukan main karena haru diongkosi
oleh Kak Doni. Di sisi lain, aku selamaaattt. Terima kasih, Tuhan.
Kulihat tubuh Kak Doni perlahan mengecil, karena angkot yang
kutumpangi mulai bergerak. Rumah Kak Doni berbeda arah dengan
rumahku. Dia biasa menaiki sepeda pergi-pulang sekolah.
“Pulang
juga?” Suara itu? “Kirain
mau nginep semalam suntuk di kelas. Atau mau gantiin satpam jaga
malem?”
“Egi?”
Aku
mencoba senetral mungkin, walaupun kenyataannya aku kaget bercampur
heran. Perasaan Egi udah pulang dari tadi. Kenapa?
“Kenapa,
kehilangan?” tanya Egi dengan ekspresi datar, tapi seolah meledek.
“Idih,
pede banget! Eh, bentar, deh. Perasa kamu udah pulang dari tadi.
Kenapa malah jadi pulang bareng gini, sih? Jangan ilang kalo kamu...”
“Jangan
ge-er!” Raut mukanya seperti orang baru tertangkap basah mencuri
sesuatu, namun bisa ditutupinya segera.
“Bodo!
Lagian bukan urusanku. Terserah kamu mau pulang apa nginep atau mau
gantiin satpam jagain sekolah malem hari.” Aku meng-copy-paste
ucapannya.
Aku
kembali menatap lurus ke depan. Pikiranku masih terbayang obrolanku
dengan Kak Doni, tentang Kak Beno yang ternyata suka bercerita pada
Kak Doni tentangku dan mukaku kembali memerah saat mengingat Kak Doni
bilang kalau aku manis.
“Ayam
tetanggaku pasti sering mati karena kamu sering melamun begini,”
ujar Egi tiba-tiba. Dia melewatiku dan turun dari angkot. Apa? Egi
Turun? Tepat saat angkot akan melaju kembali, aku bergegas lompat
dari angkot dan hanpir saja jatuh kalau saja Egi tidak menahanku.
“Kali
ini dua puluh ayam tetanggaku bakal mati sia-sia,” tukasnya lalu
pergi meninggalkan aku yang masih mematung di tempat.
Setelah
sekitar dua menit Egi menghilang, aku tersadar dan buru-buru lari ke
arah rumahku. Harusnya aku turun lebih dulu dibandingkan Egi. Rumahku
dan rumah Egi terpaut agak jauh. Karena kecerobohanku inilah aku
harus bekerja dua kali. Fiuuuh..., merepotkan. Tapi, entah
kenpa aku justru tersenyum. Senyum yang entah ditujukan untuk siapa.
Kak Beno, Kak Doni, atau Egi? Entahlah!
♔♔♔

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusJadwal POS CETAR ini setiap Malam Minggu. Biarin, dah, saya mah baik. Pan yang jones, ijo lumut, joker, jotar atau apalah itu namenye kesepian kalo malming gicuuu. Sebagai hiburan, ya baca ini aja. (kikikiiikkkk, bukannya bakal nambah galaooo, ya). Kabuuurrrrr....
BalasHapus